
Di dalam kami sedang sibuk membereskan rumah, karena pernikahan Ustadz Zaki dengan mbk Indri kalau bisa akan di laksanakan sehabis sholat ashar sedangkan saat ini masih pukul 12.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam, gimana nak Fahri apa pak RT setuju?"
"Iya bun, pak RT setuju, saya juga undang Ustadz Somad biar beliau juga jadi saksi di pernikahan ini"
"Oh bagus kalau seperti itu"
"Assalamualaikum" orang yang mengucapkan salam itu tertegun ketika melihat kami semua tengah sibuk membereskan rumah.
"Wa'alaikum salam" jawab kami.
"Loh ada apa ini bu, kenapa pada beres-beres?" penasaran mbk Rinda.
"Indri sama Ustadz Zaki akan nikah hari ini juga, ayo bantu kami beres-beres, sebelum omnya Indri datang rumah harus beres" ajak bunda.
"Iya bu" dengan cepat mbk Rinda membantu kami semua yang tengah sibuk membereskan rumah.
"Reno meja itu geser ke kanan sedikit" titah bunda.
Reno menggeser sedikit meja itu.
"Ke kiri sedikit ren"
Reno menggeser sedikit ke kiri.
"Siip"
Kami terus sibuk membereskan segalanya hingga jam 2 rumah baru selesai di bereskan.
"Huft akhirnya selesai juga" syukur Alisa yang mengambil duduk di ruang tamu.
"Eh jangan duduk, ini udah jam 2, sana mandi cepat, bentar lagi omnya Indri akan datang" suruh bunda.
"Siap bun" jawab kami kompak.
Kami semua berlari ke kamar masing-masing untuk membersihkan tubuh yang sudah basah dengan peluh.
Aku masuk ke dalam kamar ku, mengambil handuk dan berjalan mendekati kamar mandi.
Wussshhhh
Sekilas aku melihat kelebat bayangan berwarna hitam yang melintas di samping kiri yang hanya berjarak sekitar 1 meter.
"Siapa di sana?"
Hening, tidak ada siapapun yang aku lihat, bayangan hitam itu benar-benar menghilang.
"Kenapa di kamar ku ada makhluk halus, siapa yang sudah berani masuk ke dalam kamar ku"
"Ah sudahlah aku tidak mau mikirin itu, aku harus cepat-cepat siap-siap lalu turun ke bawah sebelum omnya mbk Indri keburu datang"
Aku masuk ke dalam kamar mandi, menunaikan ritual mandi sebentar lalu keluar dan mengganti pakaian ku dengan gamis, lengkap dengan jilbab.
Aku keluar dari dalam kamar ku dan mendekati kamar Alisa.
"Udah selesai belum?"
"Belum bentar lagi" Alisa terus sibuk dengan kerudungnya yang tidak kunjung lurus.
"Kenapa gak lurus-lurus, ini kerudung punya masalah, gak tau orang lagi buru-buru apa"
Alisa terus meluruskan kerudungnya yang tidak bisa rapih seperti apa yang dia inginkan.
"Kenapa gak lurus-lurus, ah gak usah deh pake hijab"
"Eh gak boleh gitu, kamu harus tetap pake hijab, cepat pake, lalu ke bawah, aku tunggu di bawah aja"
"Jangan tinggalin aku za, tunggu aku bentar dulu"
"Ayo buruan"
Alisa memakai jilbab itu, setelah selesai ia mendekati ku, kami menuruni anak tangga dan mendekati mereka semua yang tengah menunggu om mbk Indri yang tak kunjung datang.
Di sana sudah ada bunda, ayah, Ustadz Fahri, Ustadz Zaki, mbk Indri, mbk Rinda, Angkasa, Reno, Dita, Arif, Rani dan juga pak penghulu yang sudah Ustadz Fahri hubungi.
