The Indigo Twins

The Indigo Twins
Memburuk



"Tapi sekiranya siapa yang sudah nyuruh mereka buat nyelakain Alisa sama Aliza?" mulai penasaran Angkasa.


"Pas-


Perkataan pak Heru terhenti saat hpnya tiba-tiba berbunyi.


Pak Heru langsung mengangkat panggilan itu.


"Halo ada apa?"


"^_^"


"Baik, saya akan ke sana sebentar lagi, tunggu saya di sana"


"^_^"


Pak Heru mematikan sambungan setelah mendengar jawaban dari balik telpon.


"Ada apa her?" bunda penasaran kala melihat wajah pak Heru yang tiba-tiba berubah menjadi serius, terlihat juga rasa geram yang terpancar di wajahnya.


"Ternyata orang yang nabrak Alisa dan Aliza kemarin suruhan pak Sabeni" jawab pak Heru.


Mereka semua tercekat mendengar hal itu.


"PAK SABENI?"


"Iya, dia orang yang sudah nyuruh mereka untuk celakain Alisa dan Aliza hingga keadaan mereka seperti ini" jawab pak Heru


"Apa mungkin pria gembul yang sudah kita lihat itu pak Sabeni?" teringat Alisa pada kejadian di rumah pak Tejo.


"Kayaknya memang dia, siapa lagi kalau bukan dia, mereka kan tiga sekawan, pasti pak Sabeni tidak terima saat kedua temannya tertangkap sehingga dia melakukan ini semua untuk balas dendam pada Alisa dan Aliza selaku orang yang berusaha untuk menangkapnya" tambah Reno.


"Benar-benar kurang ajar, aku gak terima dia buat anak-anak ku seperti ini, her tangkap dia dan jebloskan ke dalam penjara, mbk gak terima dia berkeliaran bebas setelah membuat Alisa dan Aliza terluka!" geram bunda, kali ini bunda benar-benar marah besar pada apa yang menimpa kami.


"Baik mbk, aku akan urus dia, kamu di sini dulu, aku akan ke kantor" suruh pak Heru pada tante Zera.


"Iya mas, mas pergi saja, urus tuntas kasus ini" jawab tante Zera.


"Aku pergi dulu, kalian tunggu di sini dulu, aku akan kembali secepatnya" pamit pak Heru yang di balas anggukan oleh mereka semua.


Pak Heru meninggalkan rumah sakit, mereka semua menunggu kedatangan pak Heru sembari melihat ku dari kaca.


"Aliza, kamu cepat sembuh nak, jangan tinggalin bunda" khawatir bunda, betapa hancurnya hatinya saat melihat anak-anaknya terluka separah ini, ibu mana yang tidak marah saat kedua putrinya di celakai sampai separah ini.


"Bunda Aliza gak bakal pergi, dia pasti akan segera siuman sebentar lagi" yakin Alisa, ia terus melihat ke arah ku, wajah ku tak bisa mereka lihat karena di tutupi perban.


"Dokter, dokter" panggil suster yang keluar dari ruangan ICU dengan panik.


"Dokter" panggil suster itu sekali lagi.


Dokter yang mendengar langsung mendekat.


"Ada apa suster?"


"Pasien memburuk dokter, dokter bantu dia" jawab suster.


"M-memburuk" tercekat Angkasa ketika mendengar jawaban suster.


"Dokter selamatkan anak kami, tolong sembuhkan dia dok" titah ayah.


"Baik pak, kami akan menyelamatkan pasien semaksimal mungkin, ayo suster kita masuk" suster mengangguk, lalu keduanya kembali masuk ke dalam ruangan ICU.


Mereka semua semakin cemas, ucapan suster itu terus terngiang-ngiang di benak mereka.


"Ya Allah sembuhkan Aliza ya Allah, jangan ambil dia ya Allah, dia anak yang baik, hamba mohon jangan ambil dia, hamba mohon ya Allah" batin Angkasa yang terus berdoa.


"Ayah" panggil bunda.


