
Kami berempat yang mendengar Angkasa menyerocos dari tadi, ternganga dengan segala ucapan yang keluar dari mulutnya.
"D-dari mana kamu tau?" tanya Dava yang terkejut.
Angkasa tersenyum simpul.
"Seorang Dava Alifikri Salfanza juga mengalami yang namanya di abaikan oleh mama kandungnya" jawab Angkasa.
"Hidup Dava bagaikan di dalam neraka, hampir setiap hari Dava mengalami kejadian demi kejadian tak terduga" kata Angkasa.
"Setiap penyiksaan yang mereka lakukan, seorang Dava raja jalanan hanya bisa diam dan di tengah malam Dava Alifikri Salfanza hanya bisa menangis meratapi hidupnya yang kacau balau" kata Angkasa setengah mengejek.
"Ternyata walaupun lahir di keluarga miliader seorang Dava Alifikri Salfanza adalah anak yang tersiksa dia-"
"Diaam" teriak Dava tak tahan.
Kedua tangan Dava menutup telinga, ia tak tahan kala mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut Angkasa.
"Kenapa, takut semua orang tau iya?" tanya Angkasa tersenyum penuh ejekan di dalamnya.
Dava tak menghiraukan Angkasa, ia berjalan meninggalkan kami dengan kesal, dia tak bisa berbuat apa-apa karena apa yang Angkasa ucapakan itu memang benar adanya.
"Dava ayah kamu masih hidup, mereka berdua sudah memanipulasi kematian ayah mu" teriak Angkasa.
Dava menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat kearah kami berempat dengan tatapan tak percaya.
"APA ayah aku masih hidup, tidak-tidak anak itu pasti ingin mempermainkan ku" batin Dava tak percaya.
Angkasa tersenyum ke arah Dava.
"Emang ayahnya Dava masih hidup sa?" tanya ku menatap Angkasa dengan wajah penuh pertanyaan di dalamnya.
"Iya, ayahnya Dava masih hidup" jawab Angkasa.
Setelah mendengar jawaban Angkasa, Dava berjalan kembali ke arah kami untuk memintai keterangan terkait ayahnya.
"Yang bener ayah aku masih hidup?" tanya Dava tak percaya.
Mata Dava penuh dengan kerinduan, bahagia dan segalanya tercampur aduk di dalamnya.
Angkasa mengangguk.
"Iya ayah kamu masih hidup, sekarang dia ada di dalam ruangan bawah tanah di rumah om Tio dan tante Celina" jawab Angkasa.
"Dari mana kamu tau, aku aja yang tinggal di sana gak tau apa-apa jika papa ada di dalam ruangan bawah tanah?" tanya Dava.
"Saat ayah kamu di nyatakan meninggal dunia, tidak ada yang bisa melihat jasadnya kan? ya mereka memang tidak mengijinkan siapapun untuk melihat ayah kamu saat itu, itulah trik yang mereka gunakan untuk mengelabui dunia, mereka memasukkan jasad orang lain kedalam peti mati sedangkan om Devan mereka membawanya yang saat itu serangan jantung ke rumah sakit di luar negeri, tepatnya di Singapura, waktu itu kebetulan kakek dan nenek kamu tidak ada di sana, mereka sedang berada di Inggris, kakek dan nenek kamu tidak melihat secara langsung jasad om Devan karena tante Celina sudah lebih dulu menguburkan jenazah orang yang telah menggantikan posisi om Devan" jeda Angkasa, mereka menutup mulut tak percaya.
"Terus-terus" suruh ku yang begitu penasaran dengan sambungan cerita.
"Ayah kamu menjalani perawatan selama 3 bulan di Singapura, setelah sehat, mereka berdua menyekap ayah kamu di ruangan bawah tanah, di rumah keluarga besar Pakerlimo" jawab Angkasa.
"Terus apa keuntungan yang mereka dapatkan dari itu semua, tak mungkin kan mereka melakukan ini semua tanpa ada keuntungan sama sekali di dalam nya?" tanya Reno.
