
"Mana-mana" tintah Angkasa
Dava menyerahkan kunci yang di bawanya pada Angkasa.
Angkasa mencoba membuka ruangan aneh di depannya.
Kriet
Pintu ruangan itu terbuka.
"Huft untung kunci itu beneran kunci ruangan aneh ini" kata Dava.
"Kamu dapat dari mana kunci itu?" tanya Alisa.
"Dari ruangan tempat semua kunci berada, aku tadi cuman iseng doang bawa kunci itu, eh gak tanyai berguna" jawab Dava.
Angkasa memperhatikan mereka kami semua dengan mengernyitkan dahi.
"Kenapa sa?" tanya ku penasaran.
"Kita masuk semua ini?" tanya Angkasa.
Aku mengerti, aku memandang yang lainnya.
"Apaan sih, aku gak ngerti apa yang di maksudkan oleh Angkasa?" tanya Alisa.
"Gini kita kan jumlahnya banyak, kalau ikut masuk semua, terus siapa nanti yang bakalan jaga di sini, kita cuman takut nanti ada orang yang masuk sebelum kita keluar dari dalam ruangan ini" jawab ku
"Iya juga ya, kita harus bagi tugas kalau enggak, nanti kita bisa tertangkap basah oleh keluarga Pakerlimo" kata Alisa.
"Hmm kamu sama Reno jaga di sini aja, kita akan masuk untuk mengecek ada hal apa di dalam oke" kata ku.
"Oke, aku setuju, lagian juga aku gak akan bisa berbuat banyak kalau ikut kalian masuk ke dalam ruangan ini" jawab Alisa.
"Kalau ada orang yang ke sini, kalian langsung beritahu kami, biar nanti kami bisa siap siaga di dalam oke" kata ku.
"Oke" jawab mereka bersamaan.
Angkasa membuka pintu, dia mengeluarkan ponselnya lalu menghidupkan senter hp karena ruangan ini begitu gelap, tak ada penerangan sama sekali.
Angkasa mencari saklar lampu di ruangan ini.
Mata Angkasa menemukan saklar lampu yang berada tidak terlalu jauh dari posisinya berdiri, ia menghidupkan lampu untuk menerangi seluruh ruangan ini.
"Gak ada yang aneh dari ruangan ini, ruangan ini persisi dengan kamar-kamar biasa lainnya, tidak ada hal istimewa sana sekali pun" kata ku.
"Iya juga, tapi om sama mama melarang keras kalau aku masuk ke sini padahal ruangan ini gak ada keanehan sedikitpun" jawab Dava merasa aneh.
"Hanya kamu yang di larang sama mereka berdua?" tanya Angkasa merasa curiga.
"Semuanya, bukan aku doang, malahan gak ada yang pernah masuk ke ruangan ini kecuali keluarga Pakerlimo" jawab Dava.
"Jadi itu semua berlaku kepada seluruh orang yang ada di rumah ini, apa sih yang mereka takutkan jika kamu dan lainnya masuk ke dalam ruangan ini, perasaan di sini gak ada apapun" kata ku merasa aneh.
Dava mengangguk.
"Iya itu berlaku kepada semuanya dan aku gak tau pasti alasan mereka melarang kita" jawab Dava.
Pak Heru dan teman-temannya bungkam tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Apakah mereka bisa memecahkan misteri serumit ini, kok aku gak yakin sama mereka, mereka kan masih anak-anak di bawah umur, bahkan pihak kepolisian saja biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengungkap segalanya, aku akan lihat apakah anak-anak ini bisa atau tidak" batin pak Abu.
Angkasa mondar-mandir ke sana kemari hingga membuat kami semua ningung dengan tingkahnya.
"Itu, biasanya kalau ruangan bawah tanah mempunyai kunci, tapi kuncinya bukan kayak kunci pintu, contohnya seperti suatu objek yang kalau di sentuh atau di pencet bisa membuka pintu ruangan rahasia, ruangan rahasia itu biasanya mempunyai titik pusat, di mana titik pusat itu yang akan menjadi perantara untuk kita bisa masuk ke dalamnya" jawab Angkasa.
