The Indigo Twins

The Indigo Twins
Kedatangan pak Heru



Kami semua berangkat ke masjid untuk sholat berjamaah di sana.


Di rumah hanya ada mbk Indri, mbk Rinda dan ketiga anak-anak kecil itu yang sengaja tidak ikut ke masjid bersama kami.


"Allahu Akbar, Allahu Akbar" adzan di kumandangkan, satu persatu warga yang mendengar suara adzan langsung masuk ke dalam masjid untuk menunaikan sholat magrib berjamaah.


Kami semua sholat berjemaah di masjid saat adzan sudah selesai di kumandangkan, sehabis sholat kami membaca dzikir lalu menunggu waktu sholat isya' tiba.


Aku melihat ke sekeliling ku, hanya ada beberapa orang yang hadir untuk sholat di masjid, setiap hari ku perhatikan kalau semakin lama masjid semakin sepi, jarang ada yang sholat, karena kebanyakan warga lebih milih hadir di acara perayaan yang pak Jarwo laksanakan di desa ini.


Kami menunggu waktu isya' di masjid, sampai pada akhirnya waktu yang kami tunggu-tunggu pun datang.


Kami sholat di dalam masjid bersama-sama, setelah selesai kami keluar dari masjid lalu melakukan perjalanan menuju rumah.


"Habis ini kita harus ke rumah pak Jarwo, kita harus cari tau tentang dia, kita harus dapatin bukti yang akurat biar warga percaya kalau perayaan itu membawa dampak negatif" Angkasa mengingatkan hal itu saat di perjalanan pulang.


"Iya, kita harus ke sana habis ini, karena pada kesempatan ini kita bisa cari tau ada apa dengan perayaan itu, semoga saja nanti kita bisa nemu alasan di dirikannya perayaan itu"


"Amin" sahut mereka semua.


"Oh ya om katanya mau ke rumah, kenapa pas magrib gak ada, apa jangan-jangan om gak jadi ke rumah?" feeling Alisa.


"Pasti jadi kok, mungkin sekarang dia lagi ada di rumah nungguin kita pulang, ayo kita cepat-cepat pulang, kita harus temuin om dan bilang semuanya sama om"


Mereka semua mengangguk lalu berlari menuju rumah untuk melihat apakah di rumah sudah ada pak Heru atau belum.


Saat sampai di rumah kami melihat ada mobil yang terparkir di depan rumah.


"Ini mobilnya om, ayo kita masuk, dia pasti lagi ada di dalam" aajk Alisa.


Kami dengan cepat masuk ke dalam rumah.


"Om" orang yang kami panggil itu menatap ke arah kami.


"Lama banget, kalian pada kemana sebenernya, om nungguin dari tadi" omel pak Heru.


"Kami ada di masjid om, sengaja nunggu waktu isya', hai Zidan" sapa Alisa pada Zidan yang duduk di dekat tante Zera.


"Hai kak" balas Zidan.


"Bunda kalian mana, om mau bicara empat mata dengan bunda kalian?"


"Assalamualaikum" salam bunda dan ayah.


"Wa'alaikum salam" jawab kami semua.


"Gimana her, apa kamu sudah tau siapa yang sudah bikin restoran Qien hancur?" bunda langsung membahas hal itu, ia begitu penasaran pada siapa yang sudah membuat restonya hancur lebur seperti itu.


"Belum mbk, cuman aku yakin kalau orang yang sudah bikin restoran hancur adalah warga di desa ini, karena saat di telusuri dari kamera cctv, pelakunya masuk ke desa Kamboja, tapi aku masih belum tau rumahnya di mana karena gak ada cctv di desa ini" jawab pak Heru.


"Siapa ya orang di desa ini yang tega ngelakuin itu semua pada keluarga kita" bunda mikir keras, ia begitu penasaran pada orang yang menjadi tersangka.


"Pak Tejo bun, dia adalah orang yang sudah bikin restoran kita ancur" jawab Alisa.


"Pak Tejo, kamu ngaco ya, kenapa pak Tejo ngancurin restoran, dia punya masalah apa, bunda sama dia gak pernah terlibat suatu permasalahan, kenapa tiba-tiba saja dia lakuin ini pada keluarga kita?" tak percaya bunda jika pak Tejo adalah orang yang membuat restonya hancurnya.


"Beneran bun pak Tejo orangnya, dia itu ngasih peringatan pada kita dengan cara ngancurin restoran, dia itu sudah tau kalau kami lagi berusaha untuk mecahin misteri yang selama ini di sembunyiin olehnya dan juga pak Jarwo" jawab Alisa.


"Tuh kan bunda udah bilang, kalau jangan ikut-ikutan dalam masalah itu, kakek kalian saja gak mau macahin misteri itu, kenapa kalian nekat sekali, lihat dampaknya kan" marah bunda pada kami semua.


"Tapi bun kalau kami biarin perayaan itu terus berlanjut sampai masa yang akan datang, pasti akan ada banyak sekali korban-korban yang berjatuhan, jadi kami terpaksa nekat untuk cari tau biar kami bisa ngertiin perayaan yang membawa dampak negatif tersebut"


"Iya bunda tau tujuan kalian baik, cuman kalau ngebahayain kalian, bunda gak setuju, bunda gak mau anak-anak bunda kena masalah, itu aja, kalian harus ngertiin, kalau masalah restoran hancur bunda gak masalahin, yang penting anak-anak bunda gak ada yang cedera, harta bisa di cari, tapi kalau nyawa gak bisa, itu alasan kenapa bunda ngelarang kalian untuk terjun langsung ke dalam misteri itu"


"Kami akan berusaha untuk hati-hati bun, bunda hanya tinggal doakan saja semoga kami baik-baik aja, kami mohon sekali tolong bunda tetap izinkan kami buat terus cari tau ada apa di balik perayaan itu, ini sudah setengah jalan bun, kalau kami berhenti, sia-sia usaha kami selama ini, tolonglah bun tetap izinkan kami buat mecahin misteri ini"


"Baiklah, bunda akan tetap izinin kalian, asalkan kalian harus hati-hati, jangan sampai kalian terluka walau sedikitpun"


Kami semua mengangguk kompak.


"Siap bun, kami akan terus berusaha untuk waspada pada apapun yang berada di depan, bunda tenang saja"


"Ini bun, rekaman pengakuan pak Tejo, aku dan Aliza tadi nyari bukti ini sampai-sampai kami masuk ke dalam rumah pak Tejo hanya karena ingin nyari tau apakah dia ikut terlibat atau tidak, lihat rekaman ini, jika kalian masih belum percaya kalau pak Tejo lah orang yang sudah bikin restoran hancur" Alisa memberikan rekaman itu pada mereka semua biar mereka percaya.


Mereka melihat rekaman pengakuan pak Tejo, mereka shock, mereka tak menyangka pak Tejo akan sejahat itu.


"Jadi memang benar kalau pak Tejo orang yang sudah bikin restoran hancu" tercekat ayah yang melihat rekaman itu.


"Benar ayah, dia adalah orangnya, mangkanya aku dari tadi ngomel-ngomel karena dia sudah berani-beraninya ngusik keluarga kita, aku gak terima dia bikin restoran hancur kayak gitu, om tolong tangkap pak Tejo, dia harus di hukum, aku gak terima dia telah buat restoran hancur gitu aja, dia kira dirinya siapa main seenaknya ngancurin restoran orang" titah Alisa yang kesal sekali pada pak Tejo.