
Di sana sudah ada ketiga anak kecil itu yang menunggu kedatangan kami.
Saat aku hendak duduk di kursi tiba-tiba.
"Kakak siapa itu?" tanya Dita.
"Mana?" tanya ku.
"Itu di belakang kakak" jawab Dita.
Aku melihat ke belakang namun entah kenapa tidak ada apapun yang aku temukan.
"Tidak ada apa-apa kok" kata ku.
"Ada kak, dia itu ada di belakang kakak" jawab Dita masih yakin sekali.
"Tapi gak ada apapun, di belakang kakak itu kosong, kalian pada liat juga gak?" tanya ku pada yang lain.
"Enggak" jawab mereka.
"Tuh kan gak ada, kamu salah lihat pasti" kata ku.
"Enggak kak, di belakang kakak itu ada orang" kata Dita yang masih tetap yakin dengan pendiriannya.
"Seperti apa orangnya?" tanya ku.
"Nenek-nenek" jawab Dita.
"Nenek-nenek"
Kami mengerutkan alis mendengar jawaban Dita.
"Iya kak, di belakang kakak itu ada nenek-nenek" kata Dita.
Aku kembali melihat ke belakang mencari keberadaan nenek-nenek yang Dita maksud, namun tidak ada siapapun yang ku temukan.
"Gak ada Dita, di belakang kakak gak ada siapapun" kata ku.
"Ada kak, dia masih ada di belakang kakak" jawab Dita.
"Kenapa aku gak bisa lihat ya?" tanya ku yang merasa aneh.
"Jangankan kamu, kami aja gak bisa lihat, apa mungkin cuman Dita yang bisa liat sosok nenek-nenek itu" pikir Alisa.
"Bisa jadi" jawab Angkasa.
"Dita ciri-ciri nenek-nenek itu seperti apa?" tanya ku.
"Dia makai baju orang-orang zaman dulu, matanya itu melotot tajam terus rambutnya di sanggul" jawab Dita.
Aku mengerutkan alis mendengar ciri-ciri nenek-nenek yang begitu asing sekali.
"Siapa nenek-nenek yang Dita maksud, kenapa gak ada satupun nenek-nenek yang aku temui yang persis seperti ciri-ciri yang Dita bilang" kata Alisa.
"Iya sih, datang dari mana nenek-nenek itu, kenapa ngikutin aku" jawab ku.
"Kalau masalah ngikutin sih dari mana aja bisa, tapi masalahnya kenapa kita gak bisa lihat sosok nenek-nenek itu, padahal kan kita juga bisa lihat mereka tak kasat mata" kata Angkasa yang merasa aneh akan hal itu.
"Aku gak mau mikirin dia dulu, sekarang kita sarapan dulu, baru setelah itu berangkat sekolah, kalau kita mikirin dia bisa-bisa kita akan telat masuk sekolah, aku gak mau di hukum lagi kayak waktu itu" kata ku yang mengesampingkan sosok nenek-nenek itu.
"Iya kita lupain aja dulu, tapi Dita sekarang nenek-nenek itu masih ada di belakang Aliza gak?" tanya Alisa.
"Udah gak ada, dia kayaknya udah pergi setelah harimau itu datang" jawab Dita dengan melihat ke arah White yang mendekat.
"Syukur deh kalau kayak gitu" kata ku lega.
"Ayo kita makan aja, baru setelah itu siap-siap buat berangkat ke sekolah" ajak Alisa.
Kami mengangguk lalu mulai menyantap makanan yang berada di depan kami.
Sosok nenek-nenek yang Dita sebut tadi tak aku pedulikan karena aku merasa dia tidak akan membahayakan ku.
Setelah selesai makan kami masuk ke dalam kamar masing-masing untuk bersiap-siap.
Aku mengenakan seragam sekolah, setelah selesai aku mendekati tas ku yang berada di meja belajar.
