
Aku dan Angkasa sudah sampai di atas.
Sepi dan sunyi, tidak ada satu orangpun yang kami lihat.
"Sepi banget di sini, apa mungkin semua orang lagi ada di bawah ya?"
"Iya, ayo kita mulai nyari mbk Indri, ini kesempatan emas buat kita bisa nemuin dia, kita harus bisa bawa dia pergi secepatnya" jawab Angkasa.
"Iya ayo"
Kami mulai mencari keberadaan mbk Indri.
Aku membuka satu persatu kamar yang terdapat di atas, rata-rata kamar-kamar itu kosong, tidak ada satupun orang yang ku lihat.
"Kemana mbk Indri, kenapa dia gak ada di sini, apa dia sudah di bawa ke alam gaib sama suaminya?"
"Enggak, enggak, enggak mbk Indri pasti masih ada di sini, dia gak mungkin pergi kemana-mana"
"Aku harus periksa kamar-kamar di sini satu-satu"
Aku membuka kamar yang terletak di paling pojok, hanya kamar itu yang belum aku periksa.
"Kok di kunci"
"Sa"
Angkasa yang berada di sebelah barat langsung mendekati ku.
"Ada apa, kamu nemuin mbk Indri?" aku menggeleng.
"Belum, aku cuman penasaran sama kamar ini, kamu tau gak cara buka kamar ini?"
Angkasa membuka kamar itu tapi tidak bisa karena pintunya di kunci.
"Gimana caranya kita bisa masuk kalau pintunya di kunci?" bingung Angkasa yang tak memiliki kunci pintu itu.
"Dobrak aja sa, aku curiga mbk Indri ada di dalam"
Angkasa mengangguk lalu hendak mendobrak pintu itu tiba-tiba.
Drrt
Drrt
Drrt
Hp Angkasa berbunyi dan tertera nama Reno yang keluar.
"Ada apa ren?"
"Aku sudah nemuin mbk Indri, kamu ke bawah, dan cari kamar paling pojok yang berada di sebelah utara dekat dapur, aku sama Alisa ada di sana"
"Baik aku akan ke sana"
"Ada apa sa, apa yang Reno bilang?"
"Reno udah nemuin mbk Indri, sekarang ayo kita ke sana" ajak Angkasa.
Kami turun dari lantai atas dan menuju kamar yang Reno maksud.
"Apa ini kamarnya?" Angkasa berhenti tepat di depan kamar paling pojok yang ada di sebelah utara dekat dapur.
"Coba kita cek"
Aku membuka sedikit pintu kamar itu dan mata ku melihat orang-orang yang aku kenali tengah berada di dalam kamar.
"Mbk Indri"
"Aliza tolong bawa aku pergi dari sini, aku tidak mau berada di sini" titah mbk Indri yang ketakutan.
"Iya mbk, kita harus pergi dari sini, ayo kita pergi dari sini secepatnya, sebelum suami gaib mbk datang dan bawa mbk kembali ke desa gaib" mbk Indri mengangguk ia bangun dari duduknya.
"Ayo kita keluar, mbk gunain ini" Angkasa memberikan masker pada mbk Indri.
Mbk Indri mengambilnya lalu memakainya.
"Jangan lewat sana" cegah mbk Indri yang membuat langkah kami langsung berhenti.
"Kenapa mbk?" penasaran Alisa.
"Nanti akan ada orang yang ngenalin mbk" jawab mbk Indri.
"Terus kita pergi dari sini lewat mana mbk kalau bukan pintu depan?"
"Lewat pintu belakang aja, di sana gak ada orang yang jaga, kita bisa pergi dari sini dengan mudah" tunjuk mbk Indri pada pintu belakang.
"Ya sudah ayo kita lewat sana" kami melangkah keluar dari dalam rumah pak Jarwo dengan melewati pintu belakang.
