The Indigo Twins

The Indigo Twins
Serasa ada yang hilang



"Kamu gak kangen sama mama dan papa hah?" tak habis pikir tante Lani.


"Kangen tapi kan nanti kalau Angkasa ada waktu Angkasa akan pulang jenguk mama sama papa" jawab Angkasa.


Tante Lani menghela napas."Enggak bisa, kamu harus pulang, kalau kamu gak mau pulang, mama gak akan izinin kamu ngurus kasus-kasus lagi"


"Ya udah deh Angkasa mau ikut pulang" pasrah Angkasa karena ancaman mamanya tak bisa di entengkan.


Tante Lani tersenyum karena usahanya membujuk Angkasa berhasil juga.


"Diana Rangga, terima kasih sudah merawat Angkasa selama ini, maaf udah ngerepotin kalian" merasa tak enak hati om Azril.


"Iya gak apa-apa zril, kayak sama orang lain aja pake gak enak segala, Angkasa udah kami anggap anak kami sendiri kok" jawab bunda.


"Iya, kalau mau tinggal di rumah lagi boleh kok, pintu rumah masih terbuka" tambah ayah.


"Makasih ayah bunda" gembira Angkasa.


"Sama-sama sa" jawab bunda.


"Ayo ma pa kita pulang, semuanya kami pamit dulu assalamualaikum" pamit Angkasa.


"Wa'alaikum salam" jawab kami.


Angkasa dan kedua orang tuanya keluar dari dalam ruangan perawatan ini.


Aku hanya menatap kepergiannya saja.


"Ayo za kita pulang juga" ajak ayah.


Dengan tak semangat aku meninggalkan rumah sakit ini.


Di sepanjang perjalanan aku menatap jalanan dengan tatapan kosong, serasa ada yang hilang namun aku tidak tau apa itu.


Setelah 1 jam lamanya akhirnya kami sampai di rumah juga.


"Kamu istirahat aja dek, nanti datang ke kondangannya Indri saat malam hari aja" suruh bunda.


Aku hanya membalas dengan deheman lalu berjalan menuju kamar ku.


"Kenapa Aliza, kenapa dia kayak gak mood gitu" batin Alisa yang merasa aneh.


Alisa menyusul ku masuk ke dalam kamar.


"Za"


"Hmm"


"Kamu kenapa, kenapa kamu lemas gitu?"


"Enggak apa-apa sa, aku baik-baik aja"


Alisa mengambil duduk di kursi."Oh ya besok masih libur"


"Libur? libur lagi, bukannya liburnya cuman 3 hari, kenapa nambah lagi?"


"Karena kasus Andin dan Elfa masih belum selesai, sehingga pihak sekolahan memperpanjang masa liburan menjadi 1 bulan" jawab Alisa.


"Lama banget sa"


"Ya gak tau, orang aku dapat pemberitahuan itu dari grup sekolah, aku dengar-dengar kasus kematian di sekolah yang terjadi 5 tahun yang lalu keluar lagi yang membuat pihak sekolah kerepotan sehingga meliburkan kita hingga sepanjang itu" jawab Alisa.


"Kasus kematiannya siapa sa?'


"Enggak tau, aku cuman dengar-dengar aja dari anak-anak yang ngerumpi di grup, masalah siapa yang meninggal aku juga belum tau pastinya" jawab Alisa.


"1 bulan, lumayan juga kita liburan sebanyak itu"


"Iya aku malah senang karena sekolah libur panjang" jawab Alisa.


"Ngapain kamu ke sini, balik ke kamar mu sana"


"Enggak mau za, aku mau nginap di sini lagi, aku masih belum berani tidur sendiri, aku masih ngeri sama pak Prapto yang meninggal karena gantung diri, iih seram banget" ngeri Alisa saat teringat pada pak Prapto yang ia temukan dalam keadaan yang sudah tidak bernyawa di rumah mbah Gamik.


"Pak Prapto gak akan ganggu kamu, dia itu udah di jinakkan, gak akan gentayangan, dukun beranak juga sudah di beresin, gak akan ada gangguan lagi yang berada di desa ini, sekarang kamu balik ke kamar mu gih sana"


"Enggak za, aku gak mau, aku mau tidur sama kamu, boleh ya pliis" mohon Alisa.


"Iya deh boleh"


"Yeay makasih" gembira Alisa.


"Sekarang kamu keluar dulu, aku mau mandi" Alisa mengangguk lalu keluar dari dalam kamar ku.


