The Indigo Twins

The Indigo Twins
Aib yang tersembunyi



Senyum mengambang di wajah Alisa mendengar hal itu.


"Akhirnya Aliza mau juga memperbolehkan aku untuk datang ke danau lagi, setelah sekian lama aku tidak ke sana lagi" kata Alisa pelan, ia begitu senang sekali.


"Sebelum itu kita harus siapin peralatan buat masak-masak di danau" kata ku.


"Oke" jawab mereka.


Kami membawa alat panggang, karpet plastik, bumbu-bumbu serta peralatan lainnya dan juga tak lupa ikan yang di tangkap oleh Arif.


"Semuanya sudah siap?" tanya ku.


"Sudah, semuanya sudah lengkap, hanya tinggal minta izin sama bunda dan ayah saja yang belum" jawab Angkasa.


"Itu masalah gampang, biar aku yang akan handle" kata Alisa.


"Bunda kita mau danau ya" teriak Alisa dari luar rumah.


Bunda yang mendengar teriakan itu langsung keluar dan berdiri di dekat pintu melihat ke arah kami semua yang sudah siap untuk pergi ke danau.


"Iya, awas jangan hilang lagi, bunda gak mau kejadian hilangnya Aliza dan Angkasa terjadi lagi kepada kalian" jawab bunda.


"Tenang Bun, ada Reno mereka gak akan hilang kok, hantu takut sama Reno" kata Reno.


"Awas nanti ada mbk Gea lagi loh ya" kata Alisa menakut-nakuti Reno.


Reno diam mematung mendengar nama hantu yang sudah berhasil membuatnya panas dingin tanpa sebab.


Melihat ekspresi Reno yang berubah total kami tambah tertawa terbahak-bahak melihat Reno yang tak mengeluarkan suara sedikitpun.


"Diam, ayo ah kita berangkat" ajak Reno yang telinganya sudah panas saat kami terus saja menertawainya.


Reno berjalan tanpa kenal arah.


"Eeh bukan lewat situ" teriak Angkasa.


Reno langsung menghentikan langkahnya dan melihat ke arah kami semua.


"Terus yang mana?" tanya Reno.


"Lewat situ" tunjuk Alisa ke arah jalanan menuju danau.


Aku memimpin jalan yang lainnya mengikuti ku dari belakang.


Reno langsung berlari mengejar kami.


Pelan-pelan kami yang terdiri dari satu paket lengkap mulai dari yang indigo, anak biasa hingga ke makhluk tak kasat mata berbondong-bondong datang ke danau.


Posisi danau tak jauh dari rumah kami sehingga kami tak membutuhkan banyak keringat untuk mendatanginya.


Kami sampai di danau.


Alisa yang sudah lama tak pernah ke danau berlari ingin menceburkan dirinya ke dalam air danau.


"Eh mau kemana?" tanya ku yang dengan cepat menarik baju Alisa yang hampir saja ingin menceburkan diri ke dalam danau.


Senyum manis terukir di wajah Alisa kala apa yang dia inginkan dapat terkabulkan.


"Plis boleh ya aku mandi" kata Alisa.


Mata Alisa berkedip-kedip ingin di izinkan untuk mandi di air danau yang segar dan bersih itu.


"Tak boleh" jawab ku tegas.


Seketika senyum di wajah Alisa langsung menghilang, ia lalu mendekati Reno dan duduk di sampingnya dengan wajah yang di tekuk.


"Dasar anak itu" kata ku pelan yang melihat dia yang sudah cemberut karena keinginannya tidak tersampaikan.


Aku memberikan Alisa seperti itu yang penting dia tidak menghancurkan danau yang sudah aku jaga baik-baik selama ini.


"Kok Alisa ngambek, kenapa dia?" tanya Angkasa.


"Dia begitu karena aku tidak mau ngizinin dia buat mandi di danau" jawab ku.


"Kenapa kamu gak mau ngizinin?" tanya Reno.


Alisa yang mendengar itu semua berusaha menutup telinga yang mulai panas.


