
Tante Dewi diam mematung saat melihat Roy yang memejamkan mata dengan separuh tubuhnya yang di tutupi oleh kain berwarna putih.
Tante Dewi mendekati Roy yang terus memejamkan mata dengan kuat.
"Roy kamu bangun nak, ini mama, mama datang Roy, mama datang" tante Dewi mengelus wajah Roy yang banyak luka-luka akibat kecelakaan dahsyat tadi malam.
"Roy buka mata kamu nak, kamu jangan tinggalin mama, maafin mama Roy, mama gak akan marah lagi sama kamu yang penting kamu buka mata" tidak ada pergerakan dalam diri Roy, Roy tetap tak bergerak meski tante Dewi berusaha membangunkannya.
Setetes air mata mengalir di pipi tante Dewi saat sadar kalau anaknya benar-benar telah pergi.
"Roy buka mata mu nak, jangan tinggalin mama, maafin mama nak" tangis tante Dewi yang kembali kehilangan anaknya.
Seseorang tersenyum dengan air mata yang terus mengalir saat melihat tante Dewi yang begitu sangat kehilangan Roy.
"Tak ku sangka kematian ku dapat ngembaliin mama ku, kalau aku tau hal ini bakal terjadi, mungkin dari awal aku milih untuk pergi" Alisa semakin mengeraskan tangisannya saat mendengar ucapan Roy.
"Roy maafin mama nak, maafin mama, mama minta maaf" tangis tante Dewi dengan memeluk anaknya yang kini sudah tiada.
"Maaf bu jenazah harus segera di pindahkan ke kamar mayat, tolong jangan hambat perkejaan kami" tante Dewi melihat ke arah dokter itu.
"Dokter tidak bisa ngembaliin anak saya?"
Dokter itu menggeleng, dia memang bisa menyembuhkan orang sakit namun itu terjadi karena seizin yang di atas, dia hanyalah manusia biasa yang tak bisa melawan takdir yang sudah sang maha kuasa tetapkan.
"Roy" tangis tante Dewi.
"Bawa ke kamar mayat" suster-suster mendorong brankar Roy ke kamar mayat.
Tangisan masih terdengar di telinga ku, kami semua tidak ada yang menyangka jika Roy akan pergi secepat ini.
"Roy maafin mama" tante Dewi merasa sangat menyesal namun penyesalan itu tidak bisa mengembalikan Roy.
Kak Tias begitu greget pada tante Dewi, kejadian ini bermula karenanya dan dialah awal kehancuran Roy.
Kak Tias ingin sekali mencekik leher tante Dewi namun itu semua tak jadi ia lakukan sebab ponselnya yang tiba-tiba berbunyi.
"Tias di mana Roy, kenapa dari kemarin aku gak bisa hubungin dia, apa dia lagi sama kamu?" Daniel wakil geng Arashka yang dari kemarin sulit sekali menghubungi Roy.
Kak Tias diam, ia tidak tau harus menjawab apa, ia tak sanggup mengatakan kalau kini ketua geng Arashka sang raja jalanan sudah meninggal.
"Tias, kenapa diam bae, jawab bego"
"Niel Roy meninggal"
"Ngaco kamu ye, gak mungkin itu terjadi" bantah Daniel.
"Niel aku beneran, Roy meninggal karena kecelakaan tadi malam"
Daniel yang berada di seberang telepon terguncang."Yas kamu gak lagi ngeprank aku kan?"
"Enggak niel, aku gak boong, apalagi cuman main-main doang, Roy beneran meninggal niel, sekarang masih berada di rumah sakit"
"Arashka akan ke sana, kamu tunggu kami"
Kak Tias mengangguk lalu Daniel mematikan sambungan.
"Weeh" teriak Daniel.
"Ada apa niel, kenapa kamu teriak-teriak" terkejut mereka dan menatap tak mengerti ke arah Daniel.
"Ketua geng Arashka meninggal"
"APA"
Terkejut mereka mendengar ucapan Daniel.
