
"Ish dasar nih bocah berenang-renang aja macam Putri Dugong Alisa-alisa" batin Reno yang melihat Alisa begitu senang sekali.
Reno langsung melompat ke dalam air danau, Ustadz Fahri membuka pecinya lalu menyusul Reno.
Aku menyelam ke dalam, Angkasa mengikuti ku.
"Kita tangkap yuk ikannya" kata Arif.
"Iya, nanti aku akan tarok di akuarium dan akan aku simpan di kamar aku" jawab Rani.
"Aku juga akan melakukannya, ayo kita tangkap ikannya sendiri, nanti kalau tidak bisa, nanti kita minta tolong sama kak Alisa atau kak Aliza" kata Dita.
"Iya" jawab mereka kompak.
Mereka bertiga bocah-bocah cilik sibuk menangkap ikan-ikan mas untuk di pelihara.
Aku keluar dari dalam air ia duduk di batu besar, air terjun berjatuhan membasahi tubuh ku.
Angkasa duduk di samping ku, kami berdua menikmati segarnya air terjun.
"Dingin banget air terjun ini" kata ku.
Akh berdiri air terjun berjatuhan membasahi tubuh ku, aku merentangkan tangan menikmati segarnya air terjun.
Aku begitu menikmati segarnya air terjun, seketika rasa lelah yang sudah 9 hari aku hilang dari muka bumi langsung lenyap.
Dari jarak yang lumayan jauh ada gelembung-gelembung air yang di dalamnya ada penghuninya yang dapat di pastikan bukan manusia dan bukan juga hewan tengah memperhatikan kami tanpa kami sadari.
Gelembung-gelembung itu menghilang saat Alisa dan Reno mendekatinya.
"Ren aku dapat ikan" kata Alisa yang sejak tadi mengejar ikan mas.
"Lepasin aja sa, kita juga udah makan kok, kasian biar bisa beranak lagi, nanti kita tangkap aja lagi setelah udah besar" jawab Reno.
"Oke, mudah-mudahan Aliza mau ngijinin aku ke sini lagi lain kali" kata Alisa penuh harapan.
"Semoga aja" kata Reno.
Tiba-tiba mata Alisa manangkap seseorang.
Seketika senyuman Alisa hilang saat melihat seorang wanita yang sedang berkacak pinggang berdiri di pinggir danau.
"Ya Allah kalian ini, ayo naik-naik nanti sakit" kata bunda yang melihat kami semua sedang bersenang-senang di danau.
"Bunda ih lagi seru-serunya juga, bunda ini gak tau apa kalau Alisa baru bisa merasakan lagi air danau, setelah sekian lama Aliza melarang aku buat datang ke sini" kata Alisa yang gak rela untuk berhenti bermain air.
"Ayo nanti sakit, nanti kalau Aliza melarang kamu datang ke sini bunda tangani yang penting sekarang kalian pulang dulu, ayo nanti sakit main air terus" kata bunda.
"Ya udah deh" jawab Alisa.
Kami semua menghela napas lalu mau tak mau harus mengikuti perintah bunda.
Kami membereskan peralatan yang tadi kami bawa dan berjalan pulang ke rumah.
"Mandi gih sana, ganti baju biar gak kedinginan" suruh bunda saat sudah berada di rumah.
"Baik Bun" jawab kami.
"Za" panggil bunda.
"Ada apa Bun?" tanya ku.
"Tukang pijitnya bentar lagi akan segera sampai, kamu siap-siap" jawab bunda.
"Baik Bun" balas ku.
Aku lalu menaiki tangga untuk sampai di kamar.
Aku membersihkan tubuh ku, setelah selesai aku menunggu tukang pijit yang bunda maksud datang.
Tak berselang lama dari itu datanglah seorang tukang pijit yang bunda panggil.
Aku di pijit oleh beliau di dalam kamar ku.
Sore harinya kami semua sedang duduk-duduk santai di ruang tamu karena hari ini kami shift malam.
"Arif orang mana?" tanya Alisa.
"Arif gak ingat kak, setelah pulang dari alam gaib Arif melupakan segalanya, Arif masih ingat dengan orang tau Arif, tapi Arif lupa jalan untuk pulang" jawab Arif.
"Arif mau gak tinggal di sini, nanti kalau kami ada waktu, kami pasti akan cari orang tau kamu" kata ku.
"Arif mau kak" jawab Arif.
