
Sementara itu.
Angkasa yang baru selesai makan duduk di tangga dengan segelas susu yang berada di sampingnya.
"Aliza udah pulang gak ya, masa jam sekarang masih belum pulang, pasti sudah, coba deh aku telpon dan tanyain dia lagi apa"
Angkasa menghubungi ku, sembari menunggu telpon di angkat Angkasa meminum susu itu.
"Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi, cobalah beberapa saat lagi"
"Kok nomor Aliza gak aktif, tumben-tumbenan tuh anak susah buat di hubungi"
Angkasa mengerutkan alis saat operator yang menjawab panggilan itu.
"Apa ada masalah ya, coba deh aku hubungi Alisa"
Angkasa beralih menghubungi Alisa.
tutt
tutt
tutt
"Ayo angkat sa, cepetan angkat"
tutt
tutt
tutt
"Kenapa Alisa gak angkat, apa benar ada masalah yang di hadapi mereka sehingga di antara mereka susah buat di hubungi?"
"Kenapa tiba-tiba perasaan aku gak enak gini, apa yang sebenarnya terjadi sama mereka, aku harus telpon Reno, dia pasti tau semuanya tentang mereka"
Angkasa menghubungi Reno, wajahnya yang tadinya tampak tenang kini mulai gelisah dan cemas, perasaannya semakin lama semakin tidak enak.
"Ren kamu ada di mana sekarang" Angkasa langsung bertanya hal itu saat panggilan berhasil di angkat.
"Aku di rumah sakit sa"
"Rumah sakit? ngapain kamu di rumah sakit, siapa yang sakit?" Angkasa mengerutkan alis, karena ia tidak mendengar ada orang dekat yang sakit.
"Alisa sama Aliza sa"
"Mereka sakit apa, perasaan tadi siang mereka baik-baik saja, kenapa sekarang tiba-tiba berada di rumah sakit" shock Angkasa yang langsung bangkit dari duduk karena saking terkejutnya.
"Mereka kecelakaan saat mau pulang dari restoran, di antara mereka saat ini gak ada yang sadar, kami semua lagi ada di rumah sakit, kamu sekarang ke sini"
"Baik, aku akan ke sana"
Angkasa langsung mematikan sambungan, ia langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kontak, lalu berlari keluar dari rumah.
"Mau kemana sa, ini sudah malam" teriak eyang yang melihat Angkasa hendak keluar dari rumah.
"Ada urusan eyang, eyang di sini saja, bi jaga eyang"
"Baik den" jawab bi Ipah.
Angkasa dengan terburu-buru mengeluarkan motornya lalu melaju menuju rumah sakit.
"Mereka kecelakaan saat mau pulang dari restoran" ucapan Reno terngiang-ngiang di benak Angkasa, tak pernah terlintas di pikirannya bahwa kejadian itu akan terjadi.
Angkasa ngebut-ngebutan di jalan, ia ingin segara sampai di rumah sakit.
Di sisi lain.
Bunda menangisi Alisa yang masih tidak sadarkan diri, pikiran-pikiran buruk terus terlintas di pikiran bunda.
"Alisa bangun nak, jangan tinggalin bunda nak hiks hiks hiks" tangis bunda.
Seumur hidupnya bunda tak pernah berpikir bahwa kejadian mengerikan itu terjadi pada kedua anaknya.
"Alisa bangun sayang, jangan bikin bunda takut" titah bunda yang menangisi Alisa yang masih belum siuman.
Alisa menggeliat, ayah dan bunda yang melihat Alisa akan segera siuman gembira.
"Alisa bangun nak, ini bunda sayang?"
"Bunda hiks hiks hiks" Alisa langsung menangis, rasa sakit di tubuhnya langsung terasa saat matanya terbuka.
"Kenapa sayang, apanya yang sakit, bilang sama bunda yang mana yang sakit?"
"Bunda di mana Aliza, kenapa Aliza gak ada di sini?" Alisa mencari-cari ku namun tak ia temukan.
"Aliza berada di ruangan operasi sa, tulang kepalanya retak, dia harus di operasi"
Tangis Alisa semakin keras saat mendengar kalau keadaan ku separah itu.
