
Kami melangkah mendekati rumah ibu-ibu tempat motor kami di titipkan.
"Itu kenapa kok pak Tresno di bawa sama polisi, apa yang sudah dia lakukan?" tanya ibu itu.
"Beliau membunuh orang, sekarang beliau sudah di amankan oleh pihak kepolisian" jawab Ustadz Fahri.
"Ya Allah gak nyangka pak Tresno bisa sekeji itu, ibu baru tau kalau di belakang rumahnya ada mayat" shock ibu itu.
"Kami juga tidak menyangka Bu" jawab Alisa.
"Terimakasih Bu sudah berkenan menjaga motor kami, maaf kami tidak bisa lama-lama karena setelah ini ada urusan yang harus kami selesaikan, kami pamit dulu assalamualaikum" kata Ustadz Fahri.
"Wa'alaikum salam" jawab ibu itu.
Angkasa Reno dan Ustadz Fahri mengendari motor meninggalkan rumah ibu dengan senyuman ramah.
Saat motor hampir mendekati pohon kelapa tatapan ku tertuju pada penghuni pohon kelapa yang sangat banyak.
"Bismillah mereka tidak ngikutin kita" kata ku pelan dan menunduk ke bawah.
Saat motor lewat tepat di pinggir pohon kelapa mendadak aku menjadi panas dingin takut mereka mengejar dan membuat kami terkena masalah.
"Syukurlah mereka tidak mengikuti kita" syukur ku kala melihat jika di antara mereka masih berada di tempatnya, tak ada yang bergerak.
"Kita tidak melakukan kesalahan, mereka tak akan menganggu kita" kata Angkasa.
"Iya sih, aku cuman takut aja" jawab ku.
Motor terus melaju meninggalkan desa ini dan berhenti di rumah.
Kami bersiap-siap untuk berangkat ke restoran.
Saat semuanya sudah siap kami kini tengah menunggu Alisa yang masih tak kunjung keluar dari dalam kamar.
"Mana sih tuh anak, kenapa lama sekali" kata Reno.
"Bentar juga datang kok, tungguin aja" jawab ku.
Tak lama dari itu orang yang kami tunggu-tunggu datang juga.
"Hai kalian nungguin aku ya" sapa Alisa mendekati kami.
"Ah sudahlah kau jangan hai hai hai terus, ayo kita langsung ke restoran saja, bunda sama ayah pasti lagi nungguin kita" kata Angkasa tak bersahabat.
Wajah Alisa langsung berubah mengdengar hal itu.
"Iya ayo" jawab Alisa.
Kami semua berangkat menuju restoran yang lumayan jauh dari desa.
Saat melewati jalanan yang di penuhi rerimbunan pepohonan di kanan dan kiri aku memejamkan mata takut ada mereka yang tak kasat mata.
"Bismillah semoga saja tidak ada gangguan malam ini" batin ku.
Motor terus melaju dan berhenti di restoran.
Mata kami melihat ayah dan bunda yang keluar dari restoran.
"Loh bunda sama ayah mau kemana, kok udah mau pergi aja?" tanya ku.
"Ada urusan sabentar di luar, kalian handle ya, nanti ketika sudah jam 12 malam restoran di tutup aja lalu pulang, biar besok gak ngantuk yang mau sekolah" jawab bunda.
"Tapi bunda gak lama kan perginya?" tanya ku.
"Enggak kok kita cuman sebentar" jawab ayah.
"Baiklah, masalah restoran biar kami yang handle" kata Alisa.
"Baik-baik di sini ya, kalau ada masalah tinggal beritahu bunda sama ayah aja" kata bunda.
"Baik Bun" jawab kami.
Ayah dan bunda masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan restoran.
"Waktunya berkerja" kata ku menyemangati diri.
"Ayo kita beraksi" kata Alisa.
Kami memulai bekerja dengan sangat baik.
Waktu terus berjalan kini malam sudah semakin larut dan restoran harus di tutup.
"Kemana bunda dan ayah kenapa masih belum kembali juga" kata ku.
