
Alisa mencoba mengetik nama Alvia Andini.
Ceklik
Sandi hp itu berhasil di buka.
"Terbuka, ternyata Roy makai nama Andin" senang Alisa yang dapat membuka hp Roy.
"Sekarang kamu cari kontak orang tuanya Roy, suruh mereka ke sini, mereka harus tau keadaan Roy saat ini"
Alisa mengangguk lalu mulai mencari nama orang tuanya Roy.
"Gimana, ketemu gak sa?" penasaran Reno.
"Iya, tapi mamanya Roy doang, papanya gak ada" jawab Alisa.
"Cepat kamu hubungi"
Alisa menghubungi mamanya Roy.
tutt
tutt
"Ayo tante angkat, Roy lagi kritis tante, dia butuh tante, dia butuh tante" tak tenang Alisa karena panggilan itu tak kunjung di angkat.
tutt
tutt
"Gak di angkat" tutur Alisa.
"Coba lagi sampai di angkat"
Alisa kembali menghubungi mamanya Roy berharap panggilan itu dapat di angkat.
tutt
tutt
"Di angkat"
"Cepat kamu speaker" tintah Reno yang senang.
Alisa melakukannya."Kenapa kamu hubungi mama, sudah mama bilang jangan pernah hubungi mama lagi, kenapa kamu masih terus ngubungi mama, kamu itu penyebab kematiannya Khalisa, gara-gara kamu dia meninggal, mama tidak mau punya anak seperti kamu, kamu itu udah membunuh anak mama, jangan pernah hubungi mama lagi, ingat itu baik-baik"
Panggilan itu di matikan oleh nyokap Roy setelah mengatakan hal itu.
Kami yang mendengar setiap kata-kata yang di lontarkan oleh mamanya Roy menutup mulut tidak percaya.
"J-jadi selama ini Roy hanya pura-pura bahagia" tak menyangka Alisa jika orang yang selama ini selalu mengganggunya ternyata kehidupannya lebih menyakitkan dari pada dirinya.
"Pantas aja Roy sampai masuk ke dalam geng motor, jadi ini yang membuatnya hancur" Angkasa juga tak menyangka jika kehidupan Roy lebih kacau dari pada yang ia duga.
"Kasihan banget Roy, udah kehilangan Andin dia juga di benci sama keluarganya, gak nyangka Roy bisa sekuat Dava" Alisa mengipasi matanya agar tidak ada air mata yang jatuh.
Reno tiba-tiba langsung cemas."Ini gimana, kita harus ngapain, orang tuanya gak akan mau datang ke sini kalaupun tau kalau Roy lagi kritis, kalian dengar kan seperti apa kata-kata yang mamanya Roy bilang barusan itu"
"Iya, terus ini gimana, Roy butuh golongan darah AB negatif, kalau gak ada orang yang ngedonorin darahnya, Roy gak akan bisa selamat" Angkasa mulai cemas karena di antara kami tidak ada yang golongan darahnya sama seperti Roy.
Reno mulai berpikir untuk memecahkan masalah kali ini."Sebentar-sebentar, Roy pernah bilang kalau dia itu punya sepupu bernama Tias, coba sa kamu cari kontaknya Tias dan hubungi dia, moga aja dia bisa datang ke sini"
Alisa dengan cepat langsung mencari kontak Tias.
"Ketemu"
"Cepat hubungi dia" tak sabaran Reno.
Alisa menghubungi Tias."Roy kenapa kamu gak pulang, kata teman-teman kamu, kamu gak ada di kos-kosan, kamu ada di mana Roy, kamu jangan bikin aku cemas deh, cepet pulang, jangan keluyuran terus?"
Tias yang mendengar suara Alisa yang begitu asing mengerutkan alis."ALISA, Alisa siapa, kenapa Roy gak pernah bilang kalau dia punya teman cewek, terus kenapa hpnya Roy ada sama kamu, di mana dia sekarang?"
"Roy kecelakaan kak, dia lagi ada di rumah sakit"
"APA Roy kecelakaan, kok bisa?" terkejut Tias yang berada di seberang telepon.
