The Indigo Twins

The Indigo Twins
Berpamitan



Kami masuk ke dalam rumah makan itu.


Kami semua memesan makanan yang di inginkan, tak lama dari itu pesanan pun datang.


Aku memesan ayam bakar 1 porsi berdua dengan Angkasa karena aku tau, aku tak akan bisa menghabiskan satu ekor ayam ini.


Kami mulai menyantap hidangan dengan di awali doa terlebih dahulu, aku memasukkan cubitan daging ayah bakar yang begitu enak itu ke dalam mulut.


"Ish sanaan" kata ku menepis tangan Angkasa.


"Kalau kamu gak mau tangan aku nyentuh tuh ayam, mending suapi aja aaa" jawab Angkasa.


Mulut Angkasa menganga lebar.


"Boleh juga, dari pada Angkasa makan sendiri dan malah membuat ayam bakar ini tak karuan bentuknya, lebih baik aku suapin aja" batin ku.


"Woy kok bengong" kata Angkasa.


Seketika lamunan ku menjadi buyar.


"Iya bentar" jawab ku


Aku menyuapi Angkasa dengan ayam bakar yang sudah ku campur dengan nasi.


"Sialan dua budak ini, kenapa mereka harus bermesraan di depan ku" batin Reno.


"Buka mulut" tintah ku.


"Aaaaa" jawab Angkasa.


Angkasa membuka mulut dan akupun langsung menyuapinya.


"So sweet sekali mereka berdua, aku gak boleh kalah ini, hmm Reno bisa aku andalkan ini" batin Alisa.


"Suapi juga" rengek Alisa dengan manja.


Reno menatap Alisa dengan satu mata dan satu alisnya terangkat.


"Tumben-tumbenan nih bocah mau kayak gini, tapi tak apalah, biar gak kalah saing sama mereka berdua" batin Reno menyetujui


"Sini" tintah Reno.


Dengan senang hati Alisa memberikan mie ayamnya, Reno kemudian menyuapi Alisa.


"Nyam nyam nyam" kata Alisa.


"Yang ini za" tunjuk Angkasa pada ayam bakar.


"Iya bentar" jawab ku.


Aku mencubit daging ayam bakar, aku memasukkan daging ayam itu ke sambal terasi yang begitu pedas lalu memasukkan ke dalam mulut Angkasa lengkap dengan nasi.


"Ren pakek jamur" rengek Alisa yang lebih lebay dari ku dan Angkasa.


"Hmm nih" jawab Reno.


Reno dengan telaten menyuapi Alisa yang tak mau kalah.


Setelah selesai makan, kami mampir ke masjid terdekat untuk menunaikan kewajiban.


Selesai sholat kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, Reno sedikit menambah kecepatan karena takut kemalaman.


Mata ku mulai terasa berat, tubuh ku sudah sangat letih, rasa kantuk menyerang ku, pelan-pelan aku tertidur, kepala ku jatuh tepat di bahu Angkasa.


"Dasar nih bocah main tidur aja, jalanannya pake rusak lagi, aku gak boleh ikut tidur, kalau tidak Aliza bisa bangun saat jalanan rusak menghantamnya" batin Angkasa.


Alisa yang duduk di samping Reno sudah terlelap dalam tidurnya.


15 menit berlalu, pada akhirnya mobil itu sampai juga di rumah.


Angkasa menepuk pipi ku dengan pelan.


Dengan sangat berat aku terpaksa membuka mata.


"Udah nyampe, kamu kembali ke kamar, lanjutin tidur sana" kata Angkasa.


Aku mengangguk lalu keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam kamar.


Aku langsung merebahkan tubuh ku yang sudah sangat letih, seketika mata ku langsung terpejam kuat.


Di sisi lain.


Reno melangkahkan kakinya di tanah yang luas dan lapang hingga dirinya berhenti di sebuah danau yang begitu indah.


Reno melihat danau dengan seksama, tatapannya tertuju kepada seseorang berpakaian putih yang begitu familiar yang saat ini duduk di bawah pohon rindang yang ada di danau.