Saat sudah menutup pintu belakang itu pandangan kami kini di sajikan dengan suasana yang gelap gulita, tidak ada penerangan sama sekali karena di belakang rumah pak Jarwo yang berjarak sekitar 2 meter adalah hutan, hutan yang sangat gelap.
Alisa menelan ludah pahit saat merasakan hawa merinding yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Kok aku merinding ya" Alisa menempel pada Reno.
"Udah jangan takut, gak akan ada apa-apa kok, ayo kita pulang ke rumah" ajak Angkasa.
Kami pun mengangguk lalu melangkahkan kaki meninggalkan rumah pak Jarwo dengan melewati pintu belakang yang seram.
Aku yang berada di posisi paling belakang tak sengaja melihat sesuatu yang lewat dengan cepat di sebelah utara yang gelap dan merupakan hutan.
"Kayak ada orang yang lewat, apa itu makhluk halus?" batin ku.
Wussshhhh
Kelebat bayangan berwana hitam kembali melintas dan tertangkap jelas oleh mata ku.
"Tak salah lagi, itu benar-benar makhluk halus" batin ku.
"Kenapa berhenti za?" lamunan ku langsung buyar saat mendengar suara Angkasa.
"Enggak kok, ayo kita jalan lagi" kami kembali meneruskan jalan menuju rumah.
"Aauw" tak sengaja kaki Alisa menyenggol benda yang panas, ia tidak memakai sandal karena sandalnya berada di depan begitu pun dengan kami.
"Kenapa sa?" khawatir Reno yang melihat Alisa tidak bisa diam karena kakinya kepanasan.
"Aauw aauw auww panas" tak bisa diam Alisa, kakinya sangat panas ketika tak sengaja menyenggol benda yang berada di dekat dinding rumah pak Jarwo.
Angkasa menyenter hpnya ke arah benda yang Alisa senggol."Ini kemenyan"
Kami langsung mendekati kemenyan itu dengan wajah terkejut.
"Kenapa di sini ada kemenyan?"
"Ini pasti ada seseorang yang sudah naruh kemenyan ini di sini" feeling Reno.
"Kenapa tuh orang naruh kemenyan di belakang rumah dan di tempat yang gelap kayak gini, apa dia gak berpikir kalau ada orang yang lewat dan tak sengaja nyenggol gimana" omel Alisa yang sudah geram pada orang yang sudah menaruh kemenyan itu.
Aku merasa janggal pada kemenyan itu.
"Udah kamu jangan marah-marah, nanti ada orang yang tau kalau kita ada di sini" jawab Angkasa.
"Ayo kita pulang aja, berada di sini lama-lama gak aman" ajak Reno.
Kami kembali melangkahkan kaki menuju rumah yang masih sangat jatuh dari sini.
Alisa tak lagi terlalu menempel pada dinding karena ia masih trauma, ia takut kembali menyenggol kemenyan yang panas itu.
"Siapa ya sekiranya orang yang sudah naruh kemenyan itu di sana?"
"Pasti pak Jarwo, siapa lagi kalau bukan dia" jawab Alisa.
"Tapi untuk apa dia naruh kemenyan di sana?"
"Untuk memberi makan makhluk-makhluk hitam yang bersarang di dalam hutan itu, di dekat kemenyan itu ada kembang tujuh rupa, dupa, kopi hitam dan juga nasi yang di lauki telur dadar, setiap malam Jum'at papa selalu meletakkan kemenyan itu di sana" jawab mbk Indri.
"Dari mana mbk Indri tau kalau di dalam hutan itu ada banyak makhluk halus?" kaget Alisa ketika tau kalau hutan di belakang rumah pak Jarwo tempat sarang mereka selama ini.
"Mbk pernah lihat papa bicara sendiri di belakang rumah saat malam Jum'at, makhluk juga sering melihat penampakan genderuwo di dalam rumah, tapi saat mbk nanya sama papa tentang mereka, papa malah bilang kalau mereka itu gak berbahaya, dan aku di suruh jangan bilang siapa-siapa kalau melihat makhluk hitam di rumah ini" jelas mbk Indri.