The Indigo Twins

The Indigo Twins
Halte bus



Kami terus berjalan tanpa henti, pergerakan di kanan dan kiri kami masih terus terjadi, namun kami berusaha untuk tidak mempedulikannya.


Tiba-tiba senyum merekah di bibir kami kala sadar jika hutan gelap ini sudah berakhir.


"Akhirnya kita keluar juga dari dalam hutan itu" syukur ku yang begitu senang sekali.


"Apa aku bilang, kita pasti bisa keluar dari dalam hutan itu, kamunya aja yang cengeng" kata Angkasa.


"Sstt jangan berisik, suasana hati ku sedang senang, kamu jangan membuatnya hancur, anggap saja kejadian tadi itu tidak pernah terjadi oke" kata ku menempelkan jari ku ke arah bibir Angkasa.


"Iya" jawab Angkasa.


Aku melihat ke jalanan raya, mata ku menangkap halte bus yang tak jauh dari posisi ku berdiri, tepatnya di seberang jalan.


"Sa di sana ada halte bus, kita tunggu bus di sana yuk" ajak ku girang.


Belum sempat Angkasa menjawab, aku langsung berlari ke sana karena sudah lelah berjalan sejak tadi, aku akan beristirahat di sana dan menungggu kedatangan bus.


"Etdah nih anak kenapa main ninggalin aja" kata Angkasa yang melihat aku berlari menuju halte bus.


"Za tunggu" teriak Angkasa lalu berlari mengejar ku.


Aku yang mendengar hal itu tidak menjawab dan masih terus berlari menuju halte bus dengan sangat senang hati.


Angkasa berlari mengejar ku yang semakin jauh.


Kami bisa leluasa berlari karena tak ada satu kendaraan pun yang melintas di jalan raya ini, sungguh jalan raya yang besar ini begitu sangat sepi, tidak ada tanda-tanda akan ada orang atau kendaraan yang melintas di sekitar sini.


Aku berhenti berlari setelah sampai di depan halte bus, aku menghadap ke belakang untuk melihat ke arah Angkasa.


"Ayo cepatan ke sini" kata ku yang melihat Angkasa terus berlari menghampiri ku.


"Kamu kenapa ninggalin aku?" tanya Angkasa setelah sampai di hadapan ku.


"Gak apa-apa" jawab ku lalu mengambil duduk di kursi panjang berwana merah yang terdapat di halte bus.


Aku duduk di samping ku.


"Untung kita bisa keluar dari dalam hutan seram itu, aku sudah takut banget, kalau kita akan terjebak selamanya di dalam hutan itu" kata ku.


"Gak mungkin itu terjadi, ada aku di sini, kamu jangan berpikiran negatif dulu, kita harus usaha baru setelah itu kita akan mendapatkan hasilnya" jawab Angkasa.


"Tapi beruntung tau kita gak di ganggu sama penghuni hutan tadi, aku sudah takut banget mereka bakal gangguin kita sama kayak kuntilanak itu" kata ku.


"Kita kan tidak melakukan apapun, mereka juga tidak akan mungkin mengganggu kita" jawab Angkasa.


"Kamu lihat gak sa kayak apa aja penghuni yang ada di dalam hutan tadi?" tanya ku yang memang tidak melihat seperti apa bentuk mereka.


"Kamu emang gak lihat?" tanya Angkasa.


"Memang tadi penghuni hutan itu bukan wanita berdaster tapi kayak mirip sama kingkong dan ada lagi yang wajahnya serem banget" kata Angkasa.


"Kamu lihat mereka semua?" tanya ku.


"Ya mau bagaimana lagi, orang mereka terus saja lewat di kanan dan kiri ku, aku penasaran ya udah aku lihat aja, sungguh wajah mereka seram-seram sekali, tapi aku rada-rada gak asing sama wajah mereka, di mana ya aku ngelihat mereka" jawab Angkasa berusaha mengingat-ingat wajah hantu yang tak asing baginya.


"Kamu coba ingat-ingat dulu" suruh ku.


Angkasa berpikir keras, ia merasa sungguh tak asing dengan hantu-hantu yang mendiami hutan seram itu.


"Gak mungkin" kata Angkasa yang membuat ku terkejut.


"Apanya yang gak mungkin?" tanya ku yang sangat terkejut.


"Kamu tau gak za hantu-hantu yang tadi gangguin kita di dalam hutan itu mirip seperti hantu-hantu yang ada di dalam masjid, wajahnya rada sama kayak mereka, sama-sama seram" jawab Angkasa.


"Yang benar aja kamu, masa yang gangguin kita adalah hantu-hantu yang ada di dalam masjid?" tanya ku tercekat mendengar itu semua.


"Beneran za, wajah mereka memang mirip kayak hantu yang ada di dalam masjid itu, aku yakin sekali jika hantu-hantu yang gangguin kita barusan itu satu frekuensi dengan hantu yang ada di dalam masjid" jawab Angkasa sangat yakin.


"Seram banget, untung aku gak penasaran dengan bayangan-bayangan yang terus menerus melintas sejak tadi" kata ku.


"Tapi apa benar ya jika hantu-hantu yang gangguin kita di dalam hutan itu sama dengan hantu yang ada di dalam masjid?" tanya Angkasa.


"Kayaknya enggak deh, mereka cuman bagian dari hantu-hantu yang ada di dalam masjid itu, kalau mereka beneran hantu-hantu yang ada di masjid pastinya mereka akan langsung menampakkan wajahnya di depan kita, sama kayak tadi" jawab ku.


"Untung aku gak nyari masalah sama mereka, aku tadi sempat berpikir akan mencoba buat ngusir mereka, tapi aku ingat dengan kuntilanak itu, gak jadi deh aku yang mau ngusir mereka" kata Angkasa.


"Untung kamu gak ngelakuin itu, kalau tidak kita pasti akan semakin kesulitan buat keluar dari dalam hutan itu, malah gelap lagi" jawab ku.


"Kok di sini sepi banget ya, kenapa tidak ada orang satupun yang lewat gitu?" tanya Angkasa.


"Itu yang aku bingungkan sejak tadi, tempat ini kayak tidak ada tanda-tanda akan ada manusia, sebenarnya tempat ini di mana sih, kenapa makin lama makin asing aja tempat-tempat yang kita lewati sejak tadi" jawab ku.


"Aku juga gak tau ada apa ini sebenarnya, aku juga bingung kenapa kita bisa berada di tempat yang sangat asing kayak gini" kata Angkasa.


"Sa ini gak masuk akal, kita tadi itu cuman mau ke masjid doang, tapi kenapa kok bisa ketemu sama hantu tengkorak, kuntilanak dan juga hantu-hantu seram yang ada di dalam hutan, kamu ngerasa aneh gak sih?" tanya ku.


"Aku juga ngerasain hal yang sama, namun tidak ada satu orangpun yang bisa kita tanyain yang sekiranya juga bisa menjelaskan pada kita ada apa ini sebenarnya" jawab Angkasa.


"Andai di sini ada Ustadz Fahri, mungkin beliau bisa jelasin tentang apa yang terjadi pada kita" kata ku.


Mendengar nama Ustadz Fahri, entah kenapa raut wajah Angkasa langsung berubah total.


"Ngapain sih Aliza pake sebut-sebut nama Ustadz itu" batin Angkasa yang moodnya langsung berubah.