Seseorang itu memberi kode melalui lambaian tangan seraya menyuruh Reno agar mendekatinya.


Reno berjalan mendekati seseorang yang tersenyum manis tersebut.


"Pak Beni" kata Reno.


Reno langsung menghambur ke dalam pelukan pak Beni dengan butiran bening yang keluar dari pelupuk matanya.


"Pak maafin Reno, Reno tidak bisa menyelamatkan bapak, andai Reno menuruti mama dan papa, mungkin Reno tidak akan kehilangan bapak huhu" tangis Reno.


Pak Beni mengusap lembut punggung Reno.


"Aden jangan nangis, ini semua sudah menjadi jalan akhir dari kehidupan saya, den Reno jangan merasa bersalah atas kematian saya, ingat den yang bernyawa semuanya akan merasakan yang namanya kematian, mungkin memang inilah takdir yang sudah Allah tentukan untuk bapak, den Reno jangan berpikiran seperti itu, baik sangat bersyukur aden masih bisa selamat" jawab pak Beni.


Reno masih terisak dalam pelukan hangat pak beni yang selalu membuat dia tenang.


"Tapi bapak yang pergi, Reno tidak mau bapak berkorban seperti ini, maafin Reno pak, bapak meninggal kerena Reno" tangis Reno yang teramat menyayangi pak Beni, beliau rela berkorban untuk menyelamatkan dirinya.


"Aden gak salah, ini semua sudah ada yang mengaturnya, ingat den kita semua akan kembali saat waktu kita sudah tiba, aden jangan merasa bersalah seperti itu, saya tidak apa-apa, saya malah senang bisa membantu den Reno, " jawab pak Beni.


"Terimakasih bapak sudah menyematkan Reno dan Rani, sampai saat ini Reno masih tidak menyangka jika bapak akan pergi secepat ini" kata Reno.


Pak Beni tersenyum mendengar hal itu.


"Aden jaga diri baik-baik, jaga juga non Rani, jangan sampai non Rani kesepian karena kehilangan pak Robi dan Bu Desi, aden harus buat non Rani mengerti, maaf bapak sudah tidak bisa menjaga den Reno seperti dulu, karena saat ini bapak sudah berbeda alam dengan aden, aden jangan pernah merasa bersalah tentang kematian bapak, semuanya ini sudah di atur oleh Allah SWT" kata pak Beni.


"Baik pak, Reno akan selalu jaga diri, bapak pergilah dengan tenang, jangan pikirkan Reno lagi, in syaa Allah Reno bisa jaga diri" jawab Reno.


Pak Beni tersenyum.


"Bapak pergi dulu den, aden hati-hati, jangan terjerumus ke lembah dosa" kata pak Beni.


"Reno tidak akan pernah melakukannya" jawab Reno.


"Pak pamit den, aden hati-hati di sini" kata pak Beni dengan melambaikan tangan.


Pelan-pelan tubuh pak Beni menghilang untuk selamanya.


Reno terbangun dari tidurnya, keringat bercucuran membasahi wajahnya.


"Pak Beni" butiran sebening kristal meluncur keluar dari pelupuk mata Reno kala teringat dengan nama itu.


"Pak Beni, terimakasih sudah menjadi teman terbaik Reno selama ini, Reno janji pak, Reno akan jaga Rani, semoga pak tenang di alam sana, Reno pasti akan selalu kirimkan doa untuk pak Beni" kata Reno.


"Ya Allah kenapa kau mengambil orang-orang yang aku sayangi, kau sudah mengambil pak Beni, kini kau juga sudah mengambil papa dan mama, Reno mohon jangan ambil orang-orang yang Reno sayangi lagi, Reno tak akan sanggup kehilangannya" kata Reno.


Isakan tangis terdengar lirih, Reno menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.


Sepanjang malam Reno menangis setelah pak Beni mendatangi mimpinya yang hanya ingin berpamitan sebelum pergi dan tak akan pernah kembali.