The Indigo Twins

The Indigo Twins
Penampakan hantu terompah



Angkasa membuka matanya, ia tidak bisa tidur, walaupun tubuhnya lelah, namun matanya tak bisa terpejam dan masuk ke dalam mimpi.


Angkasa beranjak dari tempat tidur, ia keluar dan melihat ke ruang tamu yang sepi, kemudian Angkasa dengan pelan-pelan membuka pintu dan duduk di teras rumah dengan tatapan lurus ke depan.


"Kenapa akhir-akhir ini aku gak bisa lagi baca pikiran orang dan juga kenapa kelebihan ku untuk melihat masa lalu orang tidak bisa ku gunakan, ada apa dengan ku, kenapa aku menjadi seperti ini"


Alasan itu membuat Angkasa tak bisa tidur sedari tadi, ia benar-benar bingung mengapa hal itu bisa terjadi.


"Aaah kalau begini caranya akan susah buat aku mecahin kasus-kasus yang terpendam sejak dulu" frustasi Angkasa.


"Apa mungkin sekarang aku di suruh nyelesain masalah tanpa harus gunain kemapuan ku, tapi bakalan susah, kalau kasusnya sudah terjadi di masa lampau pasti akan susah buat aku dan teman-teman nyelesainnya"


"Gimana ya caranya aku dapat ngembaliin kelebihan ku itu?"


Angkasa mulai berpikir keras, ia ingin kelebihannya kembali seperti dulu.


Di saat Angkasa terus memikirkan hal itu, tiba-tiba Angkasa mendengar suara-suara aneh.


Klontar


Klontar


Klontar


Terdengar suara orang berjalan dengan memakai terompah.


Dengan cepat Angkasa langsung bangkit dari duduk, ia mencari-cari asal suara.


Pandangan Angkasa tertuju pada seorang wanita yang rambutnya berwarna hitam di sanggul, ada hiasan seperti tusuk yang berwarna emas di rambutnya, bajunya berwarna merah, wajahnya seram dan sangat menakutkan, ia mengenakan terompah dan berdiri di depan pagar.


"Allahu Akbar" terkesiap Angkasa saat melihat hantu terompah itu.


Hantu terompah terus menatap tajam ke arahnya, laku kembali berjwjnw meninggalkan Angkasa.


Klontar


Klontar


Klontar


Suara terompah milik hantu itu terdengar nyaring, Angkasa terus melihat ke arah hantu terompah yang pelan-pelan berjalan menjauhinya.


"J-jadi itu hantu terompah yang Dita bilang lagi neror warga-warga"


"Tenyata dia benar-benar serem, pantas aja gak ada warga yang mau keluar rumah"


"Tunggu-tunggu kenapa aku gak pernah liat hantu itu selama ini di desa, siapa dia sebenarnya, kenapa dia neror warga yang tinggal di desa ini, feeling ku mengatakan kalau dia bukan warga yang tinggal di desa ini, lalu mengapa dia neror warga-warga"


"Kayaknya dia hantu baru yang bukan berasal dari kampung ini, aku harus cari tau siapa dia sebenarnya, aku harus bisa hentiin dia"


tin


tin


tin


Suara klakson terdengar di telinga Angkasa, dengan cepat Angkasa membuka gerbang.


Ustadz Fahri masih diam di tempat, ia masih belum masuk ke dalam area rumah.


"Ustadz siapa dia, kenapa Ustadz bawa dia ke sini?" pandangan Angkasa tertuju pada pocong hitam yang di bonceng sama Ustadz Fahri.


"Saya juga tidak tau siapa dia, tau-tau aja dia ikutin saya pulang" jawab Ustadz Fahri.


Angkasa terus melihat ke arah pocong itu yang masih diam di tempat, seperti tidak ada niatan untuk pergi dari sini.


"Alhamdulillah akhirnya dia pergi juga" lega Ustadz Fahri.


"Ustadz kok pulang sendiri, Ustadz Zaki sama mbk Indri kemana, kenapa gak ikut pulang juga?"


