The Indigo Twins

The Indigo Twins
Seperti ada seseorang yang berusaha keluar dari dalam lemari besar



"Bunda buka, Aliza mau keluar, bunda tolong bukain" isak ku dengan terus menggedor-gedor pintu.


"Bundaa, buka pintunya" tidak jawaban yang aku dengar, bunda benar-benar tak mengizinkan ku untuk keluar dan membantu mbk Indri.


Aku memeluk tubuh ku sendiri dengan air mata yang terus mengalir.


tok


tok


tok


Tiba-tiba telinga ku menangkap suara ketukan.


Aku mendongak menatap pintu di belakang ku.


"Bukan dari sini, lalu dari mana asal suara itu?"


tok


tok


tok


Suara ketukan itu terdengar kembali.


Aku bangun dari duduk dan mencari asal suara ketukan itu, aku melihat sekeliling kamar ku yang tidak ada apapun yang mencurigakan.


"Tidak ada apapun di sini, lalu dari mana asal suara ketukan itu"


Suara ketukan itu tiba-tiba berhenti begitu saja.


Aku hendak ke balkon tiba-tiba.


tok


tok


tok


Suara ketukan itu kembali ku dengar.


Tatapan ku kini jatuh pada lemari besar yang ada di dalam kamar ku, lemari besar itu tidak pernah ku buka, lemari itu peninggalan nenek buyut ku yang bunda taruh di dalam kamar ku.


Aku mengerutkan alis melihat lemari besar yang di dalamnya seperti ada orang yang ingin keluar.


"Siapa yang ada di dalam kamar itu?"


Aku berjalan mendekati lemari itu.


tok


tok


tok


Semakin aku mendekatinya orang yang berada di dalam lemari itu semakin keras berusaha untuk keluar.


Kini aku sudah berada tepat di depan lemari besar itu.


Dengan tangan gemetaran aku membuka lemari itu.


"Arrrrgghh"


Tubuh ku masuk ke dalam lemari itu.


Brukk


Tubuh ku jatuh di sebuah hutan yang tidak asing bagi ku.


"Ini bukannya hutan yang sama yang berada di desa gaib?"


Aku melihat sekeliling ku dan ternyata benar kalau hutan itu tidak asing.


"Iya ini hutan yang sama, gak salah lagi aku memang kembali masuk ke dalam desa gaib itu"


"Eh tapi kenapa di dalam lemari besar itu terdapat portal menuju ke sini, apa mungkin aku selama ini gak sadar kalau lemari itu sama seperti lemari besar yang ada di rumah mbah Gamik?"


"Lemari itu kan peninggalannya nenek buyut, mungkin saja nenek buyut ku mempunyai portal menuju ke sini, baguslah kalau seperti itu, aku tidak usah repot-repot datang ke rumah mbah Gamik hanya untuk masuk ke sini"


"Mbk Indri" tiba-tiba aku teringat pada mbk Indri yang menjadi tujuan awal ku.


"Aku harus bisa selamatin mbk Indri, aku tidak akan biarkan dia teriksa di sini"


Aku berlari masuk ke dalam desa gaib dan menuju rumah pak lurah yang lumayan jauh itu.


Desa gaib itu sepi dan sunyi, tidak ada satu orangpun yang aku lihat di sini, aku bisa bebas berkeliaran di desa ini karena memang orang-orang di desa tidak ada di rumahnya, mereka semua berada di rumah pak lurah.


gong


gong


gong


"Aku harus cepat-cepat sampai di sana, aku tidak akan biarkan mbak Indri selamanya berada di sini dan menikah dengan makhluk halus hanya karena keserakahan ayahnya, aku tidak akan biarkan hal itu terjadi, mbk Indri tolong tunggu aku, aku akan ke sana nyelamatin mbk"


Aku terus berlari menuju rumah pak lurah yang masih sangat jauh.


Brukk


Tubuh ku tak sengaja menabrak seseorang, aku langsung tegang karena takut dia tau kalau aku masih berstatus manusia bukan makhluk halus sepertinya.


