
"Jadi gitu ceritanya kenapa aku bisa terjebak tempat yang aneh itu" kata ku mengakhiri cerita.
"Kalian cuma ke masjid doang kan, kok bisa sampai tersesat seperti itu?" tanya bunda yang juga tidak habis pikir dengan apa yang kami alami saat ini.
"Iya kita cuma ke masjid aja, tapi entah kenapa masjid itu penghuninya berbeda walaupun bentuk masjid dan segalanya sama" jawab Angkasa yang masih tidak habis pikir dengan segalanya.
"Betul itu, apalagi penghuni masjid itu pada serem banget, pas kita keluar dari dalam masjid, kita pikir semuanya akan selesai, gak taunya malah nambah, kita semakin tersesat, mencari jalan pulang aja gak ketemu dan malah berputar-putar gak karuan" kata ku.
"Kalian itu tersesat di alam gaib, mangkanya semua tempat-tempat yang kalian kunjungi tidak kalian kenali sama sekali" kata Ustadz Fahri.
Kami terkejut mendengar itu semua.
Semua tatapan langsung tertuju pada Ustadz Fahri.
"Alam gaib" tercekat kami.
"Iya alam gaib, kalian itu terjebak di sana, untung kalian masih bisa keluar, jika sampai kalian tidak kunjung menemukan jalan, selamanya kalian pasti akan terjebak di alam gaib itu dan tidak akan bisa kembali ke sini lagi" jawab Ustadz Fahri.
"Tunggu-tunggu kok bisa kami terjebak di dalam alam gaib, perasaan kami hanya datang ke masjid saja dan semuanya tampak sama, tak ada keanehan sedikitpun?" tanya ku masih tidak mengerti.
"Karena makhluk halus susah menciptakan semacam labirin/ tabir yang sama persis seperti di di sini tetapi penghuninya otomatis berbeda, mangkanya kalian bisa tidak sadar jika tempat yang kalian injak itu bukan di bumi, tapi di alam gaib, jika kalian tidak bisa menemukan jalan keluar, maka kalian juga tidak akan kembali ke sini lagi, resiko menjadi anak indigo itu memang banyak, salah satunya gangguan dari makhluk halus yang tak menyukai kalian atau malah ingin membuat kalian hidup di alam mereka" jelas Ustadz Fahri.
"Pantesan kita gak kenal sama sekali tempat-tempat di sana, tenyata oh ternyata tempat yang sudah kita lewati adalah alam gaib, untung kita masih bisa keluar dari labirin yang di buat oleh makhluk halus, kalau enggak kita sudah pasti akan bergentayangan tak jelas di alam jin itu" syukur Angkasa.
"Ini semua berkat kunang-kunang itu, kalau dia gak ada, pasti kita juga tak akan bisa pulang ke sini lagi" kata ku sangat bersyukur masih dapat bertemu dengan kunang-kunang itu.
"Beruntung kalian masih bisa keluar setelah 9 hari kalian menghilang" kata bunda.
"Hah sembilan hari?" kaget kami tercekat.
"Iya kalian sudah selama itu menghilang, bunda sampai bingung mau cari kalian ke mana lagi, bunda hanya bisa meminta bantuan para warga untuk datang ke sini buat mendoakan kalian sehabis sholat magrib" jawab bunda yang sudah sangat risau pada kami berdua.
"Perasaan kita di sana gak sampai satu hari loh Bun, memang aneh sih masa waktu subuh lama banget, Angkasa juga sampai lelah nunggu matahari terbit tapi setelah cukup lama akhirnya matahari terbit juga walaupun setelah itu kejadian-kejadian mistisnya malah nambah" kata Angkasa
"Waktu di alam gaib dengan alam manusia berbeda, kalau di alam gaib itu waktu malamnya begitu lama jadi wajar saja, jika kalian sudah selama itu pergi" kata Ustadz Fahri.
"Pantas aja waktu subuh lama banget, sampai-sampai kita capek banget hanya karena nunggu matahari terbit" jawab ku.
"Setelah ini kalian istirahat dulu membantu mereka yang tak kasat mata dan orang lain" kata ayah.
Kami bertiga langsung tak terima mendengar itu semua.
"Owh tidak ayah, kita tidak bisa berhenti, ini sudah menjadi jalan takdir hidup kita yang berdampingan dengan makhluk tak kasat mata, Aliza tak bisa berhenti ayah, Aliza pokoknya tidak mau" jawab ku tak setuju sama sekali.
