
"Setelah pemakaman pak Beni kan bisa, lagian besok juga hari Minggu, kita bisa bebas seharian tanpa harus khawatir dengan sekolah" jawab Alisa.
"Boleh juga, tapi aku gak hafal jalanan menuju rumah Ki Suryo, yang aku ingat rumah Ki Suryo itu bangunannya kuno di dalam hutan juga ada lagi rumah kuno tempat mbk Reni di kurung" kata ku.
"Aku tau rumahnya, besok aku akan anterin kalian ke sana" jawab Reno.
"Nah itu reno tau, besok kita langsung ke sana saja, kasian mbk Reni sudah lama di kurung sama Ki Suryo" kata Alisa.
"Iya kita besok akan bantu mbk Reni sekalian cari mbk Hilda di sana" jawab ku.
"Hiks hiks"
Suara tangisan seseorang mengentikan percakapan kami.
Mata kami tertuju pada Rani yang baru saja siuman, dengan cepat Reno mendekati Rani.
"Sstt jangan nangis" kata Reno menenangkan Rani.
Rani memeluk tubuh Reno dengan erat.
"Kakak jangan pergi lagi, Rani gak mau berada di ruangan itu, di sana ada makhluk besar berwarna hitam akkkhh Rani gak mau melihat dia lagi, yakut" tintah Rani sesegukan.
"Iya kakak tidak akan pergi lagi kok, kamu sekarang sudah bebas, kamu tidak akan di kurung lagi dan tak akan bertemu dengan makhluk menyeramkan itu" jawab Reno.
Rani menangis dalam pelukan Reno.
"Sudah jangan nangis lagi, nanti kamu tambah sakit" kata Reno dengan menghapus air mata Rani.
"Iih lucu banget tau za, pantesan Reno sayang banget sama adeknya, muka Rani aja comel kayak aku" kata Alisa.
Aku melongo mendengar hal itu.
"Kalau sama kayak kamu bisa beda cerita namanya" jawab ku.
"Ish kamu ini, muka aku kan comel, kau jangan menghina ku" tak terima Alisa.
Rani mengentikan tangisannya ia melihat ke arah kami bertiga yang menurutnya sangat asing.
Rani menyembunyikan wajahnya ke dalam dada Reno, ia melihat kami dengan satu mata.
"Kakak mereka siapa?" tanya Rani.
"Mereka orang baik, berkat mereka kamu bisa bebas, kamu jangan takut sama mereka" jawab Reno.
Alisa mendekati Rani.
"Hai Rani nama kakak Alisa, kamu jangan takut ya" kata Alisa.
Rani melepaskan pelukannya dan beralih menatap Alisa lalu menatap ke arah ku.
"Kakak sama" kata Rani.
Kami terkekeh geli mendengar itu semua.
"Iya, itu adik kakak namanya Aliza, kita kembar mangkanya sama" jawab Alisa.
Pintu ruangan perawatan Rani terbuka dan terlihat seseorang yang sangat familiar muncul di baliknya dengan plastik hitam di tangannya.
"Loh ayah mana Bun, kok gak kesini?" tanya ku.
"Ayah langsung ke restoran, ini bunda udah beli makanan buat kalian, nih ambil satu-satu" jawab bunda.
Kami mengambilnya lalu membuka dan mulai memakannya.
"Ini ren buat kamu" kata bunda menyerahkan kantong plastik itu.
"Makasih tante" jawab Reno.
Mata bunda membulat sempurna.
"Angkasa" panggil bunda.
Angkasa menghela nafas ia tau apa yang bunda inginkan darinya.
Reno mengangguk paham.
"Benar sekali, kamu lanjut makan gih" jawab bunda tersenyum.
Kami semua makan bersama di sini.
"Bunda mau tebus obat Rani dulu, kalian tunggu di sini saja" kata bunda.
"Iya Bun" jawab kami.