"Bunda Alisa mau ketemu sama Aliza, bunda anterin Alisa ke sana"
"Gak bisa sa, bunda aja gak bisa masuk ke dalam, Aliza masih berada di ruangan operasi, dia masih belum di operasi karena dokternya masih belum datang, kita doakan saja semoga operasi adik kamu berjalan dengan lancar"
Alisa mengangguk dengan air mata yang sesekali mengalir.
"Sa kenapa kamu bisa sampai kecelakaan, apa kamu ngebut-ngebutan di jalan?" Alisa menggeleng saat di tanya oleh ayah.
"Enggak ayah, Alisa udah minggir cuman ada motor yang memang ugal-ugalan, dia yang nabrak motor Alisa"
"Siapa yang nyetir motor itu?"
"Aku ayah"
Ayah diam, ia tidak bisa menyalahkan siapapun dalam hal ini.
"Bunda sekarang bagaimana keadaan Aliza, Alisa pengen ketemu sama dia"
"Bunda dengar barusan kondisi Aliza kritis sa"
Tangis ayah dan bunda serta Alisa semakin keras, terlintas kemungkinan selamat sangatlah kecil.
"Dokter bilang darah dari hidung, telinga sama mulut gak kunjung berhenti, bunda takut Aliza gak tergolong, bunda gak mau kehilangan dia sa"
"Alisa juga gak mau bunda, Alisa gak mau kehilangan Aliza huhu" tangis Alisa dengan memeluk bunda.
Pasca kecelakaan itu, bagian mata Alisa yang sebelah kiri membiru dan agak keuangan, itu terjadi karena jatuh menimpa batu.
Krieet
Tiba-tiba pintu kamar Alisa terbuka, mereka semua menatap ke arah siapa yang datang.
"Bunda dokter spesialis bedah sudah datang" beri tau Reno dengan wajah paniknya.
"Ayo kita ke sana ayah, Alisa kamu di sini nak, ren jagain Alisa, bunda mau ke sana sebentar" suruh bunda.
"Baik bun"
Bunda dan ayah keluar dari dalam kamar Alisa meninggalkan mereka berdua.
Reno berjalan mendekati Alisa yang terus menangis.
"Sstt jangan nangis, semuanya akan baik-baik saja, Aliza pasti bisa sembuh"
"Reno aku takut Aliza pergi, tadi pas kecelakaan saja dia sudah gak bergerak, terus ada banyak darah yang keluar, aku takut ren, bagaimana kalau aku benar-benar akan kehilangan dia, aku gak mau ren huhu"
Reno menghapus air mata yang mengalir bagaikan sungai itu.
"Kamu jangan mikir yang macem-macem, semuanya akan baik-baik saja, tidak akan ada apapun yang terjadi pada Aliza, kamu jangan takut berlebihan" Reno berusaha menguatkan Alisa meskipun ia merasakan kekhawatiran yang sama.
Alisa mengangguk, ia masih terus menangis, ia tidak mempedulikan rasa sakit di tubuhnya karena pikirannya terus tertuju pada ku yang kini berada di ruangan operasi.
"Sa yang nyetir motor itu siapa, kamu apa Aliza?"
"Aku, awalnya Aliza yang mau nyetir, tapi gak aku bolehin"
"Pantes saja Aliza yang terluka parah, di mana-mana yang bonceng yang parah"
"Reno aku pengen ketemu adik aku, aku pengen lihat dia secara langsung, ayo anterin aku ke sana"
"Jangan sa, keadaan kamu masih belum pulih, Aliza saat ini lagi di operasi, kamu gak akan bisa ketemu sama dia kalau aku anterin ke sana"
"Aku pengen ketemu sama dia ren hiks hiks"
"Sudah kamu jangan nangis terus, nanti kondisi kamu makin parah, kamu sekarang istirahat, besok saat kamu bangun, aku janji akan anterin kamu ke Aliza"
"Janji" Alisa mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji" Reno menempelkan jari kelingkingnya di jari Alisa.
"Sekarang kamu istirahat, aku akan tetap berada di sini jagain kamu"
Alisa mengangguk lalu memejamkan matanya kembali, Reno masih diam di tempat dengan terus menjaga Alisa.