"Kamu tau dari mana, kok kayak udah paham betul tentang ruangan bawah tanah?" tanya ku.
"Iya karena di rumah eyang aku yang ada di Bandung punya ruangan bawah tanah, kata eyang kuncinya bisa berupa apa saja yang ada di sekitar kita, contohnya saklar" jeda Angkasa.
"Nah, saklar itu jika kita tekan akan membukakan jalan, entah jalan itu tembok yang tergeser ataupun lantai ini yang yang terbuka, pastinya itu semua adalah kunci ruangan bawah tanah" sambung Angkasa.
"Owh gitu, jadi sekarang kita harus mencari suatu benda yang bisa membuka ruangan rahasia" kata ku.
"Iya, kita berpencar mencarinya agar cepat ketemu sebelum ada yang masuk ke ruangan ini" jawab Angkasa.
"Oke" jawab kami.
Kami semua mencari sesuatu yang bisa membukakan pintu ruangan rahasia yang Angkasa maksud.
Dava mendekati saklar lampu lalu menekannya beberapa kali.
"Ya gak saklar juga markonah, kenapa kau menggunakan contoh yang barusan aku jelaskan sebagai bahan percobaan" geram Angkasa.
"Katanya suruh cari benda apa saja yang bisa membuka pintu ruangan rahasia, nah siapa tau kalau saklar ini adalah kuncinya" jawab Dava.
Angkasa menepuk jidatnya.
"Kalau memang saklar adalah kunci utama, udah pasti dari tadi tuh pintu ruangan rahasia terbuka Dava Alifikri Salfanza yang terhormat, ayolah gunakan otak mu wahai anak IPS" kata Angkasa.
"Iya juga ya" kata Dava lalu menghentikan aktivitasnya yang menekan saklar lampu.
"Mangkanya kalau punya otak itu di asah, biar gak oon kayak gini" hina Angkasa yang sudah kesal dengan ulah Dava yang menekan-nekan saklar hingga membuat lampu berkedip-kedip bagaikan di konser.
Dava tak membalas ucapan Angkasa yang menghinanya, Dava menghembus nafas lalu kembali mencari benda yang bisa membuat pintu rahasia terbuka.
Kami semua mencari benda yang bisa membuat jalan menuju ruang rahasia terbuka mulai dari laci, lemari dan sebagainya.
Beberapa menit kami gunakan untuk mencari kunci ruangan rahasia tapi tetap saja kami tak menemukannya.
"Gak ada tau, aku udah putus asa nyari tuh kunci ruangan rahasia" kata ku.
"Mungkin kamu salah kali" kata Dava pada Angkasa.
"Gak mungkin ruangan ini tidak ada misteri yang tersembunyi, kalau memang tidak ada kenapa keluarga Pakerlimo melarang keras kamu dan yang lainnya masuk ke sini" jawab ku.
"Iya juga sih, tapi kenapa masih tidak ada keanahen apapun, itu yang aku bingungkan sejak tadi" kata Dava.
Angkasa mengacak rambutnya kasar, dia memperhatikan kembali ruangan ini dengan saksama.
Tatapan mata Angkasa tertuju kepada lukisan yang lumayan besar yang terpasang di tembok.
Angkasa berjalan mendekati lukisan yang lumayan besar tersebut.
Angkasa memperhatikan lukisan itu dengan seksama, terlihat sebuah lukisan pemandangan alam yang indah yang ada di depannya saat ini.
"Aneh, kok bisa ada lukisan di sini, malah sendirian lagi" batin Angkasa.
"Bagus tau lukisan ini" puji Angkasa yang menyukai lukisan yang super bagus di depannya.
Mata kami menatap Angkasa dengan tatapan aneh.
"Tuh anak waras gak sih, tadi nyuruh kita nyari benda yang bisa membuka ruangan rahasia, etdah kenapa sekarang malah sibuk melihat lukisan, aku gak habis pikir dengan jalan pikiran tuh anak berubah-ubah" kata Dava menatap aneh.