
"Baiknya Bunda, makin tambah cantik deh ah" kata Alisa.
Bunda hanya diam karena ia sudah benar-benar kalau telak dengan kami bertiga.
"Bunda punggung dede sakit, saat itu punggung dede belum di pijit, dede hanya mengoleskannya dengan minyak kayu putih doang" kata ku.
"Besok bunda panggilin tukang pijit, ayo makan dulu baru istirahat" ajak bunda.
Kami mengangguk lalu menuju meja makan dan makan bersama malam ini.
Setelah selesai makan aku menaiki tangga untuk menuju kamar ku.
"Za, za tunggu" teriak Alisa.
Aku menghela napas dan melihat ke belakang.
"Apaan?" tanya ku melihat ke arahnya yang hanya bisa cengar-cengir saja.
"Malam ini aku boleh tidur sama kamu ya" jawab Alisa dengan mengedipkan matanya terus menerus.
"Nih anak cacingan apa gimana, kenapa tuh mata bisa berubah menjadi lampu disko yang terus menerus berkedip-kedip" batin ku.
"Iya boleh" jawab ku lalu kembali melanjutkan berjalan menuju kamar.
"Yes, yes, yes" senang Alisa.
Alisa mengikuti ku dari belakang.
Aku membuka pintu kamar lalu masuk ke dalamnya.
"Za kamu pergi kemana sebenernya, kenapa lama banget, bunda sama ayah itu risau banget saat kamu pergi, aku gak tega lihat ayah sama bunda yang bingung mau nyari kamu di mana saat aku hilang" kata Alisa dengan memeluk tubuh ku.
"Gak usah lebay-lebay, aku di alam gaib itu berusaha sekuat tenaga untuk bisa pulang, emang enak apa masuk ke dalam alam gaib yang banyak sekali hantu-hantu yang seram banget" jawab ku.
"Kamu gak di ganggukan sama mereka?" tanya Alisa tercekat.
"Ya di ganggu, kalau aku dan Angkasa gak di ganggu sama mereka kan enak kami gak usah lari-larian hanya karena di kejar-kejar sama hantu" jawab ku.
Tiba-tiba semua teman-teman gaib ku muncul di dalam kamar ini.
"Untung kamu bisa keluar dari sana, kalau tidak aku akan kehilangan kamu untuk selamanya, aku gak mau itu terjadi" kata Alisa.
Dia begitu menyayangi ku meski terkadang dia selalu mengusili ku yang membuat ku kesal namun aku juga begitu menyayanginya.
"Gak akan itu terjadi, eh tunggu-tunggu kenapa pas aku tersesat di alam gaib gak ada satupun yang bantuin aku?" tanya ku yang tak habis pikir sama mereka semua yang tidak menolong ku sama sekali.
"Mana bisa kita bantuin kamu, orang kita aja susah banget masuk ke dalam tempat yang di dalamnya ada kamu dan Angkasa, mbk sih ngerasa kalau ada makhluk halus yang kekuatannya lebih besar di bandingkan kami, dan dia yang sudah membuat semacam perisai agar kami tidak bisa menolong kamu" jawab mbk Santi.
"Kami sebenarnya pengen banget bantu kamu za, tapi sayangnya keadaan sedang tidak memungkinkan, kami terus berusaha buat bisa bawa kamu pergi, namun tidak bisa, jadi maafkan kami" kata mbk Gea merasa gagal.
"Baiklah aku akan memaafkan kalian, eh kalian ada yang kenal gak sama kuntilanak yang mengganggu ku di alam gaib itu, kalian kan sama-sama kuntilanak, kalian pasti tau dong siapa dia?" tanya ku.
"Emang kenapa dengan kuntilanak itu?" tanya mbk Hilda.
"Kalian tau gak, kuntilanak itu terus ngejar kami berdua yang membuat kami sangat takut banget, pasalnya kuntilanak itu bilang dia gak mau melepaskan kami dan akan memberi kami pelajaran, kami yang mendengar itu semua otomatis takut dan yang kami lakukan saat itu hanya berlari tanpa kenal arah" jawab ku.
"Kok bisa kuntilanak itu ngejar kamu, emang apa yang sudah kamu lakukan?" tanya mbk Santi penasaran.
"Aku gak ngelakuin apa-apa, cuman Angkasa nimpuk dia yang terus tertawa agar bisa berhenti, eh gak taunya setelah kejadian itu kuntilanak seram itu malah ngejar kami, dia juga nimpuk kami dengan ribuan batu terus menerus, aku sudah berusaha buat minta maaf sama dia, tapi dia tidak mau memaafkan kita sama sekali" jawab ku.
"Pantesan kuntilanak itu ngejar kalian, orang kalian duluan yang ngajak perang" kata mbk Gea.
"Kami kan awaknya cuman berpikir kalau kuntilanak itu sama kayak kalian, eh ternyata gak sama sekali, sumpah aku gak mau lagi ketemu sama dia, aku sudah kapok di kejar-kejar sama dia terus menerus sampai kaki aku sakit" jawab ku.
"Untung kamu bisa lolos dari dia" kata mbk Santi.
"Iya, kami udah bingung banget ada di mana sebenarnya, untung aja kami bisa pulang, ini semua berkat kunang-kunang yang membawa kami keluar dari dalam alam gaib" jawab ku.
"Kunang-kunang" tercekat mereka.
"Iya kunang-kunang" jawab ku.
"Kamu bertemu di mana dengan kunang-kunang itu?" tanya mbk Santi.
"Di jalanan gelap itu, di pertengahan jalan ada kunang-kunang yang banyak sekali tengah diam seperti nungguin kami, lalu kami ngejar mereka buat nangkap mereka agar bisa di jadikan penerangan jalan yang gelap banget, eh gak taunya semua kunang-kunang itu malah terbang lurus ke depan dan pada akhirnya kami keluar dan bertemu dengan bukit yang di bawahnya ada air terjunnya" jawab ku.
"Dapat di simpulkan kalau di dekat air terjun itu adalah jalanan penghubung antara alam gaib dengan alam manusia" kata Tiger.
"Bahaya gak?" tanya ku.
"Bahaya, kamu jangan coba-coba masuk ke dalam sana, jika kamu tidak mau terjebak lagi dalam alam gaib" jawab Tiger.
"Gak mau aku masuk ke dalam alam gaib lagi, aku juga gak bodoh main masuk ke dalam sana lagi, aku udah kapok masuk ke dalam alam gaib lagi, sumpah aku gak mau masuk ke sana lagi" kata ku yang sudah trauma dengan segalanya.
"Eh kalian tau gak, aku tadi gak sengaja lihat ada kuntilanak yang berdiri di dekat jalanan yang kamu maksud itu" kata mbk Hilda.
"Yang benar saja mbk, masa dia ngikutin aku sampai ke sini, gimana kalau di gangguin aku, aku gak mau dia ganggu aku lagi" kata ku mulai panik.
"Kamu tenang aja, mbk akan selalu jaga kamu, sekarang kalian tidurlah, biar kamu yang akan jaga kalian dari luar, kalian gak usah risau, sebisa mungkin kami akan berusaha menghadapi hantu-hantu yang mengganggu kalian" kata mbk Santi.
"Makasih" jawab kami.
"Sama-sama" balas mereka lalu menghilang dari hadapan kami.