The Indigo Twins

The Indigo Twins
Merinding tanpa sebab



Alisa menunggu ku kembali, tubuhnya pelan-pelan merasa merinding tanpa sebab, ingatan tentang wajah hantu terompah dan bersimbah darah dan hantu bertaring panjang berputar-putar di benaknya.


Wussshhhh


Tiba-tiba Alisa merasakan ada hembusan angin yang pelan-pelan namun berhasil membuat bulu kuduknya berdiri.


Dengan secepat kilat Alisa mendekati pintu kamar mandi dan menggedornya dengan kuat.


"Za cepetan, aku takut" titah Alisa yang gemetaran.


Aku membuka pintu kamar mandi dan mendapati wajah Alisa yang tiba-tiba menjadi pucat tanpa sebab.


"Kamu kenapa sa, kenapa kamu kayak ketakutan gitu?"


"Enggak, gak ada apa-apa kok, minggir aku mau mandi" Alisa menerobos masuk ke dalam kamar mandi.


Aku menatap aneh ke arahnya yang tiba-tiba berubah draktis seperti itu.


"Kenapa sama Alisa, kenapa dia jadi aneh?"


Aku diam sejenak untuk memikirkan keanehan dari diri Alisa.


"Bodo ah, aku gak mau mikirin itu"


Aku mengesampingkan itu semua, aku mulai bersiap-siap untuk berangkat ke masjid.


"Sa jangan lama-lama, ayo cepetan nanti keburu adzan" teriak ku saat melihat Alisa yang masih belum keluar dari dalam kamar mandi.


"Bentar za, kamu sabar dulu napa!"


"Aku tunggu di bawah ya"


Seketika pintu kamar mandi langsung terbuka, Alisa menongolkan kepalanya yang penuh dengan sabun.


"Jangan za, kamu jangan ke bawah, tunggu aku sebentar, sebentar lagi aku akan selesai kok" titah Alisa.


"Iya, cepatan, jangan lama-lama nanti aku tinggalin loh"


Setelah mendengar kalimat ancaman itu Alisa langsung mempercepat proses mandinya yang biasanya memakan waktu 30 menit kini berganti menjadi 10 menit.


Alisa keluar dari dalam kamar mandi, ia bersiap-siap lalu turun bersama ku ke bawah untuk menemui yang lain.


Kami mendekati mereka semua yang menunggu kami di ruang tamu.


"Gimana tidurnya, nyenyak gak?" ingin tau ayah saat melihat kami mendekatinya.


"Nyenyak dari mana, semalaman kami gak tidur karena banyak hantu yang gangguin kami" jawab Alisa.


"Kenapa gak kalian usir saja" suruh bunda.


"Kali ini hantunya beda bun, dia seram, gak kayak hantu-hantu yang biasanya, kami gak berani buat usir dia" jawab Alisa.


"Mangkanya jangan pulang malam lagi, nanti banyak hantu yang ikutin kalian kemari" peringatan bunda.


"Iya bun, kami jera kok"


"Ayo sekarang kita berangkat ke masjid, adzan sebentar lagi akan berkumandang" ajak ayah.


Kami semua berangkat ke masjid bersama-sama, suasana jalanan agak sepi dan sedikit gelap, karena waktu subuh-subuh seperti ini jarang ada orang yang berkeliaran.


Aku melihat ke kanan dan kiri yang sepi, tidak ada satu orangpun yang aku lihat.


"Tapi gak mungkin, gak mungkin aku terjebak di dalam jalanan gaib itu lagi" batin ku.


Angkasa melirik ku yang terus diam dengan melihat ke kanan dan kiri, ia benar-benar penasaran pada apa yang aku cari.


"Apa yang Aliza cari, kenapa aku tidak bisa dengar suara hatinya" batin Angkasa yang kehilangan kelebihannya yang sangat berguna itu dan itu membuatnya galau brutal.


