
Saat berada di luar aku melihat sekeliling halaman rumah yang kosong, tidak ada satupun makhluk halus yang aku temukan, halaman rumah benar-benar bersih.
"Enggak ada hantu di sini, jadi suara ledakan itu bukan karena hantu dong"
"Emang hantu bisa bikin ledakan kayak gitu, ada-ada kamu ini" tak habis pikir Alisa.
"Mungkin aja ada orang dengki yang ngirim sesuatu ke rumah kita, kita gak tau hati orang kayak apa sama kita, bisa aja orang yang kita temui setiap hari dan udah kita anggap baik, bisa berkhianat, jadi jangan terlalu percaya sama manusia, kalau tidak mau merasakan yang namanya kecewa"
"Udah deh gak usah ngesad dulu, kita ini keluar rumah hanya buat cari tau di mana asal suara ledakan itu, kita harus temuin, baru kita masuk ke dalam rumah lagi, jangan ada di luar, aku hanya tidak mau adalah hantu yang datangin kita"
"Iya"
Aku melihat sekeliling mencari asal suara ledakan itu, namun tidak ada apapun yang aku temukan, halaman rumah bersih, tidak ada satupun benda yang aku curigai di sana.
"Di mana asal suara ledakan itu, kenapa gak ada di sini, apa mungkin suara ledakan itu bukan berasal dari luar rumah" batin ku mulai tak yakin dengan feeling ku sendiri.
Aku terus mencari sesuatu yang berguna di sekitar halaman rumah, aku tidak akan menyerah sebelum menemukan sesuatu yang aku inginkan.
"Za lihat itu" tunjuk Alisa ke arah pagar.
"Mana?"
"Itu lihat di sana ada kulit petasan"
"Ayo cepat kita ke sana" aku berlari duluan ke sana, aku ingin memastikan apakah benar di sana ada kulit petasan yang Alisa maksud.
"Tunggu za" teriak Alisa saat melihat ku lari duluan.
Alisa mengejar ku dari belakang, kami berhenti tepat di depan pagar, mata kami melihat ke arah bekas ledakan petasan yang suaranya tadi kami dengar.
Aku mengerutkan alis saat melihat ada kulit pentesan di depan pagar.
"Kok ada kulit petasan di depan pagar, siapa yang sudah lempar petasan ini ke sini?"
Aku mengambil kulit petasan itu, aku memperhatikan baik-baik kulit petasan yang sudah tidak ada isinya.
"Kayaknya ada orang yang dengki deh za, gak mungkin ada orang yang iseng ledakin petasan di rumah kita, pasti orang itu berniat dengki sama keluarga kita, mangkanya dia ngirim-ngirim yang beginian untuk buat keluarga kita merasa terganggu, setelah kejadian ini kita harus hati-hati sama semua orang, kita gak boleh lengah, dia bisa aja lakuin sesuatu yang lebih besar lagi pada keluarga kita"
"Tapi siapa sekiranya yang dengki sama keluarga kita sa, kita gak punya musuh, bunda sama ayah juga gak mungkin punya musuh, masa tiba-tiba ada orang dengki yang neror rumah kita dengan cara ledakin petasan di tengah malam seperti ini!" aku merasa tidak habis pikir dengan orang misterius itu, ia benar-benar membuat ku geram karena ulahnya yang sudah keterlaluan.
"Mungkin aja ada orang yang iri sama kita cuman kitanya aja yang gak bisa lihat, kita harus hati-hati sama siapapun, kita gak boleh anggap semua orang yang hidup di dunia ini baik, di antara mereka itu pasti ada yang baik dan ada pula yang jahat, setelah ini kita harus ekstra hati-hati untuk kedepannya"
Aku diam, aku melihat kulit petasan yang meledak dan sampahnya berserakan di mana-mana, aku masih penasaran pada orang yang sudah meledakkan petasan di depan rumah.
"Kayaknya petasan ini di buat sendiri, kalau pabrik yang buat gak kayak gini kalau udah meledak, pasti cuman sisa kulitnya gak sampai berserakan di mana-mana seperti ini"
"Iya, ini kayak petasan ilegal, orangnya pasti buat sendiri dan ledakin di rumah kita, ayo kita masuk aja za ke dalam, orangnya juga gak ada di sini, percuma kita berada di sini"
Aku mengangguk, kami berdua melangkah mendekati rumah kembali karena rasa penasaran kami sudah terbayarkan.
Seseorang yang bersembunyi di dalam semak-semak menyunggingkan senyuman penuh kelicikan, ia terus menatap punggung kami yang mulai menjauh, kemudian dia masuk ke dalam semak-semak yang gelap dan menghilang dari sana.
Aku dan Alisa terus berjalan mendekati rumah.
Tiba-tiba langkah ku terhenti saat aku mencium bau busuk yang menyengat yang ada di sekitar ku.
"Kok ada bau busuk ya, kamu dengar juga gak sa?"
Alisa mengendus bau busuk yang tajam itu, baunya seperti bau bangkai.
"Dengar, dari mana asal bau busuk yang seperti bangkai ini, perasaan tadi gak ada, kenapa sekarang malah tiba-tiba ada" merasa aneh Alisa dengan terus mencari keberadaan bau busuk yang mengganggu kami.
