
Pulang sekolah.
Kami mengendari motor hingga di persimpangan jalan dekat dengan restoran bunda
Di sana sudah ada pak Heru beserta kawan-kawannya, aku meminta om agar memaki pakaian biasa untuk mengelabui masyarakat jika nanti ada yang melihat mereka di sana.
"Kita langsung ke masion Dava aja om, aku ingin mempercepat proses penyelamatan om Devan" kata Alisa.
"Iya ayo" jawab pak Heru.
Kami berlima masuk kedalam mobil hitam milik pak Heru di temani dengan mbk Hilda dan Tiger yang mengawal kami dari atas mobil.
Ferry teman pak Heru mengendari mobil menuju rumah Dava.
"Stop di sini pak" tintah Dava.
Mobil langsung berhenti tepat di bawah pohon rindang yang tak terlalu jauh dari masion Dava.
"Itu rumah aku" tunjuk Dava ke arah masion yang begitu besar dan mewah tersebut.
Pak Heru mengamati dengan intens masion yang penuh dengan penjagaan yang super ketat di depannya.
"Kak Arga sekarang lagi mau rekreasi ke Bali, mungkin bentar lagi dia akan berangkat" ungkap Dava.
"Kita tunggu aja dulu sampai mobil yang membawa kakaknya Dava keluar, baru kita masuk ke dalam" kata Alisa.
Kami semua mengangguk setuju.
Tak lama dari itu mobil berwarna putih yang membawa Arga keluar dari dalam masion.
"Kita masuknya dari mana, liat tuh banyak satpam yang sedang menjaga gerbang, nanti mereka akan curiga dengan kedatangan kita, jika kita lewat di pintu utama" kata Alisa.
"Lewat pintu belakang aja, di sana gak ada satpam ataupun kamera Cctv yang bertugas menjaga" jawab Dava.
"Di kunci gak?" tanya Reno.
"Enggak tau" jawab Dava.
"Pasti di kunci lah, masa gak di kunci, bisa-bisa di gondol maling nanti" kata Alisa.
"Gini aja, Dava kamu masuk dulu ke dalam, terus cari kuncinya" suruh Angkasa.
"Oke aku akan cari kuncinya dulu, nanti kalau udah ketemu aku akan hubungi kalian" kata Dava lalu keluar dari dalam mobil lalu menuju ke masionnya.
"Siap" jawab Alisa.
Kami semua memperhatikan punggung Dava yang lambat laun menghilang dari pengelihatan masing-masing.
Satpam membukakan pagar untuk sang majikan
Dava memasuki masionnya yang megah
Sampai di kamar.
Tanpa berganti pakaian Dava membuang tasnya sembarangan lalu melangkah memasuki ruangan tempat semua kunci berada.
Kriet
Pelan-pelan Dava membuka pintu
Dava melihat ke kanan dan kirinya takut ada Art yang melihatnya.
"Huft untung gak ada art di sekita sini" batin Dava lalu melangkahkan kaki memasuki ruangan tersebut.
Dava mendekati lemari kaca yang ada di ruangan ini.
"Gila banyak bener kunci-kuncinya, mana satu nih kunci belakangnya" takjub Dava.
Di kemari kaca itu sangat banyak kunci-kunci yang berada di sana.
"Aku harus teliti mencarinya, aku harus bisa menemukannya secepatnya" kata Dava.
Mata Dava melihat semua kunci-kunci yang berada di sana.
"Kunci ruangan utama, kunci gudang, kunci pintu belakang, nah ini yang aku cari" kata Dava membaca tulisan yang ada di dekat kunci.
Tangan Dava meraih kunci yang saat ini di carinya.
Senyuman terukir di wajah Dava.
"Akhirnya nih kunci ketemu juga" kata Dava.
tap tap tap
Tiba-tiba telinga Dava menangkap suara langkah kaki yang mendekat.
"Waduh siapa yang datang itu" kata Dava terkejut.
Dava melihat knop pintu bergerak.
Dava bersembunyi di samping meja yang tak terlalu jauh dari posisi lemari kaca berada.
Dava meringkuk di bawah sambil memeluk tubuhnya.
"Semoga aja gak ada yang liat aku di sini, ya Rabb hamba mohon bantulah hamba, jangan buat hamba ketahuan, hamba mohon sekali pada mu" batin Dava..
Seorang pelayan masuk ke dalam ruangan berkunci tersebut.