Sepanjang perjalanan aku terus melihat ke kanan dan kiri untuk waspada,baku takut ada penampakan hantu yang akan mengganggu kami yang mau ke masjid.


"Allahu Akbar, Allahu Akbar" suara adzan subuh berkumandang, sementara kami masih belum sampai di masjid.


"Sudah adzan itu, ayo kita lebih cepat lagi" ajak ayah.


Kami semua mempercepat langkah untuk bisa segera sampai di masjid, setelah sampai kami menyibakkan sholat berjamaah di masjid bersama-sama.


Masjid yang dulunya sepi karena adanya perayaan itu kini kembali ramai, orang-orang sekarang banyak yang kembali ke jalan Allah, meskipun masih ada orang yang lalai, tapi tidak sebanyak dulu.


Sehabis selesai sholat kami kembali pulang ke rumah dan menuju meja makan untuk sarapan terlebih dahulu.


"Ustadz"


"Heem?" Ustadz menatap ke arah ku yang memanggilnya.


"Ustadz bagaimana caranya buat hantu gak masuk ke dalam rumah, tadi malam ada banyak hantu yang masuk ke dalam rumah, Aliza gak mau hantu-hantu itu terus masuk dan ganggu kami terus menerus"


"Nanti saya yang akan urus, kalian tidak perlu khawatir, mereka tidak akan ganggu kalian lagi" jawab Ustadz Fahri.


"Makasih tadz, kami mohon sekali Ustadz buat mereka berhenti gangguin kami, kami benar-benar gak sanggup di ganggu mereka terus menerus" mohon Alisa.


"Iya, nanti saya yang akan urus mereka" jawab Ustadz Fahri.


"Hantu terompah itu bagaimana, kalian bilang sudah tau siapa hantu terompah itu, sekarang cepat kalian ceritakan hantu terompah itu, aku ingin dengar" perintah Reno.


"Hantu terompah itu sebenarnya seorang pengantin yang mau nikah, tapi di hari pernikahannya dia malah di bunuh dan semua perhiasan berharganya di ambil dan mayatnya di buang di jalanan desa yang sepi itu, kalian tau gak orang yang sudah ngelakuin itu adalah warga di desa ini juga!"


"Masa ada warga di desa ini yang sejahat itu" kaget Reno tak percaya kalau kali ini pelakunya adalah warga di desa ini.


"Tapi beneran ren, hantu terompah bilang pelakunya memang warga di desa ini dan dia sudah jadi orang kaya mendadak, karena telah ngambil perhiasan hantu


terompah, itu yang membuat hantu terompah marah besar dan neror warga-warga yang tinggal di desa ini" jelas Alisa.


"Kami aja kemarin malam yang ketemu sama dia, dia agak gak suka dan seperti marah sama kami, padahal bukan kami yang sudah buat dia seperti itu"


"Terus sekarang ini kalian sudah tau siapa pelakunya?" penasaran Ustadz Fahri.


"Belum tadz, pelakunya masih belum ketemu, kami masih belum tau yang mana aja pelakunya"


"Hantu terompah itu minta apa saja sama kalian?" ingin tau Ustadz Zaki.


"Dia cuman minta jasadnya di makamin dengan layak lalu orang yang sudah bunuh dia di tangkap, baru dia akan berhenti ganggu warga-warga di desa ini"


"Kalian tau kan di mana letak mayat hantu terompah itu?" memastikan Ustadz Fahri.


Kami berdua mengangguk kompak."Iya tadz, kami tau di mana mayat hantu terompah itu berada, karena tadi malam kami nekat ikutin dia sampai ke jalanan desa yang gelap"


"Kalau seperti itu ayo kita ke sana saja, kita harus makamin mayat hantu terompah itu, biar dia lekas pergi dari kampung ini" ajak Ustadz Zaki.


"Iya, ayo Ustadz ikut kami, kami akan tunjukan di mana letak jenazah hantu terompah itu berada"


Mereka mengangguk, mereka bangkit dari duduk, mereka berjalan mengikuti kami dari belakang.