
"Jabah tangan saya" titah pak penghulu pada Ustadz Zaki yang duduk di seberangnya.
Ustadz Zaki menuruti apa yang pak penghulu minta, ia menjabah tangah pak penghulu.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan saudari Indriana binti bapak Jarwo Mahendra dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Indriana binti bapak Jarwo Mahendra dengan mas kawin tersebut di bayar tunai" jawab lantang Ustadz Zaki.
"Bagaimana para saksi?"
"Saaah"
"Alhamdulillah" syukur kami semua karena pada akhirnya mbk Indri nikah juga dengan Ustadz Zaki meskipun di awal banyak kendala.
Pak Ustadz Somad membaca doa setelah usianya ijab kabul itu yang di amini oleh kami semua.
Mbk Indri mencium punggung tangan Ustadz Zaki yang kini sudah menjadi suaminya.
"Pak bu saya pamit dulu, saya masih ada jadwal di tempat lain" pamit pak penghulu.
"Iya pak terima kasih pak" pak penghulu mengangguk kemudian pergi meninggalkan rumah ini.
"Indri papa kamu tau tentang hal ini?" mbk Indri menggeleng cepat.
"Enggak om, papa gak tau, kami sengaja rahasian ini semua dari papa, aku mohon om jangan kasih tau papa, aku gak mau papa bawa aku pulang, aku gak mau tinggal di sana lagi" titah mbk Indri.
"Iya, om gak akan kasih tau papa kamu, Indri maaf om gak bisa lama-lama di sini karena om mau ke luar negeri setelah ini, kamu baik-baik di sini ya, kalau kamu butuh apa-apa, kamu tinggal kabarin om, om pasti akan bantu kamu"
"Baik om, makasih om sudah mau jadi wali nikahnya Indri"
"Sama-sama, semuanya saya permisi dulu, assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam"
Om mbk Indri kemudian pergi meninggalkan rumah ini, kami hanya bisa menatap kepergiannya.
Di saat kami semua terus menatap ke arah mobil itu, tiba-tiba pandangan ku tertuju pada sesuatu yang berhasil membuat ku terdiam.
Seorang genderuwo yang tak lain adalah Bima tengah berdiri di samping rumah tepatnya di sebelah kiri.
Wajahnya marah besar ketika istrinya kini telah menikah dengan orang lain, ia menatap ke arah kami dengan tatapan tajam, matanya berwarna merah, semerah darah.
"Arrrrgghh" teriak Bima yang marah besar ketika tau mbk Indri sudah menikah.
Mereka yang bisa mendengar suara teriakan itu langsung melihat ke arahnya.
"KALIAN SEMUA KURANG AJAR"
"TUNGGU MEMBALAS KU, AKAN AKU BUAT KALIAN MENDERITA!"
Setelah mengatakan itu Bima langsung menghilang dari sana karena mbk Hilda, dua Kun, White dan Tiger berlari mendekatinya.
"Ren kok aku jadi takut ya" Alisa menempel pada Reno, ia bergidik ngeri dengan peringatan Bima.
"Kalau dia lakuin hal yang macem-macem pada kita gimana?" gelisah Alisa.
"Itu tidak akan terjadi, ayo kita masuk ke dalam lagi" ajak Ustadz Fahri.
Kami semua masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu.
"Fahri dan semuanya saya dan pak RT pamit pulang dulu, karena sebentar lagi akan magrib, saya di minta ke rumah pak Jefri setelah ini, kamu ke sana juga ya" pamit Ustadz Somad.
"Iya tadz, saya akan ke sana, terima kasih sudah mau hadir dan menjadi saksi pernikahan teman saya dan mbk Indri"
"Sama-sama, kami permisi dulu assalamualaikum" pamit pak RT.
"Wa'alaikum salam" jawab kami semua.
Pak RT dan Ustadz Somad pulang ke rumah masing-masing, di ruang tamu kami masih belum mau berpindah tempat walau sedikitpun.
"Alhamdulillah sekarang mbk Indri sudah nikah sama Ustadz Zaki, aku sekarang sudah lega, karena aku gak akan ada tanggungan lagi setelah ini" lega Angkasa yang dari waktu itu bimbang karena takut pada peringatan Bima.
"Ini masih belum selesai sa, dia pasti akan berusaha ngancurin pernikahan mbk Indri, tadi aja dia sudah marah besar saat tau kalau mbk Indri telah nikah sama orang lain, aku yakin banget dia pasti akan berusaha misahin Ustadz Zaki dengan mbk Indri, lihat aja nanti apa yang akan dia lakukan"
"Aku tau, tapi setidaknya sekarang ada suaminya yang akan jaga mbk Indri, dan aku yakin banget Ustadz Zaki gak bakal biarin mbk Indri di bawa sama Bima" jawab Angkasa.
"Itu pasti, saya tidak akan biarkan Bima ngancurin pernikahan kami, saya akan jaga Indri dari Bima, saya yakin sekali dia pasti sedang berusaha untuk buat pernikahan kami hancur" sahut Ustadz Zaki.
"Ini sudah mau magrib, ayo siap-siap ke masjid, kita sholat berjemaah di sana" ajak ayah.
"Baik ayah" jawab kami semua.
Kami semua kembali masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap, di ruang tamu hanya tersisa Ustadz Fahri, mbk Indri dan juga Ustadz Zaki.
"Zak Bima itu gak bisa di anggap enteng, kamu harus lakuin sesuatu agar dia gak bisa gangguin hubungan kalian" suruh Ustadz Fahri.
"Tenang aja ri, aku tidak akan diamin dia kok, lihat aku akan tempel bacaan ini di depan pintu kamar nanti, biar dia gak bisa masuk lagi ke dalam kamar itu" Ustadz Zaki menunjukan bacaan yang bertulis 'Umar Al faruq' tapi dalam bahasa Arab pada mereka berdua.
"Kok aku gak kepikiran sama bacaan itu" Ustadz Fahri teringat pada bacaan itu.
"Hadeh masa bacaan ini kamu lupain, pantes aja gak bisa usir Bima" tak habis pikir Ustadz Zaki.
"Sumpah aku gak ingat sama sekali dengan bacaan itu, kalau aku ingat pasti akan aku tempel bacaan itu di depan pintu biar gak ada makhluk halus yang masuk ke dalam rumah, bacaan itu sangat di takuti sama makhluk halus" sahut Ustadz Fahri.
"Iya, Umar Al Faruq memang sangat di takuti oleh makhluk halus, tak perlu bertemu dengan orangnya, mendengar namanya saja setan langsung kabur karena sayyidina Umar terkenal pemberani, keras, ia tidak takut pada setan, dengan orang-orang kafir saja dia tidak takut, di saat semua orang-orang Islam menyembunyikan keislamannya, tapi tidak dengan Umar bin Khattab, dia malah terang-terangan di depan orang kafir, sehingga ia mendapat gelas Umar Al Faruq"
"Semoga saja dengan bacaan itu Bima gak akan bisa masuk ke dalam kamar dan berbuat macam-macam pada mbk Indri"
"Amin, udah mau magrib, kamu masuk ke dalam kamar, sholat saja di dalam kamar, jangan keluar rumah dulu" suruh Ustadz Zaki pada mbk Indri.
"Baik mas" jawab mbk Indri lalu masuk ke dalam kamar.
Ustadz Zaki menempelkan bacaan itu di depan kamar mbk Indri