
"Ini tidak bisa di biarkan, kita harus selamatkan wanita itu, sebelum mereka bertiga membunuhnya" ajak Ustadz Fahri yang merasa terbakar saat melihat mereka melakukan tindakan bejat pada wanita itu.
"Iya tadz, kita harus hentikan mereka, kalau tidak mereka bisa saja bunuh wanita itu seperti mereka membunuh hantu terompah"
"Ayo kita masuk ke dalam" ajak Reno.
"Eh tunggu-tunggu dulu, kita jangan main masuk ke dalam, kita harus atur rencana biar gak jadi korban juga" Angkasa mencegah kami yang akan masuk ke dalam rumah kosong itu.
"Kelaman sa, mereka akan bikin wanita itu meninggal, kita langsung aja selamatkan dia, gak usah pake strategi segala"
"Tapi za nanti kita yang akan kena dampaknya, kita harus bergerak dengan rencana yang matang, jangan gegabah nanti akan berakibat fatal" jawab Angkasa.
Aku menghembuskan napas, aku tau kalau bertindak gegabah memang akan berdampak buruk dan merugikan segalanya.
"Ya udah apa sekarang strateginya, kita harus bikin rencana yang secepat mungkin sebelum mereka membunuh wanita itu"
"Gini, rencana kita gak ribet, Reno sama Alisa tunggu di sini, aku sama Ustadz Fahri maju duluan, sementara kamu maju paling belakang, ketika kami kewalahan menghadapi mereka, baru kamu keluar bantu kami" itu strategi Angkasa.
"Baiklah, cepat kalian berdua masuk ke dalam dan bantu wanita itu sebelum dia meninggal"
Ustadz Fahri dan Angkasa langsung mendekati pintu rumah kosong.
Tapi sayangnya pintu di kunci, mereka tidak bisa masuk ke dalam.
"Tolooong, tolong aku dari mereka" wanita itu terus berteriak, ia benar-benar tidak mau mereka bertiga membunuhnya.
"Bagaimana ini tadz pintunya gak bisa di buka, apa yang harus kita lakukan, kita harus masuk ke dalam dan bantu wanita itu, kita gak bisa diam saja, dia akan mati kalau kita gak bisa bantu dia" panik Angkasa yang terus berusaha membuka pintu rumah kosong itu.
"Gini saja sa, kita langsung dobrak saja pintu ini, percuma kita berusaha buat buka karena pintunya di kunci dari dalam, lebih baik kita dobrak aja biar bisa langsung masuk ke dalam rumah kosong ini" jawab Ustadz Fahri.
"Iya tadz, ayo tadz kita harus dobrak pintu ini bersama-sama" ajak Angkasa.
Ustadz Fahri setuju, ia dan Angkasa berusaha mendobrak pintu rumah kosong itu agar bisa masuk ke dalam.
Braak!
Pintu terbuka, mereka semua yang ada di dalam langsung menatap ke arah Ustadz Fahri dan Angkasa.
Wajah para perampok-perampok yang tertangkap basah menjadi panik, mereka tegang sekaligus terkejut saat melihat mereka berdua yang berada di sana.
"Kenapa kalian ada di sini!" hardik Romi yang melihat mereka ada di rumah kosong ini juga.
"Jadi benar kalian yang sudah bunuh hantu terompah" tak percaya Angkasa.
"Iya, kami yang sudah bunuh dia, apa yang kalian inginkan" Kemal tak ada takut-takutnya sama sekali, ia merasa bangga pada apa yang sudah ia perbuat.
"Kalian harus di jebloskan ke dalam penjara, apa yang kalian lakukan itu adalah tindakan kriminal!" marah Ustadz Fahri pada mereka yang benar-benar tega melakukan itu semua pada hantu terompah.
"Kata siapa kita gak bisa, kita pasti bia buat kalian masuk ke dalam penjara, tunggu-tunggu apa kalian bertiga yang tadi ngejar mobil kami?" memastikan Angkasa karena jumlah para perampok tadi tiga sama seperti jumlah mereka saat ini.
