
"Jangan pergii" teriak Alisa yang terus mengejar selendang hitam.
Tiba-tiba selendang hitam itu menghilang ketika sampai di depan rumah.
"Loh kok ngilang"
"Pergi kemana dia, kenapa tiba-tiba ngilang?" Alisa melihat ke sekelilingnya, namun tak menemukan keberadaan selendang hitam yang ia kejar barusan.
"Aneh, kenapa dia ngilang ketika sampai di rumah?" mulai merasa aneh Angkasa.
"Pergi kemana dia sebenernya, kenapa tiba-tiba hilang, padahal kita ingin tau dia hinggap di rumah siapa"
"Kalian kenapa pada ada di sana" tatapan kami semua langsung tertuju pada bunda yang berdiri di ambang pintu.
"Apa yang kalian cari?" sekali lagi bunda bertanya karena melihat ada keanehan dari diri kami.
"Kami lagi nyari se-
Bunda langsung mengernyitkan dahi."Se apa sa?"
"Enggak kok bun, ayo kita ke sana"
Alisa menatap tak mengerti pada ku yang tiba-tiba menutup mulutnya di saat ia ingin menjelaskan segalanya pada bunda.
"Ada apa za?" bisik Alisa di telinga ku.
"Gak ada apa-apa, ayo kita masuk ke dalam dulu"
Alisa mengangguk, kami masuk ke dalam rumah.
"Ini sudah malam, sana kalian istirahat, jangan keluyuran lagi" perintah bunda.
"Baik bun" jawab kami semua.
Kami masuk ke dalam kamar masing-masing, Alisa membuntuti ku sampai di dalam kamar.
"Za kenapa kamu gak bolehin aku bilang yang sebenarnya sama bunda tentang selendang hitam itu?"
"Karena aku gak mau bunda marah, sebab kita masih ikut campur dalam misteri itu, udah kita gak usah bilang-bilang sama bunda, kita pecahin misteri ini bersama-sama, gak usah beri tau bunda, biar bunda lebih fokus ke restoran aja"
"Iya juga, restoran lagi hancur parah, ayah sama bunda pasti sekarang lagi sibuk urus restoran"
"Nah mangkanya dari itu kita gak usah bilang, biar gak nambah masalah bunda, perayaan itu kan sudah usai, jadi sekarang kita bisa sedikit tenang, karena perlahan-lahan misteri di desa ini mulai terpecahkan, walaupun agak sulit untuk mecahinnya"
Alisa mengangguk."Za aku mau tidur sama kamu ya, aku takut tidur di kamar sendirian, apalagi tadi aku dengar langsung kalau pak Jarwo jadi hantu, aku takut banget, gak kebayang deh lihat wajahnya yang berdarah-darah kayak gitu, iih serem, nyesel aku datang ke rumah pak Jarwo, tau gini aku gak bakal datang ke sana"
"Iya kamu boleh tidur di sini, kamu gak usah bahas lagi tentang dia, ayo kita tidur aja, ini sudah malam"
Alisa setuju, kami merebahkan tubuh di kasur dan mulai memejamkan mata.
Angkasa membuka pintu kamarnya, tiba-tiba ia mencium bau pandan dan bunga mawar saat pintu itu terbuka.
"Kok kamar aku bau kembang?"
Angkasa merasa aneh, ia masih berdiri di ambang pintu tak berani masuk ke dalam.
Angkasa mengendus bau kembang itu yang semakin lama semakin menyengat.
Angkasa menutup pintu kamarnya, ia tak jadi masuk ke dalam kamar itu karena tubuhnya yang tiba-tiba di serang rasa merinding.
Angkasa berjalan mendekati ruang tamu.
Praang!
Langkah Angkasa langsung terhenti saat telinganya mendengar suara piring pecah.
"Suara apa itu, kok berasal dari dapur?"
"Apa ada masalah ya di dapur?"
"Aku harus cek"
Angkasa masuk ke dalam dapur untuk tau ada apa sebenarnya.
