The Indigo Twins

The Indigo Twins
Misteri suara minta tolong 8



Kami semua berjalan mendekati restoran itu.


"Permisi pak, kami ingin melihat rekaman cctv boleh gak pak?" Alisa meminta izin pada satpam yang berjaga di sana.


"Kalau boleh tau untuk apa dek?"


"Kami ingin tau siapa pelaku yang sudah nabrak korban berinisial L yang meninggal karena tabrak lari 1 minggu yang lalu"


"Oh boleh, ayo ikut saya ke dalam"


Kami semua mengikuti satpam itu ke ruangan khusus cctv yang di jaga ketat karena tidak mau ada orang menyabotase.


"Pak tolong perlihatkan rekaman cctv 7 hari yang lalu" titah Angkasa.


Satpam itu menurut, ia memutar rekaman cctv yang terjadi di jalan tepat sosok itu meninggal dunia.


"Stop pak"


Satpam itu dengan cepat langsung berhenti.


"Putar ke menit 20.02"


Satpam itu memutar rekaman cctv sesuai yang aku minta.


Terlihat sosok perempuan yakni mbk Laura yang berjalan kaki dengan senang mendekati restoran.


Ketika berada di dalam restoran mbk Laura langsung mendekati seorang laki-laki tampan yang tengah menunggunya sedari tadi, ia duduk 1 meja bersama laki-laki itu, mereka tampak bahagia, aku merasa mereka memiliki hubungan spesial lebih dari kata teman.


Setelah 1 jam berlalu datanglah seseorang yang aku dan yang lain kenali.


"Itu bu Dinda" tunjuk Dimas pada bu Dinda yang masuk ke dalam restoran dengan penampilan yang berbeda.


Bu Dinda mengenakan hoodie berwarna putih, celana jeans hitam, masker hitam dan topi hitam yang membuatnya sulit untuk di kenali.


"Kenapa dandanan bu Dinda berbanding terbalik dengan bu Dinda yang kita kenal?" merasa aneh Reno.


"Kayaknya dia lagi nyamar deh, kita lihat aja dulu apa yang akan dia lakukan" jawab Angkasa.


Kami kembali fokus pada rekaman cctv yang sedang berlangsung itu.


Bu Dinda duduk di meja yang tidak terlalu jauh dari meja mbk Laura dan laki-laki itu.


Bu Dinda hanya duduk dengan mengaduk minuman yang sudah di pesanannya tanpa meminumnya sedikitpun, lirikan matanya terus tertuju pada pasangan kekasih yang sedang bahagia di depannya.


Rasa geram muncul di hati bu Dinda saat ia melihat mbk Laura bersama pacarnya dinner di restoran mewah.


Laki-laki yang tak lain adalah Prasetyo itu bangkit dari duduk, ia pergi meninggalkan mbk Laura sendirian di restoran itu karena dia ingin berangkat ke luar kota dalam rangka urusan kerja.


Mbk Laura masih berdiam diri di tempat, ia menghabiskan makanannya lalu memainkan hp.


Tiba-tiba bu Dinda bangkit dari duduk, ia mendekati mbk Laura saat Prasetyo sudah benar-benar pergi dan tak terlihat lagi.


Mbk Laura langsung tercekat saat melihat bu Dinda, ia bangun dari duduk dengan wajah yang tegang.


"Dinda, kenapa kamu bisa ada di sini" tercekat mbk Laura.


"Kenapa aku tidak boleh ke sini, ini tempat umum bukan, siapa saja bisa ke sini kan?"


Mbk Laura diam, ia mendadak menjadi ketar-ketir, ia takut bu Dinda melihatnya bersama Prasetyo.


"Udah malam din, aku mau pulang dulu, besok kita ketemu lagi"


Bu Dinda membalas dengan senyuman manis namun terlihat keterpaksaan yang muncul di wajahnya.


Mbk Laura keluar dari dalam restoran itu, ia berjalan mencari taksi.


Matanya melihat taksi yang mendekat, ia langsung berdiri di pinggir jalan.


"Tak-


Ucapan mbk Laura terhenti, ia berbalik menatap ke arah bu Dinda yang ternyata berada di belakangnya.