Bunda diam, ia terus menunggu dengan tidak tenang, guratan kecemasan terpancar jelas di wajahnya.


Mereka terus melihat ku dari kaca, sungguh mereka benar-benar tidak tenang saat terlihat suster dan dokter itu yang panik di dalam ruangan ICU.


"Ya Allah sembuhkan Aliza, jangan ambil dia ya Allah, hamba mohon ya Allah" batin Angkasa yang mengigit bibirnya dengan pancaran wajah yang cemas.


Krieet


Pintu ruangan ICU terbuka, mereka langsung menghampiri dokter yang keluar dari dalam untuk menayakan keadaan ku.


"Dokter bagaimana keadaan anak saya, apa dia baik-baik saja?" cemas bunda.


"Keadaan pasien semakin memburuk, kami akan memindahkan pasien ke rumah sakit pusat, di sini alatnya kurang memadai" jawab dokter.


Mereka semua semakin shock, pikiran buruk langsung menghantui mereka.


"Dokter lakukan yang terbaik untuk anak saya, pindahkan saja ke rumah sakit pusat, asalkan anak saya bisa sembuh" perintah ayah.


"Baik pak, kami akan mengusahakan yang terbaik untuk pasien" jawab dokter itu lalu berlalu meninggalkan mereka semua yang masih terguncang di depan ruangan ICU.


"Ayah Aliza, ayah" tangis bunda kembali pecah, tak cuman bunda mereka yang ada di sana juga tak dapat menahan tangisannya.


Ayah tidak menjawab, ia tak tau harus menjawab apa, keadaan ku yang semakin lama semakin memburuk membuat mereka semua semakin panik dan cemas.


Angkasa menatap ke arah ku yang terbaring lemas di brankar.


"Za kamu harus kuat za, kamu jangan tinggalin kami, banyak orang yang sayang sama kamu, kamu jangan buat mereka sedih, aku mohon bertahanlah, aku yakin kamu pasti bisa" batin Angkasa dengan penuh harapan.


"Ambulance sudah siap, bawa pasien keluar" suruh dokter.


Suster-suster mendorong brankar ku keluar dari ruangan ICU.


Bunda langsung mendekati ku yang tengah di dorong oleh suster-suster.


"Za ini bunda nak, kamu yang kuat nak, jangan tinggalin bunda" bunda menghentikan suster itu, ia menangisi ku yang masih tak sadarkan diri.


"Maaf bu jangan hambat perkejaan kami, kami akan rujuk pasien ke rumah sakit besar, ibu mohon kerja samanya" titah suster.


"Silahkan suster" suruh ayah menahan tangan bunda yang hendak menghentikan suster itu.


Suster itu mendorong brankar ku ke ambulance yang menunggu di depan.


"Hei, jangan bawa anak ku, berhenti kalian" teriak bunda yang berusaha mengejar mereka namun ayah menghalanginya.


"Bunda jangan begini, biarkan mereka melakukan tugasnya, ini semua demi kebaikan Aliza bun"


"Bunda hanya ingin ketemu sama Aliza ayah, bunda hanya ingin itu, bunda gak mau apapun"


"Ayah ngerti, tapi keadaan sedang tidak mendukung bun, bunda harus ngerti, ayo kita ke rumah sakit pusat"


"Ayah aku ingin ikut, aku udah sembuh, aku baik-baik saja, hanya luka lecet sedikit" titah Alisa.


"Jangan sa, kamu di sini saja, kondisi kamu masih belum pulih, kamu lebih baik tunggu di sini" larang ayah.


"Enggak mau ayah, Alisa mau ikut, pokoknya Alisa mau ikut" ngotot Alisa.


"Ya sudah kamu boleh ikut, sebentar ayah akan urus surat kepulangan kamu dulu" jawab ayah.


Alisa mengangguk, ayah mendekati suster bagian administrasi.


Mereka semua menunggu ayah kembali dengan tidak tenang.


Angkasa terduduk di bawah dengan lemas, ia menatap kosong ke depan, sesekali air mata mengalir tanpa aba-aba.