The Indigo Twins

The Indigo Twins
Di hadang ular sawah



Motor yang membawa ku terus melaju kencang meninggalkan gapura itu dan juga mereka para makhluk halus.


"Ayo sa lebih cepat lagi, kurang dua jam lagi matahari akan terbenam, kita harus segera sampai di sekolahan sebelum matahari terbenam, karena jika matahari keburu terbenam, akan sulit kita buat nyari jasad Andin"


Setelah mendengar teriakan ku, Angkasa semakin menambah kecepatan, ia tak lagi memikirkan keselamatan hanya karena ingin segara sampai di sekolahan.


"Ayo ren, cepetan, lelet banget sih kamu ini, liat noh Angkasa sama Roy udah makin gak keliatan" teriak Alisa yang begitu geram sekali karena Reno begitu lelet di matanya.


Karena terus menerus di hina dengan kata-kata lelet, Reno akhirnya ngebut juga.


"Bagus, ayo cepat kejar mereka" senang Alisa.


Aku melihat ke belakang dan menangkap Reno yang terus mengejar kami.


"Ayo sa lebih cepat lagi"


Angkasa terus menambah kecepatan.


Jalanan yang panjang ini sudah mulai habis, dari jarak beberapa meter aku sudah melihat akhir jalanan ini, setelah itu kami akan melewati jalanan kota yang padat penduduk.


ciiitt


Brukk


Kepala ku menghantam punggung Angkasa sebab Angkasa mengeram mendadak.


"Ada apa lagi, kenapa kamu ngerem mendadak?"


"Itu lihat di depan ada ular, masa aku tabrak" jawab Angkasa.


Aku melihat ular sawah yang panjang dan besar tengah menyebrang jalan dengan perlahan-lahan.


"Kenapa ular itu pake nyebrang jalan, lelet banget lagi, gak tau apa kalau kita lagi buru-buru" omel Alisa pada ular sawah itu.


"Kamu singkirin sana dia, biar kita lanjut jalan lagi" suruh Reno ia sudah tidak sabar untuk segera sampai di sekolahan karena ia takut ada makhluk halus yang datang dan kembali mengganggunya.


"Ogah, gak mau aku, kamu aja sana" tolak Alisa yang sebenarnya takut pada ular, ia tak seberani itu untuk menyingkirkan ular sawah itu.


"Dih malah nyuruh aku, aku juga tidak mau kali" jawab Reno.


"Ya udah kalau gak mau gak usah nyuruh-nyuruh orang segala" entah kenapa seharian ini Reno begitu menyebalkan di mata Alisa.


Angkasa melihat ke belakang."Sstt jangan berisik, kenapa kalian ribut terus sejak tadi"


"Bukan aku, tapi dia" keduanya saling tunjuk tak ada yang mau mengalah.


"Udah, jangan pada berantem terus, lama-lama aku kurung aja kalian berdua ini, biar kalian tau rasa"


Mereka berdua pun langsung diam, tak yang berani untuk berbicara.


Aku kembali melihat ke arah ular itu yang tengah menyeberang jalan dengan pelan-pelan.


Tak lama dari itu, ular sawah itu tak lagi terlihat setelah selesai menyebarang jalan.


"Ayo kita lanjut jalan lagi, kita gak boleh nunda-nunda waktu lagi"


Mereka mengangguk lalu kembali melajukan motor menuju sekolahan.


Aksi kebut-kebutan di jalanan telah mereka lakukan hanya demi segera sampai di sekolahan.


Setelah cukup lama berkendara akhirnya kami sampai di sekolahan juga.


"Akhirnya nyampe juga" Alisa turun dari motor dan mendekati gerbang sekolah.


Reno berusaha membuka gerbang itu namun tidak bisa.


"Gerbangnya di kunci, gimana caranya kita masuk ke dalam?" Reno melihat ke arah kami untuk minta pendapat.


"Manjat, apalagi" jawab Roy.


"Kalau kalian manjat terus kami gimana, masa kami manjat dengan menggunakan rok pendek kayak gini" Alisa berpikir bagaimana caranya dia bisa masuk ke dalam.