"Aku mau pulang, di dalam kan aku sudah bilang kalau aku mau pulang"


"Tidak semudah itu, aku tidak akan biarkan kamu pulang dengan mudah!"


"Maksud kamu apa din, kenapa kamu tiba-tiba berubah gini sama aku?"


"Aku yang berubah? gak salah, bukannya kamu yang berubah dan dengan teganya kamu menjadi selingkuhan pacar ku tanpa sepengetahuan ku!"


"K-kamu sudah tau" tercekat mbk Laura.


"Iya aku sudah tau dan aku juga sudah lihat dengan mata kepala ku sendiri bagaimana kalian berdua bermesraan"


Mbk Laura tercekat, ia langsung menunduk merasa bersalah.


"Kalau melihat dari ke harmonis kalian, aku merasa hubungan kalian sudah berjalan sejak lama, katakan pada ku berapa lama kalian berpacaran di belakang ku?"


Mbk Laura diam, ia benar-benar tak pernah membayangkan kalau semuanya akan terbongkar seperti ini.


"Aku tidak akan marah, katakan saja semuanya?"


"Dinda aku bisa jelasin"


"Apa lagi yang mau kamu jelasin, semuanya sudah jelas!" tegas bu Dinda yang membuat mbk Laura terhenyak.


"Kamu itu teman ku, kenapa kamu tega lakuin ini semua pada ku, Laura apa salah ku, aku punya salah apa sama kamu, kenapa kamu setega ini pada ku!"


"Maafin aku din, aku khilaf" mbk Laura menundukkan kepalanya, ia benar-benar merasa bersalah, ia tau kalau saat ini sahabatnya pasti sangat terluka karena tau kebenaran yang selama ini ia sembunyikan.


"Khilaf kamu bilang?"


"Laura kamu itu benar-benar keterlaluan, aku salah apa sama kamu, kenapa kamu setega ini pada ku, kurang baik apa aku selama ini, kenapa kamu masih tega ambil mas Pras dari aku, kamu tau kan aku sama mas Pras sudah 5 tahun lebih pacaran, dan dengan teganya kamu malah selingkuh bersamanya di belakang ku, kalau kamu memang ingin punya pacar, bisa gak cari orang lain yang bukan pacar aku gitu?"


Bu Dinda benar-benar kecewa pada sahabatnya, ia tidak pernah membayangkan kalau sahabatnya yang dengan tega menusuknya dari belakang.


"Maafkan aku Dinda, aku benar-benar minta maaf sama kamu, aku janji akan tinggalin mas Pras, aku gak akan ganggu hubungan kalian lagi"


"Maaf mu tidak di terima, hati ku terlanjur sakit, tidak kata maaf yang akan kamu dapatkan!"


"Aaaahhh!"


ciiiiit


Brukk


Bu Dinda mendorong mbk Laura ke jalan, lalu mobil berwarna hitam itu menabraknya hingga membuatnya tewas.


Tubuh mbk Laura terlempar jauh, kepalanya menghantam batu, seketika darah-darah segar mengalir dengan deras.


Mata mbk Laura langsung tertutup rapat.


Bu Dinda menutup mulut tak percaya kalau tindakannya barusan membuat mbk Laura berakhir seperti itu.


"Laura" tercekat mbk Dinda yang melihat mbk Laura yang sudah tak bergerak, tubuhnya sudah penuh dengan darah.


Mobil hitam itu langsung melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu.


Bu Dinda menjadi panik, ia benar-benar takut menjadi tersangkanya.


Bu Dinda melihat ke kanan dan kirinya yang sepi."Aku harus pergi dari sini, aku tidak mau di tuduh orang yang sudah bikin Laura kecelakaan, aku tidak mau masuk penjara, aku tidak mau"


Bu Dinda dengan cepat pergi dari sana meninggalkan mbk Laura yang terbaring di jalanan dengan tubuh yang penuh dengan darah.


Orang-orang yang tak sengaja melihat mbk Laura langsung mendekat, mereka membantu membawa mbk Laura ke rumah sakit, namun sayangnya mbk Laura sudah tidak dapat di selamatkan, nyawanya melayang, itu semua karena bu Dinda.