"Mungkin saja ayah dan bunda sudah berada di rumah, ayo kita pulang aja" ajak Alisa.
Aku menyetujuinya kami pulang ke rumah bersama-sama.
Saat sampai di rumah Alisa langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur sambil memainkan hp.
"Aku pergi dulu ya, awas jangan kangen" pesan Dava yang di kirim pada pukul 16:23.
"Ish siapa juga yang kangen, pd amat, udah nyampe di luar negeri belum?" tanya Alisa.
Chat itu centang satu yang menandakan kalau Dava sedang offline.
"Apa Dava sudah berada di dalam pesawat ya sehingga wanya gak on" pikir Alisa.
"Mungkin aja sih, besok aku akan chat dia lagi" kata Alisa.
Di dalam kamar aku mencari hp yang tidak tau ada di mana.
"Kemana tuh hp, kenapa mendadak menghilang, aku tarok mana tadi kok bisa gak ketemu, biasanya kan aku selalu tarok di atas nakas tapi kenapa sekarang tidak ada" kata ku kebingungan.
Aku mencari hp itu hingga ke kolom tempat tidur.
"Gak ada juga, gimana ini masa iya hp aku hilang, aku pengen nelpon bunda, mau nanya dia ada di mana, apa yang harus aku lakukan" kata ku.
"Alisa, yah aku bisa meminta bantuannya" kata ku teringat dengannya.
Aku keluar dari dalam kamar dan menuju kamar Alisa.
"Sa, Lisa" terima ku dengan menggedor pintu dengan sangat keras.
Alisa menoleh ke arah pintu yang sangat berisik karena ulah ku.
"Masuk aja gak di kunci kok" teriak Alisa.
Mendengar hal itu aku langsung membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Sa bunda sama ayah kok gak pulang-pulang ya, aku sedari tadi risau memikirkan ayah sama bunda, kamu tau enggak mereka ada di mana?" tanya ku.
"Lagi ada urusan" jawab Alisa masih tetap fokus pada hpnya.
"Coba kamu telpon bunda dan tanyain ada di mana dia sekarang" suruh ku.
Alisa mengembuskan nafas lalu menatap ku.
"Iya" jawab Alisa.
"Ish nih anak kalau gak di turuti pasti akan terus berisik dan mengganggu ketenangan ku saja, dasar memang dia" batin Alisa.
tutt
tutt
tutt
tutt
^^^"Assalamualaikum kenapa sayang" kata bunda kala panggilan telah di angkatnya.^^^
"Bunda kapan pulang?" tanya kami.
^^^"Ini bunda mau pulang, mau di bawain apa?" tanya bunda.^^^
"Enggak usah kita udah makan kok bun, bunda cepetan pulang" jawab ku.
^^^"Iya bunda tutup dulu, assalamualaikum" kata bunda.^^^
"Wa'alaikum salam" jawab kami.
"Noh dah dengar sendirikan, udah balik sana, jangan berada di kamar ku, nanti barang-barang ku bisa kacau balau karena ulah mu" usir Alisa.
"Eh seharusnya itu dialog ku" kata ku tak terima.
"Ah sudahlah jangan berisik, sana pergi-pergi" usir Alisa.
"Iya" jawab ku lalu melangkah meninggalkan kamarnya.
Aku masuk ke dalam kamar lalu membuka pintu balkon.
Aku berdiri di pagar balkon dan melihat indahnya bintang di langit tanpa adanya bulan di angkasa.
Saat aku tengah menatap indahnya bintang tiba-tiba angin semilir menerpa wajah ku dengan sirna bau kembang melati yang bercampur di dalamnya.
"Sial" kata ku kala sadar tentang hal itu.
Sebelum dia muncul aku langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
"Semoga saja dia tidak ikut masuk ke dalam" harapan ku yang saat ini bersandar di pintu.
Aku lalu merebahkan tubuh ku di kasur.
Seorang wanita berpakaian putih dengan senyuman sinis muncul di balkon kamar.
Dia menatap pintu kamar ku dengan wajah seram lalu kemudian menghilang.