
Angkasa dan Reno terus mencari keberadaan orang misterius itu, mereka menyisir tempat-tempat di sekitarnya.
"Mana orang misterius itu, kenapa cepat banget dia ngilangnya, gak mungkin dia sudah pergi dari sini, aku yakin dia pasti ada di sekitaran sini" Angkasa terus mencari keberadaan orang misterius itu.
"Kayaknya dia sudah pergi deh sa, ayo kita balik aja, percuma kita berada di ini, sudah tidak ada dia di sini" ajak Reno yang sudah lelah karena tak kunjung menemukan keberadaan orang misterius yang di cari-cari.
Angkasa menghembusakan napas berat, ia benar-benar berat meninggalkan tempat itu dan kembali dengan tangan kosong.
"Ya sudah ayo kita pergi dari sini" setuju Angkasa.
Mereka berdua pergi dari sana, mereka kembali ke tempat di mana kami berada.
Orang misterius itu keluar dari dalam tempat persembunyiannya saat sudah tidak ada mereka lagi yang berada di sana, ia dengan pelan-pelan pergi dari sana, ia tidak mau ketahuan oleh mereka berdua.
Angkasa dan Reno terus berjalan untuk keluar dari dalam hutan dan menemui kami semua yang menunggu mereka di jalanan desa yang sepi dan sunyi.
"Gimana, kalian berhasil tangkap orang itu gak?"
"Enggak, dia berhasil lari, kami gak bisa bawa dia ke sini" jawab Reno.
"Tapi kalian tau kan siapa orang itu, kalian lihat kan wajahnya?"
"Dia makai masker za, kita gak bisa lihat seperti apa wajahnya" jawab Angkasa.
Aku menghembuskan napas saat tau kalau mereka kembali tanpa membawa hasil.
"Nanti kita cari saja dia lagi, dia pasti warga di desa ini juga, gak mungkin orang jauh" usul pak RT.
"Iya, ayo kita balik pulang aja, ini sudah jam 6, kalian harus siap-siap buat berangkat ke sekolah, nanti kalian telat" ajak ayah.
Kami semua mengangguk setuju, lalu ikut pulang bersama yang lain.
Setelah sampai di rumah kami masuk ke dalam kamar masing-masing dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, setelah semuanya selesai kami berkumpul dan menunggu kedatangan Alisa yang selalu telat.
"Sa cepetan, ini sudah jam setengah 7, ayo kita harus berangkat, nanti kita telat" teriak ku.
"Iya bentar" balas Alisa dengan berteriak juga.
Alisa dengan terburu-buru keluar dari dalam kamar, ia menuruni anak tangga dengan secepat kilat.
"Ayo kita berangkat, aku sudah siap" ajak Alisa.
Kami mengangguk, kami masuk ke dalam mobil, kali ini yang nyetir mobil bukan Angkasa, tapi supir yang bunda bekerjakan untuk mengantar jemput kami.
Mobil terus melaju menuju sekolahan SMA kebangsaan.
Saat mobil masuk ke dalam jalanan desa, aku langsung melihat ke jendela mencari keberadaan hantu terompah yang mungkin saja masih ada di sana.
"Enggak, aku cuma nyari hantu terompah, kenapa ya dia kalau siang hari gak kelihatan, tapi ketika malam hari dia berulah"
"Enggak tau juga, mungkin dia memang ganggu warga-warga ketika malam hari saja, emang mau apa kamu nyariin dia?" ingin tau Angkasa.
"Aku cuman mau nanya ciri-ciri orang yang sudah bunuh dia biar aku bisa langsung tau, tapi kenapa saat di cari gak ada"
"Emang kamu berani nanya kayak gitu sama hantu terompah" tak yakin Alisa, karena tadi malam saja kami berlari terbirit-birit dari dia.
"Berani lah, masa enggak, demi menyelesaikan masalah kita itu harus berani, lawan rasa takut itu penting, kalau kita diam saja, pasti kita gak akan dapat apa-apa, jadi kita harus berani, nanti malam aku akan cari dia, aku ingin tau ciri-ciri orang yang sudah bunuh dia"
"Kamu mau cari dia di mana za, kuburan hantu terompah gak ada di sini, kita gak bisa datangin kuburannya?" penasaran Alisa.
"Enggak perlu kita datang ke kuburannya, kita hanya tinggal keliling kampung saja saat malam hari, pasti nanti kita akan ketemu sama hantu terompah, dia kan pasti terus berusaha mengganggu warga sampai pelaku yang sudah bunuh dia di tangkap"
"Kamu aja yang cari dia, aku gak mau ikutan, aku takut, mending aku tidur aja di rumah, gak mau cari masalah sama dia" suruh Alisa.
"Ya udah, kalau kamu gak mau ikut aku juga gak maksa, tapi apa iya kamu gak takut berada di rumah sendirian"
Aku mulai menakut-nakuti Alisa agar dia mau ikut berkeliling kampung bersama kami.
"Gak takut kok, lagian di rumah masih ada mbk Rinda, dia gak mungkin ikut kalian nyari hantu, aku bisa bersama dia" jawab Alisa sok tegar, padahal dia sudah merinding saat kembali teringat dengan wajah hantu terompah.
"Oh ya, aku sumpahin kamu di ganggu sama hantu terompah habis-habisan, biar kamu tau rasa!"
"Za kenapa kamu tega banget, kamu kembaran macem apa, nanti aku adukan kamu ke ayah sama bunda, biar kamu di hukum" ancam Alisa.
"Enggak takut, walaupun kamu aduin ke kakek sama nenek, aku gak takut, kamu tau gak sa, hantu terompah itu seram banget, gak cuman hantu terompah, ada hantu bersimbah darah dan hantu bertaring tajam yang juga sangat-sangat seram, seandainya mereka bertiga datangin kamu, bagaimana perasaan kamu?"
"Enggak mungkin, gak mungkin mereka datangin aku, mereka itu cuman ingin ganggu kamu, bukan aku!" bantah Alisa tegas.
"Gak mungkin kamu bilang? tadi malam saja sudah menjelaskan kalau mereka bertiga mengganggu kita silih berganti, bagaimana jadinya kalau kamu sendirian yang di ganggu sama mereka, kami pasti gak akan ada yang bantuin kamu, kamu pasti akan ketakutan saat ketiga hantu itu ganggu kamu hahaha!"
Alisa menutup telinganya takut, ia benar-benar bergidik ngeri saat membayangkan dirinya yang akan di ganggu oleh tiga hantu seram itu.
"Kamu diam zaaa, jangan bicara lagi!" hardik Alisa yang ketakutan.
"Kalian ini kenapa berantem aja terus, bisa gak sehari aja gak usah berantem" mumet Reno yang terus melihat kami berdua bertengkar.
"Enggak bisa ren, kita ini gak bisa akur, dia itu jahat banget sama aku, aku benci padanya!" tunjuk Alisa pada ku.
"Aku gak jahat sa, aku ini sebenarnya mau ngajak kamu nyari hantu terompah, tapi kamunya gak mau, yang udah aku giniin kamu, biar kamu ketakutan"
"Ya udah aku mau ikut bersama kalian nyari hantu terompah, puas!" pasrah Alisa.
"Nah gitu dong, kamu harus ikut, susah senang itu kita harus bersama, hantu terompah itu gak serem kok, kita kan dari dulu sudah pernah melihat wajah hantu yang seram-seram, hantu terompah itu gak ada apa-apanya di mata kita"