
Roki memutari tubuh ku ia masih tidak percaya jika orang yang ia lihat saat ini beneran aku.
"Ini beneran kamu za?" tanya Roki dengan memegang tangan ku.
Aku menepis tangan Roki yang sudah menyentuh tangan ku tanpa seizin ku.
"Iya aku benaran Aliza, emang kamu nganggep aku apa?" tanya ku.
"Pujaan hati" jawab Roki.
Aku menghela napas mendengar gombalan kentangnya di pagi hari seperti ini.
Aku mendorong kecil tubuh Roki yang masih tersenyum lebar.
"Minggir aku mau lewat"
Roki menyingkir, aku dengan santai duduk di bangku ku.
Angkasa menatap Roki dengan tatapan maut.
"Apa dia bilang, pujaan hati, wah nih anak, mencari petaka aja, awas aja sampai dia berani rebut Aliza dari aku, akan ku makan dia hidup-hidup" batin Angkasa yang tidak suka pada Roki.
"Ape?" tanya Roki dengan berkacak pinggang.
Roki memberikan tatapan tajam pada Angkasa.
Angkasa tak meladeni Roki ia duduk di samping ku dengan tenang.
"Angkasa kamu hilang kemana?" tanya Wendy dan kawan-kawannya yang mendekati kami berdua.
"Iya kamu hilang kemana sih sa selama ini?"
"Aku khawatir tau sama kamu"
Berbagai pertanyaan dari cewek-cewek di hadapan kami terus saja terdengar.
Angkasa tidak menjawab, ia menjadi tak nyaman di kerumuni oleh mereka semua.
"Kenapa hari ini aku begitu sial sekali" batin Angkasa.
"Angkasa kamu hilang kemana selama ini, siapa yang sudah nyulik kamu?" tanya Wendy.
"Gak ada yang nyulik aku" jawab Angkasa.
"Kalau gak ada yang nyulik kamu, kenapa kamu bisa hilang?" tanya Wendy.
Angkasa tidak menjawab, ia malah menjelaskan kronologisnya karena Wendy juga tidak akan percaya jika ia menjelaskan segalanya.
"Aliza pindah gih, aku mau duduk sama Angkasa" tintah Wendy.
Aku hendak berdiri dari duduk ku.
Tiba-tiba Angkasa langsung menggenggam erat tangan ku.
"Jangan kemana-mana"
Aku mengangguk dan tetap diam di tempat.
Angkasa menatap mereka semua yang sudah kesal.
"Ayolah Angkasa, aku ini anak kepala sekolah loh, nanti aku aduin ke mami biar kalian di hukum" ancam Wendy.
Angkasa tertawa paksa.
"Mau kamu aduin kek, aku gak peduli, pergi-pergi sana, bikin pengap aja" usir Angkasa.
"Iih awas ya kamu" kesal Wendy.
Wendy dan kawan-kawannya pergi meninggalkan kami berdua dengan sangat kesal.
Pelajaran di mulai.
Selama pelajaran berlangsung Angkasa masih tak mau melepaskan genggaman tangannya yang memegang tangan ku sampai pelajaran selesai.
"Ks kantin yuk" ajak ku.
"Kok tumben ke kantin?" tanya Angkasa.
"Hari ini kan gak ada bunda, jadi aku gak bawa bekal, terpaksa kita makan di kantin aja" jawab ku.
"Ya udah, ayo kita ke sana" setuju Angkasa.
Kami berdua berjalan menuju kantin yang tak seberapa jauh itu.
Saat sampai di kantin kami memesan makanan.
Kami yang tengah menunggu makanan datang melihat ke arah orang yang berdiri di samping ku.
"Kenapa?" tanya ku.
"Boleh gabung gak?" tanya Reno.
"Gabung aja gak apa-apa" jawab Angkasa.
Mereka berdua lalu duduk satu meja dengan kami.
"Sa saat aku gak ada, kamu gak ketemu sama makhluk halus?" tanya ku.
