The Indigo Twins

The Indigo Twins
Hantu di kolom meja



Di meja makan sudah ada Alisa, Reno, Ustadz Fahri, Dita, Arif dan juga Rani sedangkan mbk Rinda masih nerada di dapur sedang mencuci peralatan dapur yang kotor.


"Kamu kemana aja, kok lama banget" kata Alisa.


"Gak kemana-mana, cuman tadi itu aku sempat di-


Perkataan ku terpotong saat merasakan ada tangan yang dingin sekali tengah memegangi kaki ku.


Glup!


Aku langsung menelan ludah pahit.


"Di apa?" tanya mereka yang penasaran dengan kelanjutannya.


"Gak ada apa-apa" jawab ku.


Aku kemudian duduk di meja makan dengan perasaan yang tegang sebab tangan yang dingin itu masih terus menyentuh kaki ku.


"Siapa yang megang kaki aku" batin ku yang masih di landa rasa tegang.


Aku masih diam sedangkan yang lain tengah menyantap hidangan di atas meja.


Angkasa yang melihat ku diam saja merasa aneh.


"Kenapa diam, makan dong" kata Angkasa.


Aku mengangguk lalu mulai menyantap makanan ku dalam keadaan yang masih di landa rasa tegang sebab tangan dingin itu masih terus memegangi kaki ku.


Angkasa merasa ada yang aneh dari diri ku.


"Kok Aliza aneh ya, kenapa dia sebenarnya, kenapa berubah draktis gini, apa yang sebenarnya terjadi padanya" batin Angkasa yang sangat penasaran.


Angkasa berusaha mendengar suara hati ku untuk tau apa yang aku alami saat ini sehingga aku berubah draktis begini.


"Arrrrgh kenapa aku tidak bisa dengar suara hatinya, kan aku gak bisa tau apa yang dia alami saat ini" batin Angkasa.


Angkasa terus melihat gelagat aneh yang terpancar di wajah ku sedangkan aku yang di tatap hanya bisa diam karena tangan dingin itu masih setia memegangi kaki ku.


Setelah selesai makan mereka semua masih belum beranjak dari tempat duduk.


"Kenapa mereka gak ada yang pergi, kan aku gak bisa bergerak juga" batin ku.


Angkasa yang mendengar suara hati ku langsung mengerutkan alis.


"Gak bisa bergerak, kenapa Aliza bilang gitu, apa yang sebenarnya terjadi padanya" batin Angkasa yang semakin penasaran.


"Za" panggil Angkasa.


Aku langsung melihat ke arahnya.


"Kenapa?" tanya ku.


"Kamu gpp?" tanya Angkasa.


Aku hanya menggeleng dengan wajah yang ketakutan tapi berusaha menahannya agar mereka juga tidak ikut takut.


"Iya, kok kamu kayak aneh gitu, kamu kenapa sebenarnya, gak biasanya kamu kayak gini?" tanya Alisa yang juga merasakan hal yang sama.


"Aku gak apa-apa kok, semuanya baik-baik saja" jawab ku dengan tersenyum berharap mereka percaya.


"Enggak za, kamu gak lagi baik-baik aja, cepat katakan, ada apa sebenernya" kata Angkasa yang tidak percaya dengan ucapan ku.


"Mati, aku harus jawab apa" batin ku yang tak mau mereka tau kalau sebenarnya ada tangan yang sangat dingin yang lagi memegangi kaki ku.


Mereka melihat ke arah ku, mereka merasa ada yang aneh dengan diri ku.


"Za kamu kenapa?" tanya Ustadz Fahri.


Aku masih diam dengan perasaan yang campur aduk.


"Ada dia di sini, mangkanya dia buat kak Aliza seperti itu" jawab Dita dengan tatapan lurus ke depan.


"Dia, dia siapa?" tanya mereka semua.


"Tuh, dia ada di bawah" jawab Dita.


"Astaghfirullah" terkejut Ustadz Fahri.


"Arrrrgghh"


Teriak Alisa yang melihat tatapan menakutkan kuntilanak itu.


