
Tak berselang lama dari itu mereka berdua sampai di belakang sekolah tepat kami berdiam diri sedari tadi.
"Lama banget, kalian ke mana aja, kenapa baru ke sini" omel Angkasa yang sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi.
"Kalian tau gak barusan kamu ikutin bu Dinda" tutur Alisa.
"Terus?"
"Kami dengar dari mulutnya sendiri kalau dia orang yang sudah bikin sosok perempuan itu meninggal" jawab Alisa.
"Tapi kata sosok itu bukan bu Dinda yang sudah nabrak dia"
"Enggak tau juga, aku dengarnya cuman gitu" jawab Alisa.
"Makin ribet aja kasus sosok itu, sebenernya dia siapa dan kenapa dia bilang kalau kematiannya ada hubungannya dengan bu Dinda" penasaran Angkasa.
"Tadi aku dengar sendiri dari bu Dinda, dia bilang kalau mbk Laura itu adalah selingkuhan dari pacarnya, dia lenyapin mbk Laura saat tau kalau mbk Laura berkhianat di belakangnya" jawab Reno.
"Dapat di simpulkan kalau sosok itu dengan bu Dinda temanan"
"Itu jelas za, cuman yang jadi masalahnya siapa orang yang sudah nabrak sosok itu, dan mengapa bu Dinda ikut terlibat?" itu yang Roki pikirkan sejak tadi.
Kami semua diam, tak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun, semuanya pada memikirkan itu semua.
"Jalan satu-satunya untuk tau itu semua, kita harus ke jalan merpati, aku ngerasa ada sesuatu di sana yang sudah terjadi, dan itu berkaitan dengan hal ini" Byan membuka suara setelah beberapa saat kami semua terdiam.
"Tapi kita kan masih di sekolah, kita gak bisa langsung ke sana"
"Bolos aja gimana, sekali ini aja, gak akan di marahin kok, kalian setuju gak?" Roki meminta pendapat kami semua.
"Gak, gak, gak, masa kita bolos cuman gara-gara mau ke sana, aku gak setuju!"
"Ayolah za sekali aja, gak akan ada yang marah kok, ini semua demi kebaikan sosok itu, kasihan dia, dia pasti ingin segera kembali ke alam selanjutnya, kita harus segera bantuin dia" bujuk Roki.
"Pokoknya aku gak mau, kalau kalian mau ke sana di saat jam sekolah, silahkan tapi aku gak mau ikut!"
Mereka semua menghela napas, karena mau bagaimanapun aku tidak akan mau bolos sekolah walaupun di jam terakhir saja.
"Terus ini gimana dong, kita gak akan bisa ngapa-ngapain lagi, gak ada bukti yang bisa kita dapatin di sini" Roki meminta pendapat kami.
"Kita tunggu aja bel pulang, ayo kita ke depan, kita lihat apa sudah bel atau belum" ajak Dimas.
Kami semua setuju dan kembali ke depan.
Teet
Teet
Teet
Bel tiga kali terdengar hingga seisi sekolahan, sorak gembira terdengar di telinga.
"Loh kok tumben pulang pagi, ada apa ini?"
"Palingan ada rapat, ayo kita ke jalan merpati, kita harus ungkap tuntas kasus sosok itu" ajak Angkasa.
Kami semua setuju, kami semua berlari ke dalam kelas untuk mengambil tas terlebih dahulu lalu menuju ke parkiran.
"Semuanya sudah siap, ayo kita ke jalan merpati" ajak Byan.
"Jalan merpati itu jauh gak dari sini?" penasaran Alisa.
"Lumayan, tapi tenang ada aku yang akan nunjukin jalan, ayo kalian semua ikutin kami, kami akan bawa kalian ke sana" ajak Byan.
"Za kita belum pamitan sama bunda kalau mau ke jalanan merpati itu, kalau bunda marahin kita gimana?" cemas Alisa.
"Bunda gak akan marah kok, bunda tadi bilang kalau dia keluar kota sama ayah, jadi sekarang di rumah gak ada ayah sama bunda, kamu gak usah takut bunda marahin kita, kita bisa bebas berpetualang seharian ini"
"Alhamdulillah kalau gitu, sekarang aku jadi lega" jawab Alisa.
"Sa cepat kejar mereka, jangan sampai kita kehilangan jejak mereka"
"Hmm" Angkasa membalas dengan dehaman saja, ia terus mengejar motor mereka bertiga dari belakang.
"Semoga ketika kita sampai di jalan merpati kita bisa dapat bukti yang jelas dan langsung mengarah pada pelakunya" harapan Reno.
"Amin" jawab kami semua.
"Tapi aku heran kenapa sosok itu gak bilang aja siapa yang sudah nabrak dia dan kenapa dia bilang bu Dinda ada hubungannya dengan kematiannya, kalau seandainya dia langsung bilang mungkin kasus ini gak akan seribet ini" heran Alisa.
"Iya juga, kenapa sosok itu sepertinya enggan bilang yang sebenarnya" sahut Reno.
"Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi di antara bu Dinda, sosok itu dan juga pacar bu Dinda, dan tugas kita sekarang pecahin misteri itu, biar sosok itu gak ganggu kita lagi"
Mereka semua mengangguk kompak.
Angkasa terus melajukan mobil menuju jalan merpati dengan mengikuti mereka bertiga dari belakang.
Tak berselang lama dari itu mobil berhenti tepat di jalanan yang kami tuju.
Kami semua keluar dari dalam mobil dan mendekati mereka bertiga.
"Ini jalanan merpati itu?"
"Iya za, kita sudah sampai di jalanan merpati" jawab Byan.
"Byan rumahnya bu Dinda di sebelah mana, aku ingin tau rumahnya"
"Itu, itu rumahnya bu Dinda, aku sering lihat dia masuk ke dalam rumah itu saat lewat di sini" tunjuk Byan pada salah satu rumah yang lumayan besar yang berada di seberang jalan.
"Oh jadi itu rumahnya bu Dinda" Alisa terus melihat ke arah rumah bu Dinda yang terbilang cukup bagus.
"Eh liat, itu sosok perempuan yang terus ngikutin bu Dinda" tunjuk Angkasa ke seberang jalan, tepatnya di dekat tiang listrik, di sana tempat sosok itu berdiri.
Sosok perempuan itu tengah melambaikan tangannya seraya menyuruh kami untuk mendekatinya.
"Apa maksud dia?" bingung Reno.
"Kayaknya dia minta ke buat ke sana deh, ayo kita ke sana aja, dia kayaknya mau nunjukin sesuatu sama kita" ajak Alisa.
Kami semua berlari mendekati sosok itu, Roki dan kawan-kawannya juga ikut mengejar kami dari belakang meskipun mereka bertiga tidak melihat sosok itu dengan mata kepala mereka sendiri.
Sosok itu berlari membuat kamu berempat mengerutkan alis.
"Kok dia malah lari?" merasa aneh Alisa.
"Kita harus kejar dia, kita harus cari tau segalanya dari dia, karena dia korbannya" jawab Reno.
"Iya, kita harus paksa dia bilang segalanya sama kita, biar kasusnya selesai dengan cepat" sahut Angkasa.
Kami semua terus mengejar sosok itu dari belakang, sosok itu berlari tanpa henti ke arah utara, entah apa yang akan ia tunjukan kami masih belum tau.
"Mbk berhentiiii!"
Sosok itu tak menuruti permintaan ku, ia terus berlari dengan cepat, kami masih terus mengikutinya dari belakang.