
Angkasa tidak bisa tidur, ia bangun dan menatap ke arah dinding yang masih menunjukkan pukul 12 malam.
"Masih jam 12, aku harus ke mana di jam segini, gak ada orang yang bangun di jam segini?"
"Aku keluar aja deh"
Angkasa keluar dari dalam kamarnya, ia membuka pintu dan duduk di teras rumah yang sepi dan sunyi.
"Kok mbk Hilda, dua Kun, Tiger dan White pada gak ada, mereka pada pergi kemana?"
Angkasa tidak menemukan mereka di halaman rumah, halaman rumah kosong, tidak ada mereka berlima yang terlihat di matanya, biasanya mereka selalu berada di pohon yang ada di halaman rumah.
"Apa mereka lagi pada bawa suami gaibnya mbk Indri ke tempat yang sangat jauh agar gak datang ke sini lagi?"
"Tapi masa sampai sekarang gak balik-balik juga, kayaknya mereka lagi dalam masalah"
Angkasa yang terus memikirkan mereka tiba-tiba merasa ada seseorang yang melihatnya, tepatnya di sebelah kirinya, berjarak sekitar 35 cm dari tempatnya duduk.
Angkasa diam, pura-pura tidak tau, walaupun ia menyadari keberadaannya, namun dia berusaha untuk waspada akan apa yang di lakukan oleh orang misterius itu nantinya.
Angkasa terus saja diam dengan pandangan lurus ke depan, orang misterius itu terus mengamatinya.
"Siapa dia sebenarnya, kenapa dia masih belum pergi juga" batin Angkasa perlahan-lahan mulai penasaran pada sosok yang saat ini tengah mengamatinya.
"Kenapa aku penasaran sekali dengannya" batin Angkasa lagi.
Pelan-pelan Angkasa melihat ke sebelah kiri, tepat pada orang misterius itu berdiri.
Angkasa langsung bangkit dari duduk, ia tercekat saat melihat genderuwo yang ternyata terus mengamatinya sedari tadi.
"Kembalikan istri ku" teriak Bima dengan mata merah menyala dan senyuman bengisnya.
"Kalian dua orang yang berbeda alam, kalian tidak bisa bersama, jangan melanggar hukum alam"
"Kami bisa bersama, asalkan dia mau ikut ke alam ku"
"Kau jangan egois, dia akan teriksa hidup di sana!"
"Kau salah, dia akan bahagia, aku akan memberi kebahagiaan padanya, kau jangan berusaha untuk mencegah ku membawanya"
"Maaf, aku tidak akan biarkan kau membawanya, karena aku tau dia akan teriksa hidup bersama mu"
Wajah Bima tampak marah besar."Aku akan bawa dia pergi dari sini dengan cara ku sendiri, kau lihat saja aku pasti bisa bawa pergi dari sini"
"Silahkan kalau kau bisa" Angkasa meremehkan Bima yang membuat Bima semakin meledak-ledak.
"Tunggu pembalasan ku bocah kecil!" setelah mengatakan itu Bima menghilang dari sana.
Saat Bima pergi wajah Angkasa langsung berubah menjadi panik, tegang campur cemas.
"Bagaimana ini, dia tidak akan nyerah dengan mudah, aku harus apa untuk hadapin dia, aku tidak punya cara apa-apa"
"Aku harus bilang hal ini pada Ustadz Fahri besok, dia harus tau masalah ini, semoga saja dia bisa buat Bima nyerah"
"Aku yakin sekali Bima gak akan diam saja, dia pasti akan terus berusaha untuk membawa mbk Indri ke desa gaib itu, InsyaAllah Ustadz Fahri pasti bisa lindungi mbk Indri darinya, dia pasti gak akan biarkan mbk Indri di bawa ke alam gaib"
"Loh kalau Bima tadi ada di sini, terus dua Kun, mbk Hilda, White serta Tiger kemana, kenapa mereka gak balik-balik?" Angkasa teringat kembali pada mereka yang sedari tadi tak kunjung kembali.