"Mereka masih ada di belakang, tadi mereka berhenti buat beli apa gitu, mangkanya saya pulang duluan biar cepat sampai di rumah, eh gak taunya pas mau masuk ke gapura ada pocong itu yang ikut boceng di belakang saya"


"Untung tadz dia gak ganggu Ustadz cuman ikut nebeng aja"


"Iya, cuman ngeri juga kalau di biceng sama pocong di tengah malam begini, apalagi dia serem banget"


"Ustadz tau gak ada hantu terompah yang lagi bikin ulah di kampung ini"


"Hantu terompah? hantu terompah yang kayak gimana, kenapa saya baru dengar namanya"


"Iya tadz, ada hantu terompah, wajahnya serem banget, barusan aku lihat dia di sini, gak tau sekarang dia kemana"


Ustadz Fahri diam, ia penasaran sekali dengan hantu terompah yang Angkasa maksud.


"Seperti apa hantu terompah itu, kamu kenal gak sama dia?"


"Enggak tadz, aku gak kenal sama dia, lihat dia di kampung ini aja gak pernah, kayaknya dia itu orang luar yang jadi hantu dan neror kampung ini"


"Mungkin aja, nanti kita cari tau siapa dia, mudah-mudahan kita bisa tau apa alasan dia datang kemari dan neror warga-warga"


Angkasa mengangguk."Ayo sa masuk ke dalam, ini sudah malam, jangan di luar, gak baik"


Angkasa setuju, Ustadz Fahri membawa motor masuk ke dalam, Angkasa hendak menutup gerbang tiba-tiba Ustadz Zaki datang.


"Jangan di tutup dulu" titah mbk Indri.


"Tenang mbk, gak akan aku tutup, ayo cepat masuk sebelum ada hantu yang ikut masuk ke dalam"


Ustadz Zaki langsung mengendari motor dan masuk ke dalam, Angkasa langsung menutup gerbang kembali.


Setelah itu Angkasa berlari mendekati mereka semua.


"Kamu tadi kemana aja sa, kenapa gak ke restoran?" penasaran Ustadz Fahri.


"Anu tadz, tadi itu ada hantu yang minta tolong sama aku dan yang lain, jadi kami urusin dia dulu, tapi alhamdulilah sekarang dia sudah tenang dan gak bakal ganggu kami lagi" jelas Angkasa.


"Oh gitu, untung aja saat bunda nanya kemana kalian saya masih bisa cari alasan, kalau bunda sama ayah tau kalian ngurus hantu di saat Aliza baru aja sembuh, bunda pasti akan marahin kalian"


"Aku tau tadz, tapi aku mohon Ustadz jangan bilang-bilang sama bunda, nanti kami gak akan bebas seperti dulu lagi tadz" mohon Angkasa.


"Iya, saya gak akan bilang-bilang sama bunda, ini sudah malam, ayo kita masuk ke dalam, jangan ada di sini, di sini dingin" ajak Ustadz Fahri.


"Kalian aja yang masuk, aku mau di sini dulu, nanti aku akan kunci pintu kok" suruh Angkasa.


"Jangan malam-malam tidurnya, besok harus sekolah, nanti bisa kesiangan" peringatan Ustadz Zaki.


"Iya tadz" jawab Angkasa.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah, Angkasa masih berada di luar, ia kembali duduk di teras rumah dan melihat sekeliling halaman rumah yang kosong dan sepi.


"Kok kayak ada yang aneh ya, tapi apa?"


Angkasa mulai berpikir untuk mencari apa yang membuatnya merasa aneh saat ini.


"Oh iya di mana mereka berlima, kenapa pada gak ada di depan rumah, mereka pada pergi kemana?"


Angkasa teringat pada mereka berlima."Coba aku panggil mereka, mudah-mudahan mereka langsung datang"


Angkasa memejamkan mata dengan memanggil nama mereka semua agar mereka datang.