"Mana omnya mbk Indri ya, kenapa masih belum datang juga?" gelisah Angkasa, ia ingin pernikahan mbk Indri dan Ustadz Zaki segera di laksanakan, ia hanya takut Bima keburu membawa Indri kembali ke desa gaib.
"Sebentar lagi pasti akan sampai, kita tunggu saja dulu" jawab Ustadz Fahri.
"Assalamualaikum" Ustadz Fahri langsung bangkit dari duduk dan mendekati pintu.
"Wa'alaikum salam, silahkan masuk pak RT pak Ustadz" persilahkan Ustadz Fahri.
Mereka masuk ke dalam dan menunggu kedatangan om mbk Indri.
"Kemana om, kenapa gak datang-datang, apa om memang gak mau jadi wali nikah aku, tapi dia tadi bilang setuju, namun kenapa sampai sekarang masih belum datang juga" batin mbk Indri yang gelisah.
"Ini mana walinya, kenapa belum datang juga, saya mau nikahkan orang lain setelah ini" pak penghulu itu sudah lama menunggu kedatangan om mbk Indri namun tetap saja tidak kunjung datang.
"Tunggu sebentar pak, saya yakin sebentar lagi walinya akan sampai di sini" jawab Ustadz Fahri.
Kami kembali menunggu kedatangan om mbk Indri dengan gelisah, jam sudah menunjukkan pukul 4 tapi wali nikahnya masih tak kunjung datang.
"Mana om, kenapa gak datang-datang, ayo om cepat dateng" batin mbk Indri yang gelisah.
"10 menit gak datang, saya akan pergi" kami semua tambah gelisah saat pak penghulu itu sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
"Ren coba cek di luar apakah ada omnya mbk Indri" suruh bunda.
"Baik bun"
Reno mendekati jendela, ia terus melihat ke luar yang tidak ada tanda-tanda akan ada orang yang datang.
"Duh gimana ini, kenapa omnya mbk Indri gak datang-datang juga" batin Reno yang juga gelisah.
Waktu terus berjalan namun tanda-tanda akan datangnya omnya mbk Indri tidak ada juga.
"Kurang 5 menit lagi, kalau sampai 5 menit omnya mbk Indri gak datang gimana, mereka pasti akan gagal nikah, ya Allah hamba mohon datangkanlah omnya mbk Indri, biarkan mereka menikah ya Allah, hamba mohon sekali pada mu" batin ku yang menunggu dengan tidak tenang.
"Om di mana, om cepat datang, aku mohon om" batin mbk Indri yang tangannya dingin karena gelisah sedari tadi.
Pak penghulu itu bangkit dari duduk.
"Pak, pak, pak jangan pergi dulu, tunggu sebentar lagi, walinya akan datang sebentar lagi, saya mohon tunggulah sebentar"
Kami berusaha mencegah pak penghulu yang hendak pergi dari rumah ini.
"Tidak bisa pak bu, saya harus pergi, saya masih ada jadwal di tempat lain, saya tidak mau membuat mereka kecewa" jawab pak penghulu.
"Tapi saya mohon pak tunggulah sebentar, sebentar lagi pasti walinya akan datang" mohon bunda.
"Maaf tidak bisa, saya sudah menunggu lama di sini, saya harus pergi" jawab pak penghulu.
tin
tin
tin
Suara klakson mobil itu membuat kami semua gembira.
"Itu pasti om" gembira mbk Indri.
"Ayo kita keluar" ajak bunda.
Mereka semua keluar dari dalam rumah untuk melihat siapa yang datang.
"Om"
Orang yang mbk Indri panggil om itu mendekat.
"Om dari mana aja, kenapa lama banget, Indri nungguin dari tadi"
"Maaf om tadi sempat nyasar jadi lama nyampe ke sini"
"Ayo pak masuk ke dalam, pak penghulu walinya sudah datang, saya mohon jangan pergi" titah bunda yang di balas anggukan oleh omnya mbk Indri.
Pak penghulu mengangguk, lalu kembali masuk ke dalam rumah dan duduk di tempat semula.