The Indigo Twins

The Indigo Twins
Terjebak di dalam bus hantu



"Gimana ini sa?" tanya ku yang sudah cemas sekali.


"Kita harus keluar dari sini za, aku rasa benar jika bus ini gak akan berhenti" jawab Angkasa yang membuat ku semakin panik.


"Terus gimana ini sa, pak kernet masih belum mau merespon sama sekali, bagaimana caranya kita bisa keluar dari bus ini?" tanya ku.


"Kita harus berusaha membuat pak kernet mau menurunkan kita, kita gak bisa berada di dalam bus ini, karena aku merasa banyak kejanggalan yang ada di dalam bus ini" jawab Angkasa.


Aku mengangguk dengan wajah yang sudah terpancar rasa tegang dan takut.


Anak tante China terus menerus menangis tanpa henti.


"Pak tolong turunkan kami, kami ingin turun" tintah ku dengan menepuk pundak pak kernet.


Tidak ada tanggapan sama sekali dari pak kernet.


"Pak hentikan bus ini, kami ingin keluar" kata Angkasa terus berupaya agar kami bisa keluar dari dalam bus yang aneh ini.


Pak kernet masih tidak menjawab dan terus fokus melihat ke depan.


"Pak tolong hentikan bus ini, aku mohon, kami ingin turun pak" kata ku yang sudah gelisah sekali karena tak kunjung ada tanggapan dari pak kernet.


Anak tante China terus menangis karena usaha kami terus menerus tidak di tanggapi oleh pak kernet.


"Kenapa pak kernet diam aja, apa dia gak dengar suara kami" batin ku yang sudah gelisah bercampur panik.


"Pak, pak tolong hentikan bus ini" kata ku menaikan volume suara ku berharap setelah ini pak kernet menjawabnya.


Sama seperti tadi, tak ada tanggapan sama sekali dari pak kernet, sungguh pak kernet bagaikan orang tuli yang tidak mendengar apapun sehingga masih belum merespon apapun yang kami ucapakan.


"Pak, pak tolong berhenti" kata Angkasa menepuk pundak pak kernet.


Angkasa terus menepuk-nepuk pundak pak kernet berharap pak kernet mau merespon.


"Pak" panggil ku lagi.


Pak kernet yang sedari tadi diam tak bergerak sedikitpun, perlahan-lahan menoleh ke arah kami yang sejak tadi berusaha memanggilnya.


"Aaarrggh" teriak kami kaget kala melihat wajah pak kernet yang hancur lebur.


Wajah hancur dan banyak sekali luka-luka yang menjijikan, ada banyak juga nanah dan darah yang terlihat dari luka yang terdapat di wajah pak kernet.


Saking kagetnya kami sampai bangun dari duduk.


"Z-za" tercekat Angkasa melihat wajah seram pak kernet yang benar-benar mengerikan.


Aku yang melihat wajah seram pak kernet memalingkan muka ke arah lain.


Bibir Angkasa bergetar hebat melihat wajah seram pak kernet yang terus menatapnya.


Kami menelan ludah melihat wajah seramnya, dengan cepat kami menjauhkan tubuh dari pak kernet yang terus saja menatap kami dengan wajah hancurnya.


"Hiks hiks hiks"


Dalam keadaan seperti ini anak tante China itu terus saja menangis tanpa henti, bersamaan dengan itu kami teringat dengan ucapannya yang mengatakan kalau bus ini tidak akan berhenti.


"Ternyata apa yang di katakan anak kecil itu memang benar adanya, jika bus ini tidak akan berhenti, aku harus berusaha keluar dari dalam bus ini, aku tidak mau ada apa-apa yang terjadi pada ku dan Angkasa" batin ku yang sudah gelisah takut ada kejadian yang tidak terduga terjadi.


"S-sa kita harus pergi dari sini" kata ku terbata-bata dengan memegang erat lengan Angkasa.


Angkasa diam tanpa menjawab, ia merasakan kekhawatiran yang sama dengan ku, namun yang bisa dia lakukan hanya diam, karena saat ini pak kernet terus menatap tajam ke arahnya.


Pak kernet itu kembali menghadap ke depan, Angkasa bernapas lega.


Tiba-tiba tante China bangun dari duduknya ia mendekati kami.


