The Indigo Twins

The Indigo Twins
Tengkorak



Kami terus saja berjalan di dalam kegelapan.


Aku semakin mengeratkan genggaman, rasa takut memang ada di dalam tubuh kami tetapi kami terus saja berjalan tanpa henti.


"Sa" panggil ku yang sudah sangat takut.


Angkasa menoleh ke arah ku.


"Ada apa?" tanya Angkasa.


"Aku takut" tutur ku yang sudah gemetaran sejak tadi.


Perasaan ku semakin tidak enak saja, aku ingin kembali ke jalanan tadi, karena aku takut ada apa-apa nantinya jika kami masih terus melanjutkan perjalanan.


"Lemah, masa gini aja takut" hina Angkasa yang membuat ku memanas.


"Aku gak takut" jawab ku langsung melepaskan tangannya.


Angkasa tersenyum tipis.


"Ya udah kalau gak takut buktiin dong, perasaan tadi kamu yang narik-narik aku, tapi sekarang kamu yang malah takut dan minta aku buat balik ke jalanan tadi, gimana sih kok plin-plan" kata Angkasa yang membuat ku begitu malu sendiri.


"Oke, aku akan buktiin" jawab ku dengan sangat berani.


Aku tanpa aba-aba kembali berjalan meninggalkan Angkasa.


"Enak aja dia hina-hina aku, dia kira dia siapa, dia pikir aku lemah, enggak sama sekali, aku akan buktiin kalau aku bisa tahan rasa takut ini, biar dia puas sekalian" batin ku terus mengomel.


Angkasa yang mendengar suara hati ku menahan tawanya.


"Aliza-aliza dia kira aku gak akan bisa dengar apa yang dia omongin, dia salah, aku bisa dengar kamu ngomong apa" batin Angkasa terus menahan tawanya.


Aku masih terus berjalan di depan Angkasa dengan ekspresi wajah masam.


"Iih kesel banget, kenapa sih aku pake terjebak di jalanan yang benar-benar aneh kayak gini, apa yang sudah aku lakukan sehingga bisa ketiban sial kayak gini" batin ku tak habis pikir.


Angkasa yang berada tepat di belakang ku masih terus berusaha menahan tawanya.


"Diam, jangan ketawa lagi" tegas ku menghentikan langkah.


"Oke-oke aku gak akan ketawa lagi" jawab Angkasa dengan mengangkat kedua tangannya.


Aku kembali berjalan dengan sangat kesal karena pemuda itu masih terus menertawai ku.


"Sialan, kenapa dia masih terus tertawa, apanya yang lucu, dasar menyebalkan memang" batin ku yang sudah sangat kesal.


"Apa jangan-jangan dia menertawai ku karena aku sempat bilang takut padanya, wah gak bener ini, aku gak ngadu apa-apa lagi padanya, aku harus buktiin kalau aku bisa tanpanya, aku tak mau bergantung padanya lagi" batin ku tersadar.


Tiba-tiba kepulan asap putih menghadang kami.


Sontak aku langsung menghentikan langkah kala melihat kepulan asap itu yang berada tepat di depan ku.


"Kenapa kok berhenti, apa jangan-jangan kamu takut?" tanya Angkasa setengah mengejek.


"Enggak, aku gak takut, ayo kita jalan lagi" jawab ku masih berani dan tak ingin terlihat penakut di depannya, bisa-bisa dia akan terus menertawai ku sepanjang masa.


Aku melangkah memasuki kepulan asap itu tiba-tiba.


"Kok bau embang" batin ku tercekat.


Aku langsung menghentikan langkah karena sangat terkejut.


Pelan-pelan aku membalikkan badan menghadap ke belakang dengan senyuman manis kala mata ku menangkap kedua tangan Angkasa di silangkan di atas perut.


"Kenapa?" tanya Angkasa.


"Gak apa-apa, kamu jalan di depan" jawab ku masih terus tersenyum.


"Lemah" hina Angkasa dengan mengacak rambut ku.


"Biarin" jawab ku yang sudah tak bisa apa-apa lagi.


"Ayo jalan" ajak Angkasa.


Aku menurutinya, lalu berjalan di belakangnya dengan menggenggam erat kedua tangannya kala kami melangkah melewati kepulan asap putih yang berbau kembang yang sangat menyengat.