"Aku akan jelasin semuanya nanti, sekarang kakak cepat datang ke sini, Roy butuh donor darah secepatnya, keadaannya kritis kak, dia harus segera di tolong kalau tidak dia gak akan bisa di selamatkan"
"Baik aku akan ke sana" Tias mematikan sambungan telepon dan bergegas berangkat ke rumah sakit.
"Gimana, apa tanggapan sepupunya Roy?" penasaran Reno.
"Dia mau ke sini, kita tunggu saja dia dulu, pasti sebentar lagi dia akan datang" jawab Alisa.
"Syukurlah sepupunya Roy mau datang ke sini, aku udah takut banget dia gak akan mau ke sini" ketakutan Angkasa sedari tadi.
"Itu tidak akan terjadi sa, aku merasa Roy itu baik, kita tunggu saja dulu dia datang, sebentar lagi dia akan datang ke sini kok" jawab Reno.
"Kita lebih baik tunggu di depan ruangan ICU aja, biar nanti kita tau bagaimana perkembangan kondisi Roy, dan untuk kamu sa, lebih baik tunggu di depan aja biar nanti Tias gak bingung nyariin kita"
"Iya, ayo ren kita ke depan" ajak Alisa.
Reno setuju lalu berjalan mengikuti Alisa ke depan.
"Ayo kita ke ruangan ICU, kita cari tau keadaan Roy apa atau perubahan atau tidak" ajak Angkasa.
Aku mengangguk lalu berjalan mendekati ruangan ICU.
"Ustadz gak mau pulang"
"Kalau saya pulang, gimana caranya kalian pulang ke rumah nantinya?"
"Itu gampang tadz, nanti kita bisa naik taksi atau ojek online"
"Iya tadz, Ustadz lebih baik pulang aja, jaga rumah dan restoran, kami untuk saat ini gak bisa ngurus restoran karena masih mau nyelesain kasus Andin dulu baru setelah selesai Angkasa bakal balik ke restoran lagi"
"Ya sudah saya pulang dulu, kalian hati-hati di sini, kalau ada apa-apa langsung hubungi saya" perintah Ustadz Fahri.
"Baik tadz"
"Oh ya Ustadz udah bilang sama bunda kan kalau kami gak bisa urus restoran?"
"Ya Allah za saya lupa buat nelpon bunda kamu, karena tadi restoran lagi ramai banget, saya gak sempat hubungi bunda kamu" Ustadz Fahri menepuk jidatnya karena kelalaiannya yang malah melupakan hal itu
"Ya udah gpp tadz, besok aja Aliza bakal telpon bunda, kalau malam ini Aliza yakin bunda udah tidur"
"Maaf ya za, saya lupa sama hal itu" merasa bersalah Ustadz Fahri karena tidak bisa menjaga amanah.
"Iya gpp tadz, Ustadz gak usah merasa bersalah gitu, Aliza gak apa-apa kok, Aliza gak masalahin hal ini"
"Ya sudah saya pulang dulu, assalamualaikum" salam Ustadz Fahri.
"Wa'alaikum salam" jawab kami.
Ustadz Fahri pulang ke desa kembali sedangkan kami menunggu kedatangan Tias di depan ruangan ICU.
Aku menyandarkan kepala ku pada tembok di belakang."Sa gak nyangka ya kalau Roy di perlakuan kayak gitu sama orang tuanya belum lagi sama tante Dara, pasti dia sakit hati banget, tapi aku salut tau dia bisa tegar walaupun masalahnya sangat berat"
"Iya, aku gak heran sih kalau Roy sampai masuk ke dalam geng motor, dia pasti ingin mencari ketenangan dengan menjadi raja jalanan, tapi hebatnya dia gak ngelakuin hal yang negatif, padahal ujiannya berat banget" salut Angkasa pada Roy.
"Tapi aku heran kenapa orang tuanya Roy setega itu padanya, masa omongannya nyakitin hati banget, aku yang dengar aja udah sakit hati banget, apalagi yang ngalamin, beh gak kebayang deh hancurnya kayak gimana"
"Iya, udah kehilangan kekasihnya dia juga di benci sama keluarganya, kalau aku yang ada di posisinya, mungkin aku gak akan sekuat itu"
"Iya sih, Roy memang kuat banget, gak nyangka aku"