
"Aku pergi dulu ya, terima kasih banyak, tanpa kalian sadari kematian menyatukan kami, aku dari dulu selalu berusaha untuk bisa bersama dengan Andin, tapi baru kali ini usaha ku dapat terwujud meski bukan di alam manusia" pamit Roy yang tak tau harus sedang atau tidak saat ini.
"Iya, sama-sama, eh Roy sebelum pergi kamu lebih baik pamitan dulu sama Alisa, dia sekarang lagi sedih banget karena kehilangan kamu" suruh Angkasa.
"Ku mohon cobalah buat dia mengerti, aku hanya takut dia akan selamanya larut dalam kesedihan" mohon Reno yang tidak mau hal itu terjadi.
"Iya nanti aku pamitan sama dia juga, emang kalau Alisa selamanya larut dalam kesedihan kenapa?" Reno tak bisa berbicara, ia tidak mau segalanya di ketahui oleh Roy, karena ia takut Roy akan membeberkan masalah ini pada orang yang bersangkutan.
"Hayo ada apa ini, kenapa kamu gak bisa jawab, biar ku tebak, kamu pasti ada rasa bukan sama Alisa?" tebak Roy dengan sedikit mengejek Reno.
"Enggak, gak ada rasa apapun, kamu jangan ngawur deh" jawab Reno cepat.
"Kalau memang gak ada rasa kenapa kamu kayak gak mau Alisa sedih?" penasaran Roy yang perlahan-lahan akan membuat Reno membuka segalanya.
"Ya karena kan Alisa temen aku, kalau dia sedih terus kan kasihan" jawab Reno.
"Temen apa demen nih?" Reno semakin terpojok ia tidak memiliki alasan apapun lagi setelah ini.
"Udah akui saja, aku gak bakal bilang siapa-siapa, apalagi Alisa, aku berani jamin rahasia mu aman bersama ku" Reno menatap ke arah Roy ia merasa Roy benar-benar serius pada ucapannya.
"Iya kita berdua demen sama anak kembar itu" jawab Reno.
"Eh kenapa bawa-bawa aku segala, kenapa gak kamu akui sendiri, jangan ngajak-ngajak aku" tak terima Angkasa.
"Ya kan biar ada temennya gitu, kalau ketahuan aku gak akan sendiri masih ada kamu yang juga pastinya ketahuan" jawab Reno.
"Dasar cari aman terus"
"Udah jangan pada berantem, rahasia kalian aman kok bersama ku" lerai Roy.
"Awas sampai kamu kasih tau Alisa, akan aku bongkar kuburan kamu" ancam Reno.
"Enggak bakalan kok" janji Roy.
"Udah sana balik ke alam selanjutnya gih, jangan terlalu lama di sini" suruh Angkasa.
"Iya, kami pergi dulu, selamat tinggal" mereka berdua mengangguk lalu keempat makhluk halus itu menghilang dari sana.
"Semoga mereka bisa beristirahat dengan tenang di alam sana" harapan Angkasa.
"Amin"
Aku membuka pintu kamar ku lalu melangkah masuk ke dalamnya.
Aku melihat sekeliling ruangan ini."Tidak ada Alisa di sini, apa dia udah berani ke kamarnya lagi?"
"Syukurlah kalau seperti itu" aku meletakkan tas di meja belajar ku.
"Aliza" panggilan itu membuat ku terkejut.
Aku memegangi dada ku yang terkejut."Kenapa kalian ngagetin aku, kalau aku jantungan gimana"
"Mau apa kalian ke sini, urusan kalian kan udah selesai, apakah masih ada lagi yang kalian inginkan?"
"Enggak kok za, kami gak ingin apa-apa lagi, kami cuman mau pamitan saja sama kamu" jawab Elfa.
"Oh tak kirain apaan, aku kira masih ada sesuatu yang belum bisa buat kalian pergi dengan tenang menuju alam sana, ternyata cuman mau pamitan doang"
"Iya, kami cuman mau pamitan doang, gak ada hal tertentu lagi kok" jawab Elfa.
"Eh kok kalian berdua aja, mana Roy, apa dia udah balik duluan ke alam sana?"
"Enggak, kita akan bareng pergi ke sananya, cuman sekarang ini Roy lagi nemuin Alisa, dia mau pamitan sama dia" jawab Andin.
"Za Roy sama Alisa itu ada hubungan apa, kenapa Alisa seperti gak rela banget kehilangan Roy?" Elfa merasa ada sesuatu di antara mereka sehingga terlihat jika Alisa tak mau kehilangan Roy sama sekali.
"Gak ada hubungan apa-apa, mereka cuman temenan doang, tetapi kata Alisa Roy itu sering gangguin dia, dan baru kemarin Alisa dan Roy baikan, gak berantem lagi kayak biasanya, Alisa udah senang ada yang mau jadi temennya, karena di kelasnya gak ada yang mau temenan sama Alisa, mangkanya dia sangat kehilangan Roy ketika tau Roy udah meninggal"
"Gak heran kalau Alisa se tak rela itu saat tau Roy udah meninggal" jawab Andin.
"Emang gak ada satupun yang mau temenan sama Alisa?" tak percaya Elfa.
"Dulu sih ada, namanya Dava, dia teman Alisa yang pertama kali, namun dia pindah ke Amerika ikut keluarganya, setelah dia pergi Alisa kembali kesepian dan Roy terus aja gangguin dia sampai Alisa bilang dia udah gak betah sekolah di SMA kebangsaan, dia ngajak aku pindah, namun aku gak mau, aku udah betah di sana"
"Kenapa Roy gangguin Alisa, jangan bilang dia lebih sayang sama Alisa dari pada aku" overthinking Andin.
"Gak mungkinlah, masa Roy sayangnya sama Alisa sama kamu enggak, di sini itu yang jadi pacarnya Roy kan kamu, berarti kamu yang Roy sayang"
"Tapi za pendekatan kita dulu wajar-wajar aja, aku taunya Roy itu baik, gak nakal sama sekali, tapi kenapa sama Alisa dia berubah total, gak sama kayak Roy yang aku kenal" jawab Andin.
"Karena kalau sama kamu itu Roy nunjukin sifat aslinya, tapi kalau sama Alisa dia itu nunjukin sifat nakalnya, sama kayak Dava dulu, dia awal-awal memang nakal, namun di balik nakalnya itu dia ternyata kurang kasih sayang dari orang tuanya sehingga dia memiliki dua sikap yang bertolak belakang"
Aku melihat wajah Andin yang di penuhi api cemburu."Iya din, kamu jangan overthinking dulu, percaya saja kalau Roy itu sayangnya cuman sama kamu, kalau dia gak sayang sama kamu dia gak mungkin rela-relain buat menyakinkan tante Dara agar hubungan kalian di restui" Elfa membantu ku yang membuat ku merasa sedikit tenang, aku hanya takut ada salah paman di antara keduanya.
"Iya, aku gak overthinking kok, cuman dikit doang" jawab Andin.
"Sama aja" tutur Elfa.
"Udah-udah, sana kalian kembali ke alam selanjutnya gih, istirahat yang tenang, nanti aku bakal kirimin doa buat kalian, biar beban kalian di ringankan"
Mereka berdua langsung gembira."Makasih Aliza, kamu baik banget sih"
"Udah jangan di puji, nanti malayang nih, sana balik gih ke alam kalian"
Mereka mengangguk."Selamat tinggal Aliza"
"Selamat tinggal"
Mereka tersenyum lalu menghilang dari hadapan ku.
"Semoga kalian tenang di alam sana"