Rasa merinding menyatu dalam jiwa ku kala melewatinya.


Setelah sekian lama akhirnya kami keluar dari kepulan asap yang berbau bunga kuburan.


"Huft akhirnya bebas juga" syukur ku yang bisa kembali bernapas lega.


"Kok kepulan asap itu bau kembang, kamu dengar gak sa?" tanya ku.


"Dengar, tapi aku gak tau kenapa ada bau kembang kala kita melewatinya" jawab Angkasa.


"Aneh banget, makin lama kok makin aneh ya jalanan ini" kata ku.


"Udah jangan di pusingin, mungkin asal bau kembang itu dari bunga yang tubuh di sekitar sini" jawab Angkasa.


"Kalau memang asal bau kembang tadi itu berasal dari bunga, kemana bunganya, kenapa tidak terlihat?" tanya ku.


"Mungkin tubuh di dalam hutan dan tak sengaja baunya tercium sampai ke sini, masuk akal kan" jawab Angkasa.


"Iya sih" jawab ku.


"Ayo kita jalan aja, nanti kita juga pasti akan menemukan jalan keluarnya" ajak Angkasa.


Aku terus berjalan bersama dengan Angkasa.


"Tapi aneh sih, kok bisa ya kepulan asap tadi bau kembang yang begitu menyengat, aku sih ngerasa itu bukan kembang biasa, kalau kembang biasa baunya gak akan membuat bulu kuduk berdiri" batin Angkasa masih memikirkan itu semua.


Namun yang bisa dia lakukan hanya terus diam dan terus berjalan.


"Kita mau kemana lagi ini, apa kita balik aja ke jalanan tadi?" tanya Angkasa yang merasa sudah tak nyaman.


"Za Liza?" tanya Angkasa.


Angkasa melirik ku yang tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya begitu saja.


Angkasa melihat ku yang sedang melangkah menjauh, mata Angkasa menangkap anak kucing berbulu hitam.


Angkasa dengan gesit langsung menarik ku hingga menjauh dari anak kucing yang hampir saja ingin ku pegang, dia juga menarik ku untuk kembali berjalan.


"Kenapa sa?" tanya ku yang sangat kaget dengan tindakan Angkasa.


"Itu bukan kucing, jangan sembarang kamu pegang-pegang" jawab Angkasa.


Aku mengerutkan alis mendengar itu semua.


"Kok dia aneh sih, jelas-jelas tadi itu beneran anak kucing, masa dia bilang kalau itu bukan kucing, di mana matanya, kenapa dia tidak bisa mengenalinya, apa dia buta" batin ku tak habis pikir.


"Itu bukan kucing za, percaya deh sama aku" kata Angkasa yang mendengar suara hati ku.


"Aku gak ngerti, kamu jelasin deh" kata ku.


"Kucing hitam yang kamu lihat itu bukan kucing biasa, aku pernah dulu di kasih tau eyang kalau kita lihat kucing berbulu hitam di jalan, jangan pernah kita lihat lagi, aku gak tau apa yang akan terjadi saat kita lihat kucing itu kembali" jelas Angkasa.


Aku terdiam, rasa penasaran tiba-tiba datang.


"Aku kok penasaran banget ya akan apa yang terjadi saat aku kembali melihat kucing hitam tadi, gimana ini, aku lihat atau menuruti perintah Angkasa saja, tapi rasa penasaran ku sudah tingkat dewa, gak bisa tahan-tahan lagi" batin ku masih bingung harus memilih yang mana.


Aku menoleh ke belakang agar segala rasa penasaran ku bisa terbayarkan.


Aku tercekat kala melihat kucing hitam itu yang mencemarkan sinar merah dari matanya tiba-tiba dia berubah yang membuat ku semakin tercekat.


"Oh tidak kucing itu berubah, tenyata benar apa yang Angkasa bilang" batin ku yang melihat segalanya.


"Sa tuh kucing beneran berubah" teriak ku ketakutan.


Angkasa menoleh kebelakang untuk memastikan.


Tertangkap seorang tengkorak yang terlihat di mata Angkasa.


Tengkorak itu memancarkan sinar merah, tiba-tiba dia berlari mendekati kami


"Sial dia ngejar kita, ayo lari za" ajak Angkasa yang di serang rasa panik.