"Enggak, aku gak mau, kakak tolong aku, dia bukan ibu ku" tintah anak kecil itu berteriak-teriak histeris untuk bisa terlepas dari tante China.


Anak kecil itu terus memberontak agar tante China melepaskannya.


"Tolong aku kakak, tolong aku huhu" tangis anak kecil itu yang membuat ku tidak tega melihatnya yang sangat tertekan.


Aku dengan berani langsung melepaskan tangan tante China yang memegang tangan anak kecil itu secara paksa.


Aku merasakan kulkas berada di tangan tante China saat tangan ku bersentuhan dengan tangan tante China.


Aku terkejut sekali, aku menatap tak percaya ke arah tante China itu.


"Kenapa tangan Tante China dingin sekali" batin ku sangat shock.


Anak kecil itu bersembunyi di belakang ku setelah berhasil terlepas dari tante China itu.


"Sa kita harus lari dari sini, bus ini gak beres, aku yakin bus ini tidak akan berhenti sekeras apapun kita mencoba dan juga para penumpangnya begitu aneh tidak seperti biasanya" kata ku yang sudah gelisah tak karuan.


"Iya kita harus pergi dari sini" jawab Angkasa yang juga merasa hal yang sama.


Tiba-tiba semua penumpang bangun dari duduknya kecuali pak supir.


Kami kaget melihat mereka yang tiba-tiba bangun dengan tatapan mata yang terus melihat ke arah kami tanpa berkedip.


Kami menelan ludah melihat mereka semua yang tiba-tiba berdiri.


"Sa kenapa mereka semua pada berdiri, ada apa ini sebenarnya?" tanya ku dengan sangat gelisah.


Aku memegang erat tangan Angkasa karena takut karena sudah sejak tadi di tatap oleh mereka semua tanpa berkedip.


"Kamu tenang aja, mereka tidak akan mengganggu kita" jawab Angkasa menenangkan ku di kala rasa cemas semakin menjadi-jadi.


Tiba-tiba mereka berjalan dengan mengarahkan tangannya seperti akan mencekik kami sambil memompa-lompat ke arah kami layaknya hantu China.


Kami sangat terkejut melihat itu semua, dengan cepat kami memundurkan tubuh untuk menjauhi mereka.


"Sa ini gimana, mereka semakin mendekati kita, aku takut sa" teriak ku menempel ke arahnya dengan tubuh yang sudah gemetaran kala mereka berlagak kayaknya hantu China pada umumnya.


"Gawat, kenapa aku sadar sekarang, pantas saja sejak tadi perasaan aku gak enak banget, jadi ini masalahnya" batin Angkasa yang sudah sadar dengan segalanya.


Pandangan Angkasa kembali melihat mereka semua yang terus mendekati kami, kami semakin tegang gara-gara melihat wajah mereka semua yang seram.


Anak kecil yang bersembunyi di belakang kami terus menangis ketakutan.


"Gimana ini, apa yang harus aku lakukan, mereka sangat banyak, tak mungkin aku bisa menghadapi mereka dengan jumlah sebanyak ini, aku harus pikirkan cara yang ampuh agar bisa pergi dari sini dan terbebas dari mereka" batin Angkasa mulai tegang karena tidak menemukan cara apapun.


Angkasa melirik pintu bus, ia mendekatinya lalu berusaha membuka pintu bus dengan segala tenaga yang masih ia punya.


"Ayo sa cepetan" kata ku yang sudah tegang sekali.


Angkasa terus berusaha sekeras mungkin untuk bisa membuka pintu bus yang sangat susah untuk di buka.


"Cepetan sa, mereka semakin mendekat, ayo sa cepetan, lihat mereka kurang beberapa senti lagi akan sampai tepat di depan kita" panik ku yang melihat mereka semua terus mendekat dengan wajah yang pucat pasi.


"Ayo kakak cepetan selamatkan aku dari sini huhu" tangis anak kecil semakin bertambah kencang.


Mendengar hal itu Angkasa semakin tambah tegang, keringat-keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya hanya karena dia ingin membuka pintu bus yang sangat susah sekali.


Aku melihat ke arah mereka semua yang semakin mendekat.


"Kasa cepetan, mereka tambah mendekat" kata ku yang sudah di serang rasa panik dan takut kala wajah mereka yang pucat bagaikan mayat hidup terlihat jelas di mata ku.