Aku masuk ke dalam kamar mandi, melakukan ritual mandi sebentar, lalu keluar dari dalam kamar mandi.


Aku bergantian pakaian setelah selesai baru menuruni anak tangga untuk menemui yang lain.


"Ustadz nanti kita ke rumah pak Jarwo ya" ajak Dita.


"Iya nanti kita ke sana sehabis tahlilan" jawab Ustadz Fahri.


"Kapan selesainya tahlilannya tadz, kenapa lama banget" kesal Dita.


"Enggak lama kok, cuman kurang 4 hari lagi" jawab Ustadz Fahri.


Dita menghembuskan napas kasar."Lama banget, kapan habisnya, seharusnya tahlilan itu sehari saja, gak usah sampai 7 hari"


"Ketentuannya memang 7 hari" jawab Ustadz Fahri.


"Dita nanti kita berangkat ke rumah pak Jarwo duluan aja, yang lain biar nanti sehabis tahlilan" usul Arif.


"Iya Dita, kita berangkat ke rumah pak Jarwo habis pulang sholat magrib, nanti kita tunggu yang lain di sana" tambah Rani.


"Enggak mau, aku gak mau kita cuman datang bertiga ke rumah pak Jarwo" tolak Dita.


"Kenapa?" penasaran keduanya.


"Aku cuman gak mau ketemu sama hantu, kalau sama Ustadz Fahri gak ada hantu yang bakal gangguin aku, mangkanya aku mau bareng dia aja, kalian kalau mau berangkat duluan silahkan" suruh Dita.


"Enggak ah, kita nunggu kalian aja, jalan berdua ke saja takut" jawab Rani.


"Emang ada tahlilan, siapa yang meninggal?"


"Itu kerabatnya bu Weni yang meninggal 3 hari yang lalu dari kota tapi di bawa ke sini, dan di tahlilin di sini juga" jawab Alisa.


"Oh pantesan aja aku gak tau"


"Iya karena kamu kan pingsan selama 7 hari 7 malam di rumah sakit" sahut Alisa.


"Sepi ya gak ada Angkasa"


"Nanti dia juga akan ke sini, palingan besok atau gak lusa" jawab Alisa.


Aku menghembuskan napas.


"Angkasa bakal tinggal bareng orang tuanya lagi gak ya?"


"Kayaknya iya deh za, aku dengar-dengar juga Angkasa bakal di bawa ke luar negeri sama om Azril dan tante Lani" jawab Alisa.


DEG!


Entah kenapa aku merasa tak rela saat Angkasa akan pergi.


"Kalau gak ada Angkasa gimana nanti"


"Gimana apanya?" merasa aneh Alisa.


"Ya kan kita yang mau nyelidiki kasus-kasus tanpa Angkasa rasanya kurang lengkap"


"Enggak apa-apa za, masih ada aku kok, aku bisa bantuan kalian nanti" jawab Reno.


"Iya sih, masalah Laras ini gimana, masa dia benar-benar gak bisa kembali?"


"Udah gak bisa kak, dia gak akan bisa kembali walaupun kita nemuin tempat dia di sembunyiin" jawab Dita.


"Kamu gak pernah lihat atau di datangin sama Laras gak dit?"


"Enggak, dia gak datangin aku, dia benar-benar hilang, sekarang teman main kami berkurang" jawab Dita.


"Kalian hati-hati ya kalau lagi main"


"Emang kenapa kak?" ingin tau Rani.


"Karena biasanya akan ada anak kecil lagi yang hilang, jadi kalian harus hati-hati, jangan jauh-jauh kalau main, di sekitar sini saja"


"Iya kak, kami gak bakal jauh-jauh kok, palingan cuman di belakang rumahnya pak RT" jawab Arif.


"Nyuri kacang kan"


Ketiga bocil itu terkekeh setelah kelakuannya di ketahui sama kami semua.


"Kalian jangan nyuri kacang lagi, nanti di marahin sama pemiliknya" larang Ustadz Fahri.


"Gak bakalan tadz, pemiliknya itu gak akan marah, dia akan seneng kalau kami habisin kacangnya itu" jawab Dita.


"Nakalnya" mereka bertiga semakin mengeraskan tawanya.


"Udah ayo siap-siap buat sholat magrib, jangan ketawa terus, nanti malamnya malah nangis" ajak Ustadz Fahri.


"Iya" jawab mereka.


Kami bersiap-siap berangkat ke masjid karena adzan magrib sebentar lagi akan di kumandangkan.