
Wajah Bima tampak berbinar."Terima kasih kakek, terima kasih"
"Sama-sama cucu ku, besok pernikahan kalian akan di adakan, kamu bersiap-siaplah, besok dia akan menjadi milik mu" Bima tersenyum bahagia, sudah lama dia menyukai mbk Indri, sejak mbk Indri masih kanak-kanak hingga pada akhirnya hari yang ia tunggu-tunggu datang juga.
"Baik kakek"
"Sekarang kembalilah ke kamar mu, istirahatlah malam ini, besok kau tidak akan bisa istirahat" Bima mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya.
Mbah Brahma itu masuk ke dalam kamarnya.
Seseorang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka keluar dari dalam kamar dan masuk ke dalam kamar mbk Indri dengan terburu-buru.
Bertapa terkejutnya ia saat melihat mbk Indri orang yang ia kenali selama ini.
"Indri, jadi benar kalau Indri adik ku yang akan di nikahi dengan Bima, tidak, aku tidak akan biarkan dia sampai menikah dengan Bima, cukup aku saja yang menderita di sini, jangan adik ku" tak mau mbk Irma kakak mbk Indri yang pertama.
Mbk Irma mendekati adiknya yang tertidur lelap."Indri bangun dek, kamu harus pergi dari sini, ayo bangun dek"
Mbk Indri terbangun dengan wajah terkejut saat melihat kakaknya yang sudah meninggal 4 tahun yang lalu kini ada di hadapannya.
"Kakak, kenapa kakak ada di sini, apa kau bukan kakak ku?" mbk Indri memundurkan tubuhnya dengan gemetaran.
"Aku kakak mu, sekarang ayo kita pergi dari sini, kamu tidak boleh berada di sini lebih lama lagi" ajak mbk Irma dengan wajah tegang takut ada yang masuk ke dalam kamar ini.
"Tidak, kau bukan kakak ku, kakak ku sudah meninggal, tak mungkin kau kakak ku" mbk Indri masih tidak percaya pada orang yang sama persis seperti kakaknya dan kini berada tepat di hadapannya.
"Aku memang kakak mu Indri, di dunia manusia aku sudah meninggal tapi di sini tidak" mbk Indri mengerutkan alis tanda bingung.
"D-di sini tidak, maksudnya gimana kak?"
Mbk Irma mengembuskan napas."Papa nukar mbk dengan harta, selama ini dia dapat kekayaan dengan cara bersekutu dengan setan, dan satu persatu adik-adik mbk menjadi korbannya, mereka semua ada di sini, mbk kira kamu tidak akan di tukar juga, tapi ternyata mbk salah, kamu tetap di serahkan pada mbah Brahma sama seperti yang lain"
Mbk Indri menutup mulut tak percaya saat tau jika selama ini pak Jarwo telah bersekutu dengan setan.
"J-jadi kalian semua meninggal karena di tumbalin?" mbk Irma mengangguk.
Air mata mbk Indri tumpah ruah saat tau kenyataan pahit ini."Mbk kenapa papa jahat banget, apa dia gak mikirin perasaan kita, kita ini anaknya, kenapa dia rela numbalin kita hanya demi harta semata"
"Papa sudah terlanjur jauh bermain ke dalam dunia hitam dek, dia gak akan bisa berhenti, karena sekali ia berhenti semua harta dan kekayaannya akan lenyap begitu saja"
"Mbk ayo kita pergi dari sini, aku gak mau berada di sini" mbk Irma diam, ia sudah tidak bisa kembali ke dalam alam manusia lagi karena raganya sudah di kubur, selamanya dia tidak akan bisa kembali.
"Maaf dek, mbk tidak bisa kembali lagi, sudah terlambat mbk kembali, tapi kalau kamu masih bisa, ayo mbk akan antarkan kamu pulang dari sini, kamu tidak boleh bernasib sama seperti mbk dan yang lain" mbk Indri mengangguk lalu berjalan mengikuti mbk Irma.
Saat mereka berbalik menghadap ke arah pintu, wajah mereka langsung tegang saat melihat mbah Brahma yang berada di ambang pintu dengan tatapan maut.
"Mbk" mbk Indri bersembunyi di belakang mbk Irma, ia sangat takut saat melihat tatapan maut milik mbah Brahma.
"Kenapa kamu ke sini?" teriak mbah Brahma tidak bersahabat.
"Kau sudah berani rupanya, Karmo tangkap dia dan kurung dia di penjara, biar dia bersama ibunya" perintah mbah Brahma.
Dengan cepat orang yang bernama Karmo yang tak lain adalah genderuwo masuk ke dalam kamar dan menyeret paksa mbk Irma pergi dari sana.
"Lepaskan aku, lepaskan, aku tidak mau masuk penjara, tolong lepaskan aku" berontak mbk Irma yang ingin terlepas dari genderuwo itu.
"Diam, ayo ikut ke penjara" bentak genderuwo itu yang membuat mbk Irma langsung terdiam.
Genderuwo itu membawa mbk Irma ke penjara yang di sana ada ibunya.
Mbk Indri hanya menutup mulut tak percaya saat melihat genderuwo yang seseram itu dengan mata kepalanya sendiri.
Wajah mbk Indri tambah ketakutan saat melihat tatapan mematikan mbah Brahma.
"Kau jangan pernah sesekali keluar dari sini jika kau tidak mau di penjara seperti saudari mu" tegas mbah Brahma yang membuat tubuh mbk Indri gemetaran hebat.
Mbah Brahma keluar dari dalam kamar itu.
Braakk
Mbk Indri terkejut saat mbah Brahma menutup pintu dengan keras.
Tubuh mbk Indri langsung bergetar hebat, ia terisak ketika tau keluarganya berada di sini, ia sekarang merasa sangat takut pada sekelilingnya.
Mbk Indri terduduk di pojokan dengan terus menangis.
"Papa tega, kenapa papa jahat banget, aku benci papa" isak mbk Indri yang tak menyangka akan mengalami kejadian seburuk ini.
Di saat mbk Indri tengah menangis tiba-tiba pintu terbuka.
Tubuh mbk Indri kembali bergetar, bibirnya bergetar hebat saat Bima mendekati mbk Indri.
"Jangan mendekat, jangan mendekat, pergi kau dari sini, jangan dekati aku" titah mbk Indri yang sangat ketakutan.
Bima dengan wajah tenang terus mendekati mbk Indri, ia tidak peduli jika wanita itu terus mengusirnya.
"Arrrrgghh jangan dekati aku, pergi kau dari sini, kau jahat, aku benci pada mu" teriak mbk Indri dengan memejamkan mata saat Bima berada tepat di hadapannya.
Bima berjongkok agar tinggi tubuhnya sama seperti mbk Indri."Jangan takut, aku tidak akan menyakiti mu, kamu jangan takut pada ku"
"Tidak, kau akan buat aku sengsara, aku tidak mau, pergi kau dari sini, jangan macam-macam pada ku" mbk Indri mendorong tubuh Bima namun Bima tak oleng sedikitpun walaupun mbk Indri terus mendorongnya.
"Pergi dari sini, jangan ganggu aku, pergii" teriak mbk Indri dengan terus mendorong tubuh Bima.
Bima mencekal kuat kedua tangan mbk Indri ke tembok di belakangnya.
"Diam, ku bilang diam" mbk Indri diam dengan sangat ketakutan.