"Tapi makhluk halus itu membahayakan kalian, kalian berhenti saja dulu, jangan berurusan sama mereka lagi untuk sementara" kata ayah.
"Wah gak bisa ayah, kita gak bisa sehari aja gak bantuin makhluk tak kasat mata, gak bisa di hentikan, walaupun Alisa penakut, tetapi Alisa juga tak ingin ayah menghentikan petualangan ini, karena ini itu sudah mendarah daging" kata Alisa.
Ayah menghela napas.
"Kelebihan ini sudah menjadi jalan kita ayah, kita gak bisa diam aja saat melihat makhluk hidup maupun sudah koit kesusahan, kita harus bantu agar kelebihan kita ini bisa berguna bagi Nusa dan Bangsa" kata Angkasa.
"Hei, hai, hei bunda gak mau izinin kalian petualangan lagi" kata bunda.
Suara ini terkadang tak bisa
kami lawan dengan cara baik-baik.
"Sampai hati bunda" kata ku membuat mimik wajah yang sangat melas.
"Kita ini sudah di takdirkan begini Bun, gak bisa kita diam aja di saat orang lain yang sedang kesusahan, emang bunda tega biarin mereka gak tenang dan gak balik-balik ke alamnya" kata Alisa.
"Tau bunda ini, Aliza juga gak setuju dengan apa yang bunda sama ayah katakan, masa cuman karena hilangnya Aliza sama Angkasa bunda jadi seperti ini" kata ku.
"Tak berperikemanusiaan hmm" kata
kami berbarengan.
"APA" kata bunda.
Suara bak petir yang paling keras masuk ke dalam indra pendengaran kami.
Bunda langsung mencubit kami bertiga yang sudah sedari tadi memojokkannya.
"Adoooi" teriak kami yang mendapatkan cubitan sesakit di capit kepiting yang paling besar.
Yang lain hanya bisa tertawa melihat kami di capit oleh kepiting terbesar di dunia.
"Ayolah Bun, jangan larang-larang kita" tintah ku dengan memeluk tubuh bunda agar hati bunda yang saat ini sudah menjadi batu bisa pecah juga.
"Enggak" tegas bunda yang masih tidak mau menuruti keinginan ku.
"Kenapa hati bunda sekeras batu gini sih, bisa gak ya aku sama yang lainnya memecahkan batu yang melindungi hati bunda ini" batin ku.
"Ya udah kalau bunda masih larang kita, Alisa telpon nenek sama kakek aja" kata Alisa hendak menghubungi kakek sama nenek.
"Heii berhenti" teriak bunda yang suaranya bagaikan sambaran kilat yang menggelegar di dalam rumah ini.
Para makhluk tak kasat mata selain teman-teman ku menyingkir dan lari ketakutan.
Rani tak berhenti terkekeh sedari tadi melihat bunda yang tertekan.
"Kenapa sih Bun, kakak cuman mau telpon kakek sama nenek doang" kata Alisa.
Sungguh politik yang Alisa gunakan benar-benar membuat bunda ketar-ketir.
"Iya bunda izinin" teriak bunda yang membuat
kami bertiga tersenyum bahagia.
"Yes akhirnya usaha ku bisa juga menaklukan hati bunda yang sekeras batu gunung ini, haha makan itu semua, enak aja mau larang-larang Alisa, sampai bunda berani ngusik aku lagi, aku akan gunakan nama kakek sama nenek biar bunda tau rasa" batin Alisa yang tau kelemahan bunda.
"Nah gitu dong Bun, bunda baik deh ah" puji Alisa yang melihat wajah bunda masih merah bagikan balon yang hendak meledak.
"Akhirnya bunda mau mengizinkan aku dan yang lain berpetualang lagi" batin Alisa sangat senang.
"Sialan bocah tengil ini, berani-beraninya mereka mengancam aku lewat bapak sama ibu" batin bunda.
"Ternyata segarang-garangnya bunda, bunda masih takut sama kakek nenek Alisa dan Aliza, huft untung saja Alisa punya cara yang ampuh yang bisa membuat bunda tak berkutik, hebat sekali kau sa" batin Angkasa.
Alisa memberi jempol dengan sembunyi-sembunyi ke arah kami berdua yang berusaha menahan tawa.