Mereka semua langsung beranjak dari tempat duduk kecuali aku dan Dita.


"Za, kenapa kamu gak bilang kalau ada dia di sini?" tanya Angkasa yang tidak habis pikir.


"Aku cuman gak mau kalian takut, mangkanya aku diam" jawab ku.


Mendengar hal itu Angkasa makin tak habis pikir pada ku yang hanya diam saat ada kuntilanak itu.


"Sekarang tolong usir dia dari sini, aku udah gak kuat lagi" tintah ku.


Dengan cepat Ustadz Fahri langsung mendekati kuntilanak yang masih berada di kolom meja untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an biar dia pergi.


Belum sempat Ustadz Fahri membaca ayat kursi kuntilanak itu langsung menghilang.


"Bagaimana tadz?" tanya Alisa yang menempel pada Reno.


"Dia sudah pergi" jawab Ustadz Fahri.


Mereka semua yang mendengar ucapan Ustadz Fahri langsung lega.


"Syukurlah kalau dia sudah pergi" kata Alisa bernapas lega.


Mereka kembali duduk di meja makan.


"Kenapa ada kuntilanak di dalam rumah ini, berasal dari mana dia?" tanya Alisa tak habis pikir.


"Gak tau juga, kemungkinan besar dia ngikutin kita entah itu dari kebun ataupun dari jalan, kan tadi kita pulang dari kebun saat suasana magrib, biasa aja ada hantu yang ngikutin kita sampai ke sini" jawab Angkasa.


"Tapi masalahnya kenapa mbk Hilda dua Kun dan Tiger gak kelihatan, pergi kemana mereka bertiga, kenapa mereka gak halau hantu itu yang hendak gangguin kita" tak habis pikir Alisa pada mereka yang hilang di saat keadaan genting seperti ini.


"Coba deh kamu panggil mereka, suruh mereka ke sini" kata Angkasa.


Alisa mengangguk lalu memanggil mereka bertiga.


Tak lama dari itu mereka berempat muncul di sini.


"Kenapa kalian manggil kami?" tanya mbk Hilda yang tidak tau apa-apa.


"Kemana aja kalian, kalian tau gak barusan ada kuntilanak yang gangguin Aliza, untung dia belum sempat nyelakain Aliza" jawab Alisa.


"KUNTILANAK"


Terkejut mereka yang mendengar ucapan Alisa.


"Iya kuntilanak, dia barusan berhasil gangguin Aliza, yang artinya kuntilanak itu sudah masuk ke dalam rumah ini, kalian kemana aja, kenapa gak usir dia" kata Alisa.


"Kami tadi ada di luar loh, kenapa bisa ada kuntilanak yang masuk ke dalam rumah ini, dia ngikutin kalian dari mana" penasaran mbk Hilda pada asal kuntilanak itu.


"Pasti dari kebun" jawab Angkasa.


"Kayaknya gak mungkin deh kalau dari kebun karena tadi kita udah usir hantu yang gangguin Alisa, kami yakin sekali dia gak akan ngikutin kalian lagi" yakin mbk Gea.


"Terus dari mana kuntilanak itu sehingga ngikutin kita sampai ke rumah?" tanya ku.


"Mungkin aja dari jalan, tadi kan pas di jalan ada sosok yang lewat dengan cepat" jawab Ustadz Fahri.


"Kalian di ganggu saat pulang ke desa?" tanya mbk Santi yang terkejut.


"Iya mbk, tadi itu di jalan kami lihat ada sosok yang melintas dengan cepat, kami rasa sosok itu adalah kuntilanak yang barusan megang kaki aku" jawab ku.


"Kenapa kita sampai kecolongan gini, perasaan baru sebentar kita tinggalin kalian, tapi kalian malah di ganggu sama hantu aja" kata mbk Hilda.


"Iya juga, tau gini kita gak akan tinggalin kalian" kata mbk Gea.


"Oh ya kalian tadi pergi kemana, kenapa gak kawal kita saat kita pulang ke desa?" tanya Alisa.