"Ini pasti mereka lagi dalam masalah, aku coba panggil mereka ke sini" Angkasa memejamkan mata dan mulai memanggil mereka semua.
Saat membuka mata mereka sudah berada tepat di depan Angkasa.
"Kenapa kamu manggil kami?" penasaran mbk Hilda yang kini berada tepat di depan Angkasa.
"Kalian kemana aja, kenapa kalian gak jagain rumah?"
"Kami lagi ada di rumah pak Jarwo, kami penasaran sekali sama nyi Gayatri" jawab mbk Gea.
"Terus apa kalian ketemu sama nyi Gayatri?"
Mbk Santi mengangguk."Iya, kami ketemu sama dia, tapi sekilas, dia langsung pergi lagi"
"BIMA" mereka semua mengerutkan alis karena merasa asing dengan nama itu.
"Iya Bima"
"Bima siapa sa, kok aku baru dengar namanya?" penasaran mbk Hilda.
"Itu loh Bima suami gaibnya mbk Indri"
"Dia ke sini?" terkejut mbk Santi.
Angkasa mengangguk."Iya, dia datang ke sini saat kalian gak ada, aku kira kalian lagi bawa dia pergi jauh-jauh dari sini, eh gak taunya malah ada di rumah pak Jarwo"
Mereka semua cengar-cengir.
"Kami ke sana untuk nyari nyi Gayatri, itu saja" jawab mbk Gea.
Angkasa menghela napas."Kalian jagalah di sini, jangan biarkan Bima ataupun hantu-hantu lainnya masuk ke dalam"
Mereka semua mengangguk kompak.
"Iya, kami akan jaga di sini, kamu gak usah khawatir ada makhluk halus yang masuk ke dalam" jawab Tiger.
Setelah mendengar jawaban Tiger Angkasa masuk ke dalam rumah kembali karena di luar dingin, ia berjalan menuju kamarnya.
Wussshhhh
Angkasa melihat ada bayangan yang masuk ke dalam salah satu kamar dan kamar itu saat ini di tempati oleh mbk Indri.
"Kok ada bayangan yang masuk ke sana?"
"Apa jangan-jangan itu Bima?"
Angkasa langsung bergegas mendekati kamar itu dengan wajah panik.
tok
tok
tok
"Mbk Indri, mbk Indri" Angkasa mengentuk pintu dengan terus memanggil nama mbk Indri.
Pintu terbuka dan terlihat mbk Indri yang keluar, namun Angkasa bukannya senang malah sedikit memundurkan tubuh saat melihat mbk Indri.
"Ada apa?" sinis mbk Indri yang menatap tajam ke arah Angkasa dengan wajah yang sedikit pucat.
"Kok mbk Indri berubah draktis, kemarin dia gak kayak gini" batin Angkasa menatap aneh ke arah mbk Indri.
"Ada apa?" sekali lagi mbk Indri bertanya sebab Angkasa terus saja diam.
"Gak jadi mbk"
Tatapan mbk Indri semakin tajam, ia melototkan matanya ke arah Angkasa.
"Mengganggu orang tidur saja"
Brakk
Mbk Indri menutup pintu dengan sangat keras dan hal itu berhasil membuat Angkasa terkejut.
"Kok mbk Indri berubah, dia kemarin gak kayak gini, apa mungkin itu bukan mbk Indri?"
Angkasa masih diam di tempat dengan pikiran yang tertuju pada perubahan mbk Indri yang berubah dengan sangat draktis.
"Sepertinya dia memang bukan mbk Indri, dia pasti makhluk hitam barusan yang masuk ke dalam dan nyerupain mbk Indri, aku tidak akan biarkan dia bawa mbk Indri ke alam gaib, lihat saja apa yang akan aku lakukan"
Angkasa masuk ke dalam kamar kosong yang berada di sebelah kiri kamar mbk Indri, untung saja kamar itu tidak di kunci yang membuat Angkasa dengan mudah masuk ke dalam.