"Enggak, entah kenapa aku gak ketemu sama sekali sama makhluk halus, seketika semua makhluk halus yang biasanya ingin meminta bantuan pada gak ada, aku juga merasa aneh, kenapa mereka gak datangin aku, tapi alhamdulilah juga karena aku gak terbebani dengan mereka" jawab Angkasa.
"Mungkin memang makhluk halus ngerti kali kalau kamu gak akan mau bantuin dia" kata ku.
"Iya sih, kalaupun ada yang minta bantuan, aku pasti gak akan bantuin karena gak ada kamu, mana mau aku bantuin hantu sendirian, aku kan penakut"
jawab Alisa.
"Kamu harus belajar berani, mereka itu gak akan nyelakain kamu" kata ku.
"Tapi za yang namanya hantu itu beragam, ada yang baik, ada pula yang jahat, jadi aku waspada aja, karena aku gak mau di celakain sama hantu" jawab Alisa.
"Kenapa wajah kamu kok kayak masam gitu?" tanya Angkasa.
"Aku kangen berpetualang, udah lama rasanya aku gak lagi ngurus kasus-kasus gaib, aku kan jadi rindu" jawab ku.
"Manusia yang aneh" batin Alisa tak habis pikir.
"Tapi za sekarang ini gak ada bunda, kita harus urus restoran, jika kita berpetualang, otomatis restoran gak ke urus" kata Alisa.
"Iya sih, nanti kapan-kapan kita susul ayah dan bunda, aku juga kepo bagaimana dengan cabang restoran Qien" jawab ku.
"Iya" setuju mereka semua.
Pesanan pun datang, kami menikmati hidangan dengan nikmat.
Setelah selesai makan kami keluar dari dalam kantin dan mendekati balkon.
"Kita kemana lagi nih?" tanya Reno.
"Ke taman yuk" ajak Alisa.
"Nanggung bentar lagi pasti bel, kita diam aja di sini dulu, percuma kita ke taman" jawab ku.
Kami berempat berdiri di balkon dengan menatap banyaknya anak-anak yang berada di bawah.
Tiba-tiba pandangan ku tertuju pada anak perempuan yang sebaya dengan ku tapi wajahnya terlihat pucat seperti tak teraliri darah tengah berdiri di dekat tiang bendera.
"Eh siapa itu?" tanya ku.
"Mana?" tanya mereka kompak.
"Itu" tunjuk ku pada gadis pucat itu.
"Pucat sekali wajah gadis itu, kenapa dia ya?" tanya ku.
"Gak tau, apa mungkin dia habis di hukum sehingga wajahnya berubah menjadi pucat" pikir Alisa.
"Mungkin aja sih, tapi kenapa dia kayak anak pendiam, lihat dia gak nimbrung sama kayak teman-temannya" kata Angkasa yang merasa aneh.
Gadis pucat itu hanya berdiri, di kanan dan kirinya ada beberapa anak yang sebaya dengannya.
"Mana sih yang kalian maksud, kenapa aku gak lihat?" tanya Reno.
"Itu loh gadis pucat yang berdiri di dekat tiang bendera masa kamu gak lihat" jawab Alisa.
"Yang mana, yang berdiri di dekat tiang bendera itu gak cuman satu" kata Reno.
Anak perempuan yang tadi berada di dekat tiang bendera pergi dan hanya tersisa gadis pucat itu yang masih berada di sana.
"Nah itu teman-temannya pada pergi semua, hanya tersisa dia yang ada di sana, kamu tau kan sekarang dia yang mana" kata Alisa.
Reno menajamkan pengelihatannya.
"Mana, gak ada apapun di sana, cuman tiangnya aja yang terlihat" kata Reno.
"Kok Reno gak bisa lihat gadis pucat itu, apa mungkin dia bukan manusia" kata ku.
"Ku rasa memang iya za, gadis itu wajahnya pucat banget, masuk akal sih kalau dia bukan manusia" jawab Angkasa.
"Eh tapi dia meninggal kenapa, apa dia murid di sekolahan ini atau tidak?" tanya Alisa.