"Kok gak ada apapun, barusan aku dengar suara piring pecah dan itu jelas banget, kenapa saat aku datang ke sini, semuanya aman, gak ada satupun piring yang pecah?"
Mata Angkasa melihat ke sekeliling dapur, namun tetap saja tidak ada apapun yang mencurigakan di dapur.
"Aneh"
Setelah mengatakan hal itu Angkasa pergi meninggalkan dapur, ia duduk di ruang tamu sendirian, ia tak berani masuk ke dalam kamarnya.
Angkasa membuka aplikasi berwarna hijau di hpnya, ia menekan nomor tante Lani.
"Assalamualaikum ma"
"Wa'alaikum salam"
"Gimana kabar abang ma, dia baik-baik aja kan?"
"Iya, abang mu baik-baik aja, dia sudah mendingan, lukanya gak terlalu parah, cuman lecet-lecet saja"
"Mama kapan pulang ke indo lagi?"
"3 hari lagi, cuman mama akan ke Bandung dulu, kamu di sana saja dulu, kalau kamu mau pulang ke rumah juga gak apa-apa, ada bibi di sana, kamu gak usah kuatir tinggal sendirian"
"Iya ma, sebenarnya aku lebih suka di sini ma, kabarin ya ma kalau mama mau ke sini lagi, nanti Angkasa bakal jemput di bandara"
"Siap, mama tutup dulu ya, di sana pasti udah malam kan?"
"Iya, mau jam setengah satu"
"Loh kok kamu masih belum tidur?"
"Gak ngantuk ma, lagi pula besok masih libur, jadi gak apa-apa Angkasa tidur malem"
"Libur, besok kan bukan hari minggu, kenapa di sana libur?"
"Ada tragedi di sekolah, jadi terpaksa seluruh murid di liburin"
"Oh gitu, ya udah mama tutup dulu, assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam"
Panggilan telepon itu berakhir, Angkasa menghela napas saat kini ia sudah tidak ada kerjaan lagi.
"Kemana ya di jam segini, duduk manis di sini sampai matahari terbit gak mungkin, lebih baik aku keluar aja cari makanan, pasti ada orang yang masih jualan di jam segini"
Angkasa mengambil kontak motornya lalu mengeluarkan motor dari dalam garasi dengan sepelan mungkin, ia khawatir ada orang yang mendengarnya dan akan membuatnya tidak akan bisa keluar rumah.
Angkasa mendorong motor itu agar menjauh dari rumah, baru ia menghidupkan motor karena ia tak mau suara motor itu terdengar di telinga salah satu di antara mereka yang masih terlelap dalam tidur.
Angkasa melajukan motornya keluar dari desa.
Jalanan desa yang gelap Angkasa lewati, memang ada lampu yang di pasang di jalanan tersebut, namun tetap saja jalanan itu terlihat gelap dan menakutkan.
Ketika melewati jalanan itu, Angkasa tampak tenang, tidak ada rasa merinding yang menghampirinya walaupun jalanan tengah sepi dan sunyi.
Tak berselang lama dari itu, motor yang Angkasa lajukan keluar dari jalanan desa dan bertemu dengan jalan raya yang sepi karena sudah larut malam.
"Kok tumben jalanan raya sepi, pada kemana orang-orang, masa jam segini tidur?"
Satupun kendaraan tak terlihat di mata Angkasa namun tak membuat keinginannya ia urungkan.
"Mana ya, kok gak ada orang yang jual makanan, apa ini sudah malem banget, sehingga udah pada pulang?"
Angkasa melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya."Mau hampir jam 1 pas, tapi masa iya jam segini pada pulang, biasanya kan sampe jam 3"
"Makan apa ya di jam segini, mau ke restoran tapi restorannya udah pada nutup, perut malah laper, masa aku kembali dengan tangan kosong?"
"Aku cari aja dulu deh, nanti juga akan dapat"
Angkasa terus melajukan motornya ke sebelah timur, dengan harapan akan ada pedagang yang masih jualan di jam segini.