"Benar, kamu yang tadi telah ngejar kalian, tapi sayangnya kami tidak berhasil" jawab Kemal dengan bertepuk tangan dengan keras.
"Untuk apa kalian ngejar kami, apa yang mau kalian inginkan!"
"Apa lagi kalau bukan menghabisi kalian, kami sudah tau kalau kalian lagi berusaha bikin kami masuk ke dalam penjara, kalian pikir kami akan mudah kalian tangkap, tidak semudah itu, kalian tidak akan bisa tangkap kami" jawab Kemal dengan percaya diri.
"Mau lari kemanapun kalian pasti akan kami tangkap, lepaskan wanita itu, jangan kalian sakiti dia, dia tidak bersalah, jangan buat dia seperti hantu terompah!" suruh Angkasa.
"Tidak, kami tidak akan pernah lepaskan wanita itu, kalau kami biarkan dia hidup, dia pasti akan lapor polisi dan mereka akan tangkap kami" jawab kempa.
"Kenapa kalian sandra wanita itu, apa salah dia, kenapa kalian tega sekali menyakitinya!"
"Wanita ini tidak salah apapun, dia hanya orang yang sudah kami ambil perhiasan dan juga uangnya, lalu kami bawa dia kemari, rencananya malam ini kami akan bunuh dia, biar dia tidak membuat kami tertangkap suatu hari lagi, tapi sayangnya kalian malah datang kemari, dari pada membunuh wanita ini, lebih baik membunuh kalian terlebih dahulu, biar kalian tidak akan mengganggu hidup kami lagi"
"Silahkan, silahkan kau bunuh kami, asalkan kau bisa" tantang Ustadz Fahri, ia tidak takut pada mereka semua.
Kemal dan kawan-kawannya memberikan tatapan maut pada mereka berdua yang menantangnya dengan terang-terangan.
"Kalian benar-benar menantang kami, kalian kira kami takut pada kalian, tidak sama sekali, kami tidak takut pada kalian, kalian itu tidak ada apa-apa di mata kami, jadi jangan sok pemberani" remeh Kemal.
Ustadz Fahri dan Angkasa menyunggingkan senyuman licik penuh arti.
Zrak
Pisau yang tajam terbuka dari penutupnya, Kemal menunjukan pisau tajam yang selama ini sudah banyak membuat orang-orang meninggal pada mereka berdua.
Angkasa dan Ustadz Fahri masih diam, mereka tidak bereaksi yang berlebihan agar mereka bertiga merasa menang.
"Pisau tajam ini akan membuat kalian pergi untuk selamanya!" penuh penekanan Kemal, ia tidak akan membiarkan Ustadz Fahri dan Angkasa hidup setelah mereka berdua tau rahasianya.
Mereka berdua masih tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Tangan Angkasa memberikan kode, wanita itu mengerti apa kode itu, dengan perlahan-lahan ia memundurkan tubuh, mereka bertiga tidak ada yang curiga saat wanita itu pelan-pelan menjauhinya.
"Kau tidak akan bisa membunuh kami, kau itu hanya perampok-perampok yang payah, tidak mungkin bisa membunuh kami" Angkasa meremehkan mereka semua ia lakukan agar wanita itu agak menjauh dari mereka bertiga.
Mereka bertiga terpancing emosi, mereka benar-benar geram pada Angkasa karena dia sudah dengan gampangnya menghina mereka.
"Tutup mulut mu, kami adalah perampok yang keji, kami sudah menghabisi manusia dengan tangan kami sendiri, kamu jangan pernah menghina kami, jika kamu masih ingin selamat!" geram Kemal pada Angkasa yang terus menghinanya.
"Oh ya, aku tidak percaya sama sekali dengan ucapan mu, terserah mu mau berbuat apa, yang jelas aku tidak percaya!"