"Keuntungan yang mereka peroleh dari pihak om Tio hanya satu, yaitu dia bisa menjalankan bisnis tanpa bersaingan dengan Perusahaan Salfanza, keduanya memang berteman tetapi tidak tulus, konflik ini terjadi karena kesuksesan Devan Salfanza yang membuat perusahaan Pakerlimo turun derajat, keluarga pakerlimo iri dengan keluarga Salfanza, mereka membuat rencana sematang mungkin untuk menjebak om Devan dengan cara om Tio mengirim kekasihnya tante Celina untuk mendekati om Devan, dan benar saja om Devan terjebak di dalam permainan mereka" jeda Angkasa.
"Mereka itu sudah merencanakan segalanya, jadi wajar jika om Devan di sekap di ruangan bawah tanah yang berada di rumah keluarga pakerlimo tanpa sepengetahuan siapapun" sambung Angkasa panjang lebar.
"Antara iya atau tidaknya, tetapi kamu tau segalanya, sebenarnya kamu ini siapa sih, perasaan aku gak pernah sekalipun menceritakan apa yang aku alami di rumah pada orang-orang, bahkan teman aku sendiri pun gak tau apa-apa" jawab Dava.
"Aku manusia, sama halnya dengan mu, tapi aku di beri kelebihan" jawab Angkasa.
"Pantas saja" kata Dava.
"Tapi benar kan ayah aku masih hidup?" tanya Dava masih tak yakin.
Angkasa mengangguk.
"Besok kita ketemu di sini untuk mendiskusikan bagaimana cara untuk menyelamatkan om Devan, tapi ingat kamu jangan pernah bicarakan ini semua kepada orang lain, karena takutnya hal ini di ketahui oleh mama kamu atau om Tio" jawab Angkasa.
Dava mengangguk patuh.
"Oke aku akan tutup mulut, tapi kalian harus janji buat menyelamatkan ayah aku" setuju Dava dengan mengangkat jari kelingkingnya.
Angkasa menempelkan jari kelingkingnya ke jari Dava.
"Oke" janji Angkasa.
"Aku mau ke kantin dulu ya bye" pamit Dava yang berlalu dari hadapan kami berempat.
Kami duduk dan memakan bekal masing-masing.
"Gak nyangka, ternyata Dava si anak paling nakal di kelas mengalami kehidupan yang menyakitkan" shock Alisa.
"Wah wah wah tebal sekali topengnya bisa menyembunyikan segalanya, kalau aku yang jadi Dava, udah bunuh diri, mana mau aku hidup bagaikan di neraka walaupun berada di dalam rumah yang besar dan megah, aku lebih baik jadi anak orang kere aja yang penting bahagia" kata Alisa.
"Itu kan kamu, jangan samakan Dava dengan kamu sendiri, karena kalian dua orang yang berbeda" kata Angkasa.
"Eh kamu tau ini semua dari siapa, tadi aku dengar sendiri kalau Dava gak pernah menceritakan apapun kepada dunia tentang kehidupannya?" tanya ku penasaran.
Angkasa tersenyum manis mantap mata ku yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan di dalamnya.
"Aku memang indigo, tetapi aku juga memiliki kelebihan lain, yaitu indigo Retrokognision sedangkan kalian indigo interdimensional, kalian hanya bisa melihat makhluk halus saja, sedangkan aku bisa melihat makhluk halus dan juga bisa melihat kejadian yang terjadi di masa lampau, itu bedanya aku dengan kalian" jawab Angkasa.
"Dan aku jga bisa membaca pikiran serta hatk seseorang" batin Angkasa
Angkasa tidak membuka segala yang menjadi kelebihannya.
"Owh kenapa kamu gak bilang dari awal hah, kenapa kamu malah sembunyiin rahasia sebesar ini?" tanya ku
Wajah Angkasa ciut melihat mata ku yang melotot sempurna ke arahnya.
'Waduhh berabe ini bisa ga bernafas aku hari ini' batin Angkasa.
"Aaauww" teriak Angkasa yang mendapat kan jeweran dari ku dengan sangat keras.
"Ampun ampun" pekik Angkasa.
"Berani lagi main rahasiaan hah" kata ku
Aku bukannya berhenti malah semakin keras menjewer telinga Angkasa.