Bunda keluar dari dalam kamar, setelah selesai mencuci tangan, kami menonton TV untuk mengusir kejenuhan.
"Berita terkini di ketahui kedua pasangan suami istri bernama Robi Figurinis dan Desi Figurinis di temukan meninggal dunia pasca kecelakaan tunggal yang mereka hadapi, mobil mereka terjatuh ke jurang, pihak tim SAR sedang berusaha untuk mengevaluasinya" kata wartawan di TV.
"Mama" tangis Rani kala melihat kedua orang tuanya yang di beritakan di TV barusan.
Air mata mengalir membasahi wajah Reno, dalam situasi seperti ini ia hanya bisa menangis dan berusaha tegar kala tau kalau orang-orang yang dia sayangi di kabarkan meninggal dunia dalam satu hari.
"Kakak itu mama huhu" tangis Rani semakin menjadi.
Reno mengusap punggung Rani.
"Iya itu memang mama, kamu jangan nangis" jawab Reno.
Bukannya berhenti Rani malah semakin mengeraskan tangisannya.
"Mama maafin Reno, ma pa kalian kenapa kok bisa meninggal, apa yang sudah terjadi sama kalian" batin Reno.
"Reno kamu yang sabar ini cobaan, kamu jangan sedih ada kami di sini" kata Alisa menenangkan Reno.
"Iya ren kamu jangan sedih, kamu bisa tegar dan berdoa semoga papa dan mama mu bisa beristirahat dengan tenang di alamnya" kata ku.
Reno hanya mengangguk dalam air mata yang terus saja mengalir.
"Loh ini Reno kenapa kok nangis begini, apa yang sudah terjadi?" tanya bunda baru kembali.
"Itu Bun orang tau Reno meninggal dunia, lihat itu beritanya di TV" jawab ku.
Bunda melihat televisi dan mengamati betul-betul.
"DESI jadi Reno itu anaknya Desi" kaget bunda.
"Kenapa emangnya Bun, kok bunda kaget gitu, bunda kenal sama mamanya Reno?" tanya Alisa.
"Desi itu teman arisan bunda, gak nyangka ternyata dia setega itu sama anak-anaknya" shock bunda mengetahui semuanya.
"Terus besok ini gimana, kita mau ke rumah pak Beni apa ke rumah Reno dulu lalu rencana kita buat membebaskan mbk Reni gimana?" tanya Alisa.
"Besok kita ke rumah Reno dulu setelah itu ke rumah pak Beni, baru deh setelah pemakaman selesai kita langsung ke rumah Ki Suryo untuk membebaskan mbk Reni dan mencari mbk Hilda di sana" jawab ku.
"Boleh juga" setuju Alisa.
Bunda mendekati Reno dan Rani.
"Kalian yang sabar ya, ini itu ujian yang harus kalian lewati, tenang saja ada bunda yang akan menjamin biaya pendidikan kalian, kalian tinggal saja di rumah bunda, ren kamu kalau mau kerja di restoran bunda juga boleh, nanti kamu bisa kerja setelah pulang sekolah bareng Alisa sama Aliza" kata bunda.
"Terimakasih Bun sudah baik banget sama Reno" jawab Reno.
"Sama-sama sudah kamu jangan nangis lagi, Rani jangan nangis ya ini minum dulu obatnya" kata bunda.
Rani meminum obat pahit itu.
"Anak yang pinter, udah malam nih kita tidur saja besok baru kita ke rumah Reno buat ikut mengantarkan jenazah ke pengistirahatan terakhirnya" kata bunda.
"Baik Bun" jawab kami semua.
Kami tidur di ruangan perawatan Rani.
Waktu terus berputar namun Reno tak kunjung bisa tertidur nyenyak seperti yang lainnya, ia terus memikirkan papa dan mamanya yang baru saja meninggal dunia.
Reno terus saja berusaha untuk memejamkan mata, lama sekali baru mata Reno bisa juga terpejam seperti yang lainnya.