"Enggak tau juga, tapi kalau
menurut aku bau busuk ini gak jauh dari sini, coba deh kita cari tau, mungkin saja ada hewan atau apapun yang mati dan sudah membusuk"
Alisa setuju, ia mulai mencari bau bangkai itu.
"Kok bisa ya ada bau bangkai di sekitar sini, perasaan tadi saat kita keluar rumah gak ada tuh bau busuk seperti saat ini"
"Katanya kalau kita nyium bau busuk di malam hari tanda-tandanya ada pocong lewat"
Aku langsung menatap ke arah Alisa dengan tidak percaya.
"Apa iya, aku gak percaya, masa kalau nyium bau busuk tandanya ada pocong"
"Beneran za, aku gak bohong, aku dengarnya seperti itu, kamu harus percaya sama apa yang aku dengar, karena ini fakta gak hoax"
"Enggak, aku gak percaya, masa cuman karena nyium bau busuk bisa di mitosin ada pocong yang lewat" aku tidak percaya sama sekali pada apa yang Alisa katakan.
"Kamu di bilangin bandel ya, aku itu dengarnya seperti itu, kalau kita nyium bau busuk kayak bau bangkai seperti saat ini tandanya ada pocong lewat" Alisa terus meyakinkan ku untuk bisa percaya pada penuturannya yang ia dengar-dengar dari orang-orang.
"Tapi saat ini gak ada pocong seperti yang kamu bilang barusan, jadi artinya apa yang kamu dengar itu palsu, itu cuman mitos, jangan percaya" aku membantah keras mitos yang Alisa beri tau.
Alisa mulai memanas, ia benar-benar geram saat ucapannya ku tolak mentah-mentah.
"Nih anak kenapa gak percayaan banget sama aku, aku kan bilang yang sebenarnya, kenapa dia malah gak percaya sama sekali" batin Alisa yang mulai kesal.
"Lain kali sa jangan mudah percaya, apa yang orang-orang katakan itu gak semuanya benar, kebayangkan mereka pada ngada-ngada, masa cuman ada bau busuk di malam hari bisa di mitosin ada pocong yang lewat, hmm aku gak percaya sama sekali!"
Alisa menatap ke arah ku yang tiba-tiba menjadi pendiam tanpa sebab.
"Za, kenapa kamu diam, apa yang kamu lihat?" penasaran Alisa saat mata ku tidak berkedip sama sekali.
Aku masih tetap diam dengan terus melihat ke arah pojok kiri rumah, apa yang aku lihat saat ini benar-benar menarik perhatian ku.
"Woy kok bengong, jawab apa yang kamu lihat?" Alisa semakin penasaran saat aku menjadi aneh tanpa sebab.
"I-itu" aku menunjuk ke arah pojok kiri rumah yang terdapat sesuatu hingga mengalihkan dunia ku untuk sesaat.
Alisa melihat ke arah apa yang aku tunjukkan, ia langsung tercekat saat melihat ada pocong hitam yang berdiri di sana, kain kafannya berwarna putih jreng, wajahnya hitam legam, pocong itu benar-benar hitam, saat ini ia tengah menatap ke arah kami dengan tatapan tajamnya.
Aku menelan ludah pahit saat di tatap setajam itu oleh pocong seram itu.
"Kenapa di sana ada pocong" batin ku yang mulai merinding ketika melihat wajah pocong yang seram itu.
"Sekarang kamu percayakan apa yang aku bilang" Alisa masih terus menatap ke arah pocong yang masih diam di tempat dengan terus memberikan tatapan mautnya ke arah kami yang tengah ketakutan.
"I-iya aku sekarang percaya mitos itu" setelah melihat dengan mata kepala ku sendiri aku akhirnya mau percaya pada apa yang Alisa katakan barusan.
"Za lama-lama kalau di pandang terus menerus pocong itu serem juga ya"
"Bukan seramnya lagi tapi serem banget, kabuurr!"
Aku berlari meninggalkan Alisa yang masih diam di tempat, aku sudah tidak tahan lagi ketika melihat wajahnya yang serem dan terus menerus melototkan matanya.
"Alizaaa" teriak Alisa lalu berlari mengejar ku meninggalkan pocong yang masih diam di tempat tanpa pergerakan.
"Ayo cepat masuk"
Alisa masuk ke dalam rumah, aku langsung menutup pintu rapat-rapat takut pocong seram itu masuk ke dalam dan akan mengganggu kami semalaman.
"Huft syukurlah kalau pocong itu gak masuk ke dalam" lega ku saat kini sudah berada di dalam rumah, aku sudah sedikit merasa aman ketika berada di dalam rumah.
"Iya, aku lega banget saat dia gak ikut masuk ke dalam, kamu sih pake ngajakin aku kekaur rumah, kan kita ketemu sama pocong!"
"Kita kan tadi keluar cuman ingin cari tau dari mana asal suara ledakan itu, aku cuman takut ledakan itu bahayain keluarga kita, mangkanya aku ngajak kamu keluar, aku kan gak tau kalau di luar bakal ada pocong, tau gitu aku kan gak keluar rumah"
"Tapi serem banget tau pocong tadi, dia kayaknya pocong pengganggu deh bukan kayak pocong yang mau minta bantuan kita"
"Jelas sa, dari tatapan matanya aja udah nunjukin kalau dia pocong serem, bukan pocong yang niat mau minta tolong sama kita"
"Semoga aja dia gak masuk ke sini, aku gak mau berurusan lagi sama dia"