"Matilah aku, aku harus apa" batin ku yang ketar-ketir dengan terus menunduk tak berani menatap siapa yang sudah ku tabrak.


"Kenapa kau masih ada di sini" bentak keras orang itu.


Aku yang mengenali suara itu langsung mendongak menatap ke arahnya.


"Ratih" terkejut ku saat orang yang ku tabrak ternyata adalah Ratih.


Ratih menatap tajam ke arah ku, mimik wajahnya sangat tak bersahabat ketika melihat ku.


"Katakan, kenapa kau kembali ke sini, apa yang mau kau lakukan lagi!" marahnya yang sangat tak suka pada kedatangan ku.


Aku bangun dari duduk ku."Aku tidak ingin melakukan apapun, aku hanya ingin ke rumah pak lurah saja"


"Jangan ke sana, pergi kau dari sini" usir Ratih.


"Aku tidak mau Ratih, aku tidak mau pergi dari sini, kali ini kau tidak bisa mencegah ku" aku mendorong tubuhnya agar tak menghalangi jalan ku.


Aku berlari meninggalkan dia yang terjatuh.


"Aliza awas saja kau, akan aku beri kau pelajaran" teriak Ratih.


Aku tidak mendengarkan ancamannya dan terus berlari menuju rumah pak lurah.


gong


gong


gong


Suara gamelan itu semakin keras tanda rumah pak lurah sudah mulai dekat.


Aku semakin semangat untuk segera sampai di sana sebelum acara pernikahan itu selesai di lakukan.


Aku masuk ke dalam semak-semak yang berada di sebelah kiri rumah pak lurah.


Dari sini aku dapat melihat dengan jelas semua aktivitas yang terjadi di halaman rumah pak lurah.


Semak-semak ini sangat gelap, tak akan ada orang yang tau kalau aku bersembunyi di sana.


Aku melihat banyaknya tamu undangan yang bersorak gembira saat acara tarian tradisional yang di lakukan beberapa warga telah usai.


Mereka semua bangun dari duduk dan melangkah meninggalkan rumah pak lurah.


"Kenapa mereka semua pergi, apa pernikahan mbk Indri sudah selesai, gawat aku terlambat, mereka sudah menikah, bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan, bisakah aku membawa mbk Indri pergi dari sini?"


Aku di landa rasa bingung, pandangan ku terus tertuju pada warga-warga yang meninggalkan rumah pak lurah untuk pulang ke rumah masing-masing.


Tatapan ku kini jatuh pada mempelai pria dan wanita yang turun dari pelaminan dan masuk ke dalam rumah pak lurah.


"Aku harus bisa bawa mbk Indri pergi dari sini, ini kesempatan emas buat aku membawanya pergi, pasti mbk Indri ada di kamar pojok itu, aku harus ke sana"


Aku dengan mengendap-endap berlari mendekati rumah pak lurah dengan melewati belakang pelaminan.


Aku bernapas lega saat tidak ada orang yang melihat ku.


Aku bergegas naik ke tumpukan batu bata dan melihat ke dalam kamar itu.


Tatapan ku jatuh pada seorang wanita berkebaya putih yang duduk dengan memeluk tubuhnya sendiri di pojokan, isakan tangisnya terdengar di telinga ku.


"Mbk Indri"


Wanita cantik itu mendongak menatap ke arah ku yang memanggilnya dengan suara pelan.


Wanita itu mendekati ku dengan air mata yang terus mengalir.


"Tolong aku, bawa aku pergi dari sini, aku tidak mau berada di sini" titah mbk Indri dengan isakan tangisannya.


"Iya mbk, aku akan bantu mbk, mbk cepet keluar lewat jendela ini"


"Bagaimana caranya, jendela ini tinggi, pakaian ku seperti ini, aku tidak bisa keluar lewat jendela" jawab mbk indri.


Tatapan ku jatuh pada kursi yang berada di dekat tempat tidur.


"Dengan kursi itu mbk"