Pelayan wanita itu mengembalikan kunci di lemari kaca lalu melangkah keluar setelah selesai menaruhnya.
"Huft leganya hati ini, untung aku gak ketahuan, terimakasih ya Allah kau telah menyelamatkan hamba, aku harus cepat-cepat pergi dari sini kalau tidak aku pasti akan ketahuan sama mama ataupun pelayan" batin Dava.
Dava keluar dari tempat persembunyiannya, setelah itu berjalan ingin keluar tiba-tiba mata Dava tak sengaja melihat sebuah kunci yang berbeda dari yang lainnya.
Dava mendekati lemari kaca kembali.
"Ini kunci apa kok gak ada nama keterangan di dekatnya" kata Dava mengambil satu kunci lalu membolak-balikan kunci yang saat ini di pegangnya dengan tatapan aneh.
"Bawa aja deh mungkin nanti bisa di gunain" kata Dava.
Tanpa pikir panjang Dava memasukkan kunci yang menurutnya aneh ke dalam saku celananya, lalu melangkah keluar dari dalam ruangan tempat kunci tersebut.
"Den gak mau makan dulu?" tanya seorang art yang bekerja di masion Dava.
"Nanti aja bi" jawab Dava.
Art itu kemudian melangkah menjauhi Dava.
Dengan langkah santai Dava berjalan menuju pintu belakang.
Tiba-tiba Dava menghentikan langkahnya tepat di depan ruangan yang tak pernah sekalipun di masuki siapapun, entah apa alasannya.
"Kenapa ya mama sama om gak bolehin orang-orang masuk ke dalam sini ,ada apa sih di dalamnya, kok aku penasaran banget" kata Dava menatap ruangan itu.
"Dah lah aku mau cepat-cepat bebasin papa, gak mau mikirin ruangan ini, gak guna juga" kata Dava lalu melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tempat tujuan.
Dava merogoh hp yang ada di sakunya lalu menghubungi Alisa.
"Aku udah ada di depan pintu belakang, kalian ke sini aja" kata Dava.
"Siap" jawab Alisa.
"Ayo gais kita ke pintu belakang, di sana sudah ada Dava yang menunggu kita" ajak Alisa.
Kami yang ada di dalam mobil turun satu persatu hingga mengisahkan pak Gerry di dalamnya karena beliau di suruh untuk menjaga mobil.
Kami melewati jalan samping masion Dava.
"Ayo masuk" ajak Dava.
Kami masuk ke dalam lalu Dava menutup pintu tanpa menguncinya.
"Nah, sekarang tugas kita cuma mencari di mana ruangan bawah tanah itu berada" kata ku.
"Kamu tau gak di mana ruangan bawah tanah itu?" tanya Reno..
"Kalau aku tau sudah dari lama aku bebasin papa, gak perlu repot-repot meminta bantuan kalian" jawab Dava.
"Iya juga sih, kita cari di mana ruangan bawah tanah itu di masion sebesar ini, bakalan menghabiskan waktu yang banyak untuk menemukannya" kata Alisa.
Kami melihat ke sekeliling yang ada banyak ruangan-ruangan yang tidak tau ada apa di dalamnya.
Pak Heru dan kedua temannya hanya bisa diam melihat kami yang sibuk memikirkan ruangan yang menjadi tempat Om Devan di sekap.
"Kamu tau gak sa, di mana ruangan itu berada?" tanya ku
Angkasa tak menjawab, dia hanya memejamkan mata.
Di dalam penerawangannya, dia melihat ruangan yang menjadi tempat om Devan di sekap.
Angkasa membuka mata, berjalan lurus hingga berhenti di sebuah ruangan yang terkunci.
Kami semua menatap Angkasa dengan tatapan aneh.
"Kenapa dia?" tanya Alisa.
"Gak tua juga, kita lihat aja apa yang mau Angkasa lakukan, ayo kita ke sana" ajak ku.
Kami semua menghampiri Angkasa yang sedang menatap dengan seksama ruangan di depannya.
"Buka ruangan ini" perintah Angkasa yang masih terus menatap ruangan itu.
"Aku gak tau kunci ruangan ini ada di mana" jawab Dava.
"Terus ini gimana dong" bingung Alisa.
"Eh tadi aku gak sengaja nemu kunci yang berbeda dari yang lainnya, mungkin saja ini kunci dari ruangan itu" kata Dava mengeluarkan kunci yang tadi di bawanya hanya karena rasa penasaran saja.