Saking terkejutnya mereka sampai berdiri dari duduk.
"Gak mungkin Roy meninggal"
"Gak usah becanda deh niel"
"Gak lucu tau"
Protes mereka yang membantah keras ucapan Daniel.
"Aku gak lagi becanda, barusan Tias bilang kalau Roy meninggal karena kecelakaan, dia sekarang ada di rumah sakit, ayo kita ke sana saja" ajak Daniel.
Mereka semua setuju lalu bergegas memakai helm dan berangkat menuju rumah sakit untuk menemui Roy.
Jalanan kota di kuasai oleh geng Arashka, semua orang yang melihat geng Arashka langsung menepikan kendaraannya.
"Roy" lirih kak Tias yang sangat terguncang dengan kematian Roy.
Roy yang tadi di pindahkan ke kamar mayat kini di antar ke rumahnya dengan menggunakan ambulance.
Kak Tias dan Alisa serta tante Dewi ikut ambulance sedangkan sisanya mengikuti ambulance dengan motor dari belakang.
Wiu wiu wiu wiu
Suara sirine itu menggema di seluruh jalanan ini, kebisingan kota kini mendadak senyap karena suara sirine itu.
Air mata terus mengalir di sepanjang perjalanan.
Aku yang sedang menyetir motor ku tak dapat membendung air mata ketika mendengar suara sirine ambulance itu yang membuat air mata ku terus tumpah.
Rasa bersalah tiba-tiba datang menyerang ku, baru kali kegagalan ku merenggut 3 nyawa.
"Ya Allah Aliza gagal, Aliza gagal nyelamatin semuanya, Aliza gagal" tangis ku yang merasa sangat bersalah.
Angkasa yang menyetir motor kak Tias melirik ku yang terus menangis, ia sangat khawatir pada ku, dia terus berdoa semoga tidak ada apa-apa yang terjadi pada ku.
Wiu wiu wiu wiu wiu
Suara sirine itu terus menggema di sepanjang perjalanan, kak Tias, Alisa dan tante Dewi yang berada di dalam ambulance menangis ketika melihat jenazah Roy.
"Roy kenapa kamu pergi cepat banget, aku akan sama siapa kalau kamu pergi, aku gak akan punya teman lagi, kenapa kamu tega banget ninggalin aku kayak Dava, kamu jahat Roy, kamu jahat" batin
Alisa yang begitu sangat kehilangan sosok Roy, orang yang sudah membuatnya kesal di sekolahan setiap hari namun kini ia begitu tak mau kehilangan orang itu tetapi takdir tetap memaksanya pergi darinya.
Alisa terus menangis, ingatan awal pertemuannya dengan Roy hingga ia berteman dengan Roy terus berputar-putar di benak Alisa.
Moment-moment itu akan sulit untuk ia lupakan dalam kurun waktu yang cukup lama.
Wiu wiu wiu wiu
Di perempatan jalan kak Tias berhenti menangis saat melihat seseorang yang ia kenali.
"Itu bukannya geng Arashka, iya itu geng Arashka" kak Tias membuka jendela ambulance untuk memberi kode pada geng Arashka.
Daniel yang melihat kode itu langsung menghentikan laju motornya, ia beserta teman-temannya berbalik arah dan memastikan jalannya ambulance lancar sampai di rumah Roy.
"Tias siapa mereka, kenapa mereka baik sekali ngawal ambulance ini?" penasaran tante Dewi pada mereka semua.
"Mereka teman-temannya Roy tante" tante Dewi diam setelah mendengar jawaban kak Tias, ia sungguh merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan selama ini.
Wiu wiu wiu wiu
Geng Arashka terus mengawal mereka sehingga laju ambulance lancar tak ada hambatan sama sekali.
Orang-orang yang di beri kode untuk minggir oleh geng Arashka langsung menepikan kendaraannya.
Anggota geng Arashka memenuhi jalanan ini, mereka menguasai jalanan dengan mudah.