"Tak cuman itu, Alisa juga pernah membuat air danau menjadi keruh hanya karena dia ingin menangkap ikan, namun ikan tidak dia dapatkan dan tanpa dia sadari ulahnya sudah membuat air danau menjadi keruh, dari situlah aku tidak mau ngizinin dia lagi buat datang ke danau" jelas ku.


"Itu kan dulu, pas aku masih kecil" jawab Alisa.


"Halah masih kecil konon, orang kamu ngelakuin itu pas masih kelas 3 SMP semester akhir" bantah ku.


Dengan cepat Alisa langsung berdiri dari duduknya.


"Eh kenapa kamu bilang, itu aib" teriak Alisa mendekati ku.


Aku langsung berlari menghindari dia yang seperti kucing garong karena merasa sangat malu.


"Biarin, biar kamu tau rasa haha" jawab ku masih terus berlari untuk menghindari dia.


"Jangan pergi, aku akan balas kau ya, biar kau tau rasa, dasar adik tidak berguna" kata Alisa tidak terima.


Alisa terus mengejar ku yang terus berlari menghindarinya dengan tawa yang mengiringi langkah kami.


"Haduh anak-anak ini, ada-ada saja" kata Ustadz Fahri geleng-geleng kepala melihat tingkah kami.


"Tunggu-tunggu danau ini seperti tidak asing, di mana ya aku melihatnya, oh di alam mimpi, iya aku lihat pak Beni berpamitan di alam mimpi dan lokasinya persis di danau ini, pohon dan semuanya sama, pantesan aku merasa tidak asing dengan danau ini" batin Reno yang memperhatikan danau ini.


"Berhenti jangan pergi" teriak Alisa yang masih berusaha untuk menangkap ku.


"Hahaha"


Tawa ku terus berlari menjauhinya yang masih tidak bisa menangkap ku.


"Eh kalian jangan pada kejar-kejaran, ini gimana" kata Angkasa.


Kami langsung menghentikan langkah dan mendekati mereka semua.


"Apanya yang gimana?" tanya ku.


Angkasa menghela napas, ia malas menjelaskan panjang lebar.


"Kayaknya ikannya akan kurang deh sa, kamu tangkap ikan gih ssns" tintah ku.


"Aku, kamu nyuruh aku" girang Alisa langsung berbinar-binar.


"Bukan kamu, tapi Angkasa bukan Alisa, paham" jawab ku.


"Ish ayolah za, aku pengen banget nangkap ikan, ya ya" mohon Alisa.


"Tak boleh, kamu duduk manis aja di sini, gak usah banyak tingkah, bantuin aku buat bumbu aja, gak usah tangkap ikan, biarkan aja Angkasa sama ustadz Fahri yang tangkap" jawab ku.


Alisa mengendus kesal.


"Ya udah deh" pasrah Alisa.


Kami semua mulai piknik di danau.


Angkasa dan Ustadz Fahri menangkap ikan di danau hijau.


Alisa dan Reno membersihkan sisik-sisik ikan mas, para mbak-mbak sosialita berdaster putih hingga merah sedang singgah di atas pohon di pinggir danau sedangakan ketiga bocah cilik itu tengah duduk-duduk di pinggir danau, kaki mereka masuk ke dalam air danau yang dingin.


"Itu ikannya lucu-lucu tau, beda sama yang di kolam, di sini ada banyak jenisnya, gak satu warna, kalau di kolam sedikit warnanya, aku lebih suka yang di sini" kata Rani.


"Kita tangkap yuk" ajak Arif.


Suara Arif terdengar jelas di telinga ku yang sedang membuat bumbu, aku melihat ketiga bocah yang sedang asik melihat ikan-ikan yang mengerumuni kakinya.


"Jangan, diam aja di situ, kalian gak usah tangkap, nanti kakak yang ambilin aja" larang ku.


"Kak Liza nanti boleh gak kita mandi di air terjun, soalnya Rani pengen banget mandi di air terjun, Rani gak pernah mandi di sana loh kak, boleh ya" tintah Rani.


"Iya, tapi nanti" jawab ku.


Senyum mengambang di wajah ketiga bocah itu.