
Mereka terus berlari, sesekali Reno menoleh kebelakang ia sungguh tak rela membiarkan jasad pak Beni yang tergeletak di tengah jalan, Reno ingin sekali membantu pak Beni namun keadaan sedang tidak berpihak padanya.
"Lebih cepat lagi" teriak ku.
Mereka menambah kecepatan, mereka masuk ke dalam mobil dengan cepat aku menutup pintu.
"Sa cepat jalan" teriak ku.
Dengan siaga Angkasa melajukan mobil.
"Akkkkhh" pekik Robi saat melihat kami yang berhasil membawa Reno dan Rani pergi.
Robi mengacak rambutnya kasar.
"Gimana ini, mereka berhasil membawa Reno dan Rani pergi, siapa lagi yang mau kita tumbalkan, besok kita harus bisa memberikan tumbal pada Ki Suryo, mama gak mau kita bangkrut karena tidak memberikan tumbal tepat waktu" kata Desi.
"Papa juga gak tau, mama kenapa malah biarin saja saat mendengar suara kucing tadi" marah Robi.
"Mama kan gak tau kalau itu bukan kucing beneran, papa jangan marah sama mama" jawab Desi.
Robi begitu frustasi dengan apa yang terjadi hari ini.
"Kita harus ke desa Pongkolan, kita temui Ki Suryo dan bilang semuanya, kita minta saja padanya buat bawa Reno dan Rani kembali, dia kan punya anak buah yang tak kasat mata yang bisa membawa Reno dan Rani kembali" saran Desi.
"Boleh juga, tapi bagaimana dengan nasib pak Beni, dia sudah meninggal dunia gara-gara kita, kita mau kemanakan jasad pak Beni?" tanya Robi.
"Kita biarin aja pa, nanti kalau ada orang yang melihatnya pasti membantunya, kita jangan pedulikan dia, ayo kita ke desa Pongkolan saja" jawab Desi.
Keduanya masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan pak Beni yang tergeletak di bawah.
Jalanan raya ini begitu sepi tak ada satu orangpun yang melintas.
Mobil kami melaju dengan kecepatan sedang.
Tangisan Reno masih terus terdengar di telinga ku, rasanya hati ku menjadi tak tenang saat mendengar suara tangisan seseorang.
"Ren kamu yang sabar" kata Alisa menenangkan Reno.
"Huhu sa pak Beni meninggal, itu semua gara-gara aku" tangis Reno di pelukan Alisa.
"Tidak, itu bukan salah kamu, kamu jangan nyalahin diri sendiri, takdir kematian itu tidak ada yang tau, hanya Allah saja yang tau, kamu tenangin diri mu dulu" jawab Alisa.
Reno masih menangis tak menyangka hal ini akan terjadi, Alisa membiarkan Reno menangis dalam pelukannya.
"Sa kita langsung ke rumah sakit, kita bawa Rani ke sana saja takutnya ada apa-apa sama Rani kalau tidak cepat di tolong" tintah ku.
"Iya" jawab Angkasa.
Angkasa melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.
Saat mobil sampai di rumah sakit, Angkasa menggendong tubuh Rani dan meletakkannya di brankar.
"Dokter tolong Rani" kata ku.
"Baik" jawab mereka.
Kami mengikuti suster yang mendorong brankar Rani, kami tidak di izinkan untuk masuk ke dalam ruangan UGD, terpaksa kami menunggu di luar.
Reno mondar-mandir ke sana kemari memikirkan kondisi Rani, sesekali air mata mengalir kala ingat dengan kejadian yang tak terduga yang terjadi hari ini.
"Kamu tenang dulu ren, Rani pasti baik-baik saja" kata Alisa.
"Aku gak bisa tenang, aku takut sesuatu terjadi sama Rani, aku tidak akan bisa bayangin hal itu" jawab Reno cemas.
"Kita berdoa saja semoga Rani baik-baik aja" kata ku.
Panjatan demi panjatan terus kami ucapkan dalam hati, kami berharap tidak ada sesuatu yang serius yang menimpa Rani.
