
Wajah mbk Indri masih terlihat cemas, ia hanya takut suami gaibnya membawanya ke desa gaib yang membuatnya tertekan.
"Mbk kenapa bisa berada di desa gaib, siapa yang sudah bawa mbk ke sana?"
"Mbk gak tau" jawab mbk Indri.
"Kok bisa gak tau?" Alisa mengerutkan alis, ia merasa aneh kala mendengar jawaban mbk Indri.
"Coba deh mbk cerita dari awal, biar kami tau kenapa mbk bisa berada di desa gaib" titah Reno.
"Waktu itu...
Mbk Indri yang akan menikah besok merindukan mendiang ibunya yang sudah meninggal dunia 3 tahun yang lalu.
Mbk Indri yang sedang merindukan ibunya datang ke kamar sang ibu berharap kerinduan itu bisa di hilangkan.
Mbk Indri membuka kamar yang terdapat di dekat dapur itu, kamar itu di tempati mendiang ibunya selama masih hidup.
Krieet
"Assalamualaikum bu" tak ada jawaban, kamar itu kosong, satu orang pun tidak ada yang mau menempati kamar itu.
Mbk Indri masuk ke dalam kamar dan duduk di tempat tidur dengan melihat foto ibunya yang berada di pigura yang begitu ia rindukan.
"Ibu Indri besok mau nikah, ibu doakan semoga pernikahan Indri berjalan dengan lancar" harapan mbk Indri.
Esok hidupnya akan berubah total, dari yang biasanya sendiri mulai besok akan ada suaminya yang menjadi teman hidupnya, meskipun ia tidak mencintai Ilyas, anak pak Sabeni yang di jodohkan dengannya.
Mbk Indri tak pernah membayangkan hidupnya setelah menikah dengan Ilyas, akankah lebih baik dari yang saat ini ia jalani ataukah akan lebih buruk mbk Indri tidak tau, ia hanya menjalankan perintah ayahnya selaku orang tua yang tersisa di hidupnya.
Sesekali air mata mengalir saat mbk Indri membelai wajah ibunya yang ada di pigura.
"Ibu doakan Indri, doakan Indri agar Indri kuat menjalani kehidupan Indri" isakan tangis mbk Indri terdengar lirih.
Mbk Indri terus melihat wajah mendiang ibunya, ia pelan-pelan merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan mulai memejamkan mata.
Pak Jarwo bersujud di hadapan nyi Gayatri, siluman ular yang ia sembah selama ini.
"Jarwo kakek ku mbah Brahma ingin Indri putri mu untuk di nikahkan dengan Bima, cucunya yang berada di desa gaib, bisakah kau menuruti apa yang kakek ku inginkan?" pak Jarwo terkejut saat nyi Gayatri menginginkan Indri juga, dulu nyi Gayatri sudah meminta istri dan juga anak-anaknya yang lain.
"Tapi nyi Gayatri besok Indri akan menikah, bagaimana kalau pak Sabeni tau kalau saya menyerahkannya Indri kepada mu"
"Dia tidak akan tau Jarwo, nanti aku yang akan menjadi Indri agar tidak ada orang yang tau kalau Indri yang asli berada di desa gaib"
"Tapi nyi Gayatri-
"Tidak ada tapi-tapian, ini sudah menjadi keinginan ku, kau sebagai murid ku harus menuruti perintah ku" tegas nyi Gayatri yang membuat pak Jarwo diam tak bergeming.
"Apa kau sekarang sedang berusaha untuk nyegah aku membawa Indri?" pak Jarwo langsung gugup.
"B-bukan seperti itu nyai, saya tidak apa-apa Indri kau bawa ke sana, tapi saya masih bingung kalau Ilyas tidak menemukan Indri setelah pernikahannya selesai, nyai kan tidak mungkin nyerupai Indri selamanya"
Nyi Gayatri tersenyum, ia tau maksud pak Jarwo."Kau tidak perlu khawatir tentang hal itu Jarwo, nanti setelah Indri menikah dengan Bima, dia akan meninggal, dan Ilyas tidak akan curiga kalau Indri hilang selama ini"
"Sekarang kau kunci kamar yang di dalamnya ada Indri, jangan sampai ada orang yang masuk ke dalam, mengerti!"