"Malah gak ada pak satpam lagi, kan kita gak bisa minta bukain gerbang itu"


"Gini aja, kalian lebih baik masuk lewat belakang, di belakang sekolah kan hutan, jadi gak akan ada yang jaga, kalian bisa lewat sana" jawab Angkasa.


Alisa setuju lalu berlari bersama ku menuju pintu belakang dengan melewati samping sekolah.


Angkasa menatap punggung kami yang pelan-pelan menghilang karena jarak yang jauh.


"Woy kenapa diem, ayo masuk" ajak Reno pada Angkasa yang tiba-tiba diam.


Lamunan Angkasa langsung buyar dan kembali fokus pada rencana awal.


Mereka bertiga memanjat gerbang itu untuk bisa masuk ke dalam.


Hanya beberapa menit saja mereka gunakan untuk memanjat gerbang.


"Ayo kita ke belakang sekolah, kita harus temui mereka berdua sebelum mencari jasad Andin" ajak Angkasa.


Keduanya setuju lalu berlari menuju belakang sekolah.


Aku dan Alisa melewati tanaman-tanaman merambat untuk sampai di belakang sekolah.


Medannya agak sulit, karena di samping sekolah itu hanya ada jalan setapak yang di kanan dan kirinya terdapat tanaman-tanaman merambat, jika sampai kami salah jalan, maka kami akan jatuh ke bawah, di bawah bukan jurang melainkan tanahnya ajak lebih rendah, tidak setinggi jalanan setapak dan sekolah ini.


"Ayo sa cepetan"


"Iya, ini susah, harus hati-hati karena banyak tanaman-tanaman berduri"


Kami terus berjalan menuju pintu belakang dengan sangat hati-hati karena banyak tanaman putri malu yang durinya bisa saja melukai kami.


Setelah beberapa saat kami berjalan, akhirnya kami sampai di belakang sekolah juga.


"Huft akhirnya nyampe juga" lega Alisa.


"Ayo kita cari mereka bertiga"


"Gak usah, itu mereka" tunjuk Alisa pada mereka bertiga yang mendekat.


"Ayo sekarang kita cari jasad Andin" ajak Roy yang sudah tidak sabaran menemukan jasad Andin.


"Tunggu Roy"


Roy berhenti dan melihat ke arah ku."Kenapa, kenapa kamu cegah aku?"


"Gini, dengerin sebentar, kita kan gak tau di mana jasad Andin berada"


"Terus?" penasaran mereka pada kelanjutannya.


"Jadi kita lebih baik pencar aja, biar lebih cepat ketemu, gimana kalian setuju gak?"


Mereka mengangguk."Iya za, kalau kita pencar, akan lebih mudah buat ketemu sama jasad Andin" setuju Angkasa.


"Kita mau nyari jasad Andin di mana?" Alisa meminta pendapat ku.


"Kalian bertiga nyari jasad Andin di lantai, 4,5,6,7 sedangkan aku sama Angkasa akan nyari jasad Andin di lantai 1,2, dan 3, gimana kalian setuju gak?"


"Setuju kok"


"Ayo sekarang kita pencar, kalau di antara kalian ada yang nemuin jasad Andin, atau sesuatu yang mencurigakan, langsung hubungi kami" perintah Angkasa.


"Siap, Roy nyari di lantai lantai 4, ren kamu ke lantai 5, aku biar ke lantai 6" perintah Alisa.


"Terus bagaimana dengan lantai 7 nya, masa kita lewati?" Reno memikirkan lantai 7 yang takutnya ada apa-apa di sana.


"Teruntuk lantai 7, nanti kita cari bareng-bareng aja" jawab Alisa.


"Baiklah" setuju keduanya.


"Sekarang cepat kalian cari" perintah Alisa.


Mereka berdua berlari ke lantai 4 dan 5.


Alisa juga berlari mendekati lantai 6 yang akan menjadi tugasnya.


"Ayo sa kita nyari bareng-bareng"


Angkasa mengangguk lalu kami berlari mencari keberadaan jasad Andin di ketiga lantai itu.