Perhatian kami langsung teralihkan saat melihat pintu ruangan UGD terbuka.
"Gimana dokter keadaan adik saya?" tanya Reno cepat.
"Keadaannya baik-baik saja, hanya saja pasien kekurangan cairan sehingga bisa tidak sadarkan diri, saya sarankan pasien di rawat di sini untuk beberapa hari" jawab dokter.
Kami sedikit merasa lega saat tau kalau kondisi Rani baik-baik saja.
"Dokter kami ingin menemui pasien" kata Alisa.
"Silahkan, tapi jangan semua takutnya menganggu pasien lain yang sedang di tangani, sebelumnya kalian urus dulu administrasinya biar pasien bisa segera di bawa ke ruang perawatan" jawab dokter.
"Baik dok" kata kami.
Dokter berlalu meninggalkan kami semua.
"Ren kamu masuk aja ke dalam, aku mau telpon bunda dulu biar dia ke sini" suruh Alisa.
"Iya" jawab Reno.
Reno masuk ke dalam ruangan UGD.
Alisa mengubungi bunda.
^^^"Halo sayang ada apa, tidak ada masalah kan, semuanya baik-baik saja?" tanya bunda.^^^
"Bunda datang ke rumah sakit saja, nanti aku akan jelasin semuanya" jawab Alisa.
^^^"Siapa yang sakit kak?" tanya bunda khawatir.^^^
"Rani Bun, bunda langsung ke sini saja kita ada di rumah sakit xxx" jawab Alisa.
^^^"Iya bunda akan ke sana" setuju bunda lalu mematikan sambungan.^^^
"Ada apa Bun?" tanya ayah.
"Ayah kita harus ke rumah sakit, anak-anak ada di sana" jawab bunda.
"Siapa yang sakit Bun kok mereka bisa ada di sana?" tanya ayah.
"Kata Alisa Rani yang sakit, ayo yah kita susul mereka ke sana, bunda takut ada sesuatu yang terjadi sama anak-anak" jawab bunda.
Ayah dan bunda berangkat menuju rumah sakit.
"Aku mau urus administrasi dulu, kamu tunggu di sini saja" kata ku.
Alisa hanya mengangguk, aku lalu melangkah meninggalkannya.
Aku tak datang ke bagian administrasi melainkan taman rumah sakit yang sepi, aku menangis karena tak bisa berbuat apa-apa sampai pada akhirnya aku menyesal karena harus ada korban yang tumbang di dalam kasus ini.
"Hiks hiks" tangis ku.
Segalanya ketumpahkan di sana.
Saat air mata ku terus mengalir tiba-tiba sebuah tangan menghapusnya.
Aku menatap orang itu, seketika tangisan ku terhenti.
"Jangan nangis, tak semua hal harus berakhir dengan apa yang kita inginkan, semuanya sudah tertulis tidak dapat di rubah, kita sudah berusaha selebihnya itu terserah Nya" kata Angkasa menenangkan ku.
Aku menitihkan air mata mendengar itu semua, sesaat aku melupakan kalau semuanya sudah di tentukan oleh Allah ta'ala.
"Sudah jangan menangis lagi, berlajarlah dari kegagalan kalau tidak semua hal bisa berakhir dengan apa yang kita inginkan" kata Angkasa.
"Aku tau, hanya saja aku tidak siap menerima fakta ini" jawab ku.
Angkasa menyunggingkan senyumnya.
"Fakta itu memang dapat mengguncang semuanya, namun apalah daya, itu semua memang aslinya, kita harus terima walau hati kita tidak rela" kata Angkasa.
Aku menangis di dalam pelukan Angkasa.
"Sudah jangan menangis lagi, ayo kita ke bagian administrasi biar Rani segera di pindahkan ke ruangan perawatan" kata Angkasa.
Angkasa mengangguk, aku menyeka sisa-sisa air mata yang mengalir dan berjalan mengikuti Angkasa dari belakang.