Sekilas aku melihat sosok nenek-nenek yang matanya melotot tajam dari kaca besar yang ada di lemari.
"Loh kok udah gak ada, perasaan tadi aku lihat ada nenek-nenek yang berada di belakang ku yang ku lihat dari lemari kaca itu" kata ku merasa heran.
"Apa dia udah pergi, kenapa secepat itu" kata ku yang terus melihat seluruh ruangan ini namun tidak ada dia lagi.
"Sepertinya dia memang udah pergi" kata ku.
Aku melirik jam yang melingkar di tangan ku.
"1 jam lagi bel akan berbunyi, aku harus cepat-cepat sampai di sekolah sebelum telat" kata ku.
Dengan bergegas aku mengambil tas dan turun ke bawah.
Saat menuruni anak tangga aku melihat ke arah mereka berdua yang tengah menunggu ku di ruang tamu.
"Mana Alisa?" tanya ku.
"Masih ada di dalam kamarnya mungkin" jawab Reno.
"Sa" teriak ku.
"Iya, sebentar lagi" balas Alisa.
"Cepetan jangan lama-lama, nanti telat" teriak ku.
"Iya" jawab Alisa.
Alisa yang mendengar teriakan itu langsung bergegas turun ke bawah.
"Udah, ayo kita berangkat" ajak Alisa.
Kami keluar dari dalam rumah.
Angkasa dan Reno mengeluarkan motor dari dalam garasi, setelah itu mengemudikan motor menuju sekolah.
"Kemana Tiger, White, mbk Hilda dan dua Kun za?" tanya Angkasa yang tidak melihat keberadaan mereka berlima.
"Gak tau, mungkin mereka lagi keliling kampung, nanti juga mereka pasti akan temuin kita di sekolahan" jawab ku.
Angkasa tak lagi bertanya ia hanya terus fokus mengemudikan motor itu.
Di sepanjang perjalanan aku melihat ke sekeliling yang hanya ada pohon dan pohon.
"Di mana gadis pucat itu, kenapa gak ngikutin aku, apa dia gak berani masuk ke desa ini karena ada Tiger" batin ku.
"Tapi kan dia itu butuh bantuan, masa karena takut sama Tiger dia gak jadi minta bantuan pada ku" batin ku.
"Aku yakin dia pasti ngikutin aku, gak mungkin gak ngikutin aku" batin ku yakin.
Aku terus mencari-cari keberadaannya berharap aku menemukan dia di jalan tapi sayangnya hal itu tidak terjadi.
"Dia tidak ada di sini, aku rasa dia memang gak ngikutin aku sampai ke desa ini" batin ku.
Aku tidak lagi mencari keberadaannya dan terus diam dengan melihat ke depan.
Saat mau sampai di gapura, tiba-tiba mata ku menangkap sosok nenek-nenek yang berdiri di dekat pohon seperti menunggu kedatangan kami.
"Sa apa dia nenek-nenek yang di maksud sama Dita" kata ku setengah berbisik.
"Melihat dari ciri-cirinya sih iya, aku rasa memang dia nenek-nenek yang Dita maksud" jawab Angkasa.
Aku melihat ke arah nenek-nenek itu yang wajahnya pucat, sedangkan pandangannya menatap lurus ke depan.
"Sa kenapa aku ngerasa dia bukan hantu baik" kata ku.
"Aku juga ngerasa gitu, kita waspada aja dulu, kita kan masih belum tau kebenarannya, cuman dugaan saja, bisa aja kan dugaan kita salah" jawab Angkasa.
"Iya sih" kata ku.
Aku terus menatap ke arah sosok-sosok nenek itu, saat Angkasa lewat tepat di depannya tiba-tiba nenek-nenek itu menyunggingkan senyumnya yang memperlihatkan gigi emasnya yang berkilau namun entah kenapa hal itu menambahnya semakin menyeramkan.
Aku langsung mengalihkan pandangan ku darinya.
Sungguh dia benar-benar menyeramkan.