"Anak-anak selama satu Minggu ini bunda sama ayah gak ada di rumah, kami mau membuka cabang restoran Qien, pesan bunda kalian boleh berpetualang, tapi ingat jangan sampai kenapa-napa oke" kata bunda yang begitu mengejutkan kami.
"Siap bunda" jawab mereka.
"Wah bahagianya diri ini, aku bisa nanti kemanapun tanpa harus di tanya ini itu oleh bunda" batin Alisa yang begitu sangat senang sekali.
Bunda berjalan hendak keluar dengan menyeret kopernya.
"Bunda Aliza ikut" kata ku.
Bunda langsung menghentikan langkahnya.
"Nanti aja dek, di sana masih berantakan, nanti juga bunda sama ayah bakal ajak kalian ke sana, untuk kali ini jangan dulu" jawab bunda.
"Baiklah" jawab ku dengan terpaksa harus menuruti keinginan bunda.
"Ingat jaga rumah ya" perintah bunda.
"Bunda mau berangkat sekarang?" tanya Alisa.
"Besok pagi bunda berangkat, sekarang bunda cuman kemas-kemas aja agar enak besok langsung berangkat" jawab bunda.
"Tapi bunda perginya cuman seminggu kan?" tanya ku memastikan.
"Iya, bunda cuman seminggu saja perginya, kalian jangan khawatir, bunda pergi gak lama kok" jawab bunda.
Aku mengangguk, bunda lalu memasukkan koper ke dalam bagasi.
"Bunda Arif melupakan arah jalan pulang menuju rumahnya, untuk sementara biarkan dia tinggal di sini ya?" tanya Alisa yang melihat bunda kembali mendekati kami.
"Iya gak apa-apa, nanti kalian cari rumah Arif, kasihan keluarganya, mereka pasti cemas mikirin Arif" jawab bunda.
"Iya, nanti kamu juga akan nyari kok Bun, bunda tenang aja, gak usah mikirin hal ini" kata ku.
"Kalian jaga baik-baik rumah dan restoran selama bunda pergi, kalian berdua handle dulu restoran untuk sementara, nanti kalau semisal ada kendala, tinggal telpon bunda atau ayah, nanti kami pasti akan langsung pulang" kata bunda.
"Baik Bun" jawab kami.
Keesokan harinya.
Matahari bersinar terang yang membuat kami harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolahan.
Setelah kami memakai seragam, satu persatu kami turun ke bawah untuk sarapan.
"Bunda gak lama kan perginya?" tanya ku.
"Enggak dek, bunda sama ayah perginya gak lama kok, kalian jaga diri ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi kami" jawab ayah.
"Baik ayah" jawab kami.
Kami kembali meneruskan sarapan, setelah selesai makan, kami satu keluarga berangkat menuju tujuan masing-masing.
Saat sudah sampai di jalanan raya yang besar mobil bunda dan ayah berpisah dengan kami.
Arah tujuan kami dengan tujuan bunda berbeda sehingga kami harus berpisah.
Motor yang Angkasa kendarai terus melaju hingga sampai di sekolahan.
Angkasa melirik ku yang masih masam.
"Udah jangan cemberut, nanti juga kita akan nyusul bunda kok, kamu jangan sedih terus" kata Angkasa.
"Hmm iya dah" jawab ku tak semangat.
"Ayo kita masuk ke dalam kelas sebelum tekat lagi kayak waktu itu" ajak Angkasa.
Aku hanya mengangguk dan berjalan mengikutinya.
"Weh weh weh" kata anak kelas yang heboh saat melihat kedatangan kami.
Kami berdua saling menatap satu sama lain lalu beralih menatap teman-teman sekelas kami yang tampak heboh dengan kedatangan kami.
"Kalian masih hidup, selama 9 hari loh kalian menghilang dari muka bumi ini?" tanya Roki menatap tak percaya dengan kedatangan kami.
"Iya kami memang sudah pergi selama itu, tapi gak pergi selamanya juga kali" jawab Angkasa.
Roki mengucek matanya tak percaya.
"Kalian hilang kemana, aku pikir kalian udah koit" kata Roki heboh sendiri.
Anak kelas juga terkejut melihat kedatangan
kami setelah sekian hari tak ada kabar tentang hilangnya kami.
"Busuk banget tuh mulut" kata ku.
"Ini beneran kamu za" kata Roki masih tak percaya.