Pak Jarwo mengangguk."Mengerti nyai, saya akan pastikan kalau kamar itu tidak akan di masuki oleh siapapun"
"Sekarang cepat kunci kamarnya" pak Jarwo bangun dan keluar dari dalam kamar khusus itu.
"Tunggu Jarwo" pak Jarwo langsung berhenti, ia berbalik badan menghadap ke arah nyi Gayatri kembali.
"Ada apa nyi Gayatri?"
"Aku ingin perayaan tahunan itu di adakan di desa ini, tepatnya di rumah mu"
"Kenapa di desa ini nyai?" merasa aneh pak Jarwo karena biasanya perayaan tahunan itu di adakan di desa sebelah.
"Tidak ada alasan yang jelas, hanya saja aku ingin perayaan itu di adakan di sini, berbarengan dengan pesta pernikahan Indri, bisa kau menurutinya?"
"Bisa nyai, saya akan melakukan semua yang nyai inginkan"
"Bagus, sekarang cepatlah lakukan apa yang ku suruh" pak Jarwo keluar dari dalam kamar khusus itu ia naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar mbk Indri.
"Loh kemana Indri, kenapa dia tidak ada di sini?" kaget pak Jarwo saat mendapati kamar mbk Indri yang kosong.
"Apa jangan-jangan dia lari karena tidak mau ku jodohkan dengan Ilyas?"
"Aku harus cari dia, dia akan ngancurin semuanya kalau dia benar-benar nekat pergi dari sini" pak Jarwo yang sudah tua menuruni anak tangga dengan hati-hati, meski ia terburu-buru namun ia harus ekstra hati-hati.
Pak Jarwo mencari mbk Indri di seluruh kamar yang terdapat di rumahnya.
Satu persatu kamar yang ia buka kosong, tidak ada mbk Indri yang ia cari-cari.
"Kemana anak itu, apa dia benar-benar akan pergi dari sini, aku tidak bisa biarkan hal itu terjadi, semuanya akan kacau kalau dia pergi, mau di tarok di mana muka ku kalau sampai pernikahannya dengan Ilyas gagal" panik pak Jarwo yang terus berusaha mencari keberadaan mbk Indri.
"Indri, kamu di mana" tak ada jawaban yang terdengar di telinga pak Jarwo.
"Indri, kamu di mana, Indri" panggil pak Jarwo sekali lagi namun tetap saja tidak ada jawaban yang ia dengar.
"Pelayan apa kau melihat Indri?" pelayan itu pun berhenti.
"Saya melihat non Indri masuk ke dalam kamar itu tuan" tunjuk pelayan itu pada kamar mendiang istri pak Jarwo.
"Terima kasih pelayan" pelayan itu mengangguk lalu berlalu dari hadapan pak Jarwo.
Pak Jarwo mendekati kamar itu, betapa leganya ia saat anaknya yang tersisa di hidupnya tengah terlelap dalam tidurnya.
"Aku kira dia pergi dari rumah"
Pak Jarwo hanya berdiri di ambang pintu, ia tidak mendekati mbk Indri yang sedang berada di alam mimpi.
"Aku harus kunci kamar ini, tidak boleh ada satupun orang yang masuk ke sini, aku tidak mau nyi Gayatri kecewa pada ku" pak Jarwo mengunci kamar itu dan meletakkan kunci tersebut di dalam vas bunga yang berada di atas meja bundar yang berukuran kecil yang terdapat di samping kanan pintu.
Pak Jarwo dengan perasaan lega kembali ke dalam kamarnya, ia tidak khawatir mbk Indri akan melarikan diri.