The Indigo Twins

The Indigo Twins
Keanehan dari diri Ustadz Fahri 3



"Kalau begitu kita tunggu saja urusan Ustadz selesain, Ustadz kan bilang kalau Ustadz ingin banget ikut, kalau begitu kami akan nungguin urusan Ustadz selesai baru datang ke rumah mbah Gamik gimana, kalian setuju kan" Angkasa meminta pendapat kami berdua yang sudah panas dingin sedari tadi.


"Apa yang Angkasa inginkan sebenarnya, kenapa makin lama dia makin berani saja" batin ku yang berusaha ngendaliin tubuh ku agar tidak terlihat ketakutan.


"Jangan, kalian jangan nungguin aku, urusan ku ini agak lama, lebih baik kalian langsung ke rumah mbah Gamik saja, kalau perlu malam ini kalian ke sana, biar mbah Gamik gak gangguin orang-orang seperti kemarin malam" larang Ustadz Fahri cepat, terlihat guratan ketakutan jika kami akan menungggu urusannya selesai.


"Kalau malam ini kami tidak bisa tadz karena bakalan ada banyak kendala, apalagi rumahnya mbah Gamik itu berada di tengah-tengah hutan, kalau ada hewan buas yang kita temui gimana, maka dari itu lebih baik kami akan datang ke sana besok saja" jawab Angkasa.


"Terserah kalian mau pergi ke sana kapan saja, tapi kalau bisa secepatnya karena kasihan mbah Gamik dan juga warga-warga yang tinggal di desa ini, mereka pasti masih sangat takut pada mbah Gamik yang udah gangguin mereka terus menerus itu, kalau bisa kalian berangkat ke sana pagi-pagi sekali, karena bisa menghemat waktu" suruh Ustadz Fahri.


"Iya tadz kami besok akan ke sana pagi-pagi sekali" setuju Angkasa.


Angkasa menjatuhkan hpnya dengan sengaja, ia mengambil hp itu dan melihat jika kaki Ustadz Fahri tidak napak ke bawah.


Setelah melihat itu Angkasa kembali duduk dengan tenang seperti tidak ada apapun yang terjadi.


"Udah malam, Ustadz gak mau istirahat, Ustadz kan besok harus berangkat pagi-pagi sekali untuk nyelesain urusan Ustadz" Angkasa menatap wajah Ustadz Fahri dengan penuh makna tersirat di dalamnya.


"Oh iya, aku memang akan berangkat ke sana pagi-pagi sekali, aku ke kamar dulu" kami mengangguk kemudian Ustadz Fahri meninggalkan ruang tamu ini.


Kami mengamati punggung Ustadz Fahri yang pergi meninggalkan ruang tamu.


"Huft"


Aku dan Reno langsung bisa kembali bernapas lega ketika Ustadz Fahri pergi.


Aku memukul lengan Angkasa."Kenapa kamu banyak tanya kayak tadi, kalau dia tau kita curiga padanya gimana?"


"Gak bakal za, dia gak akan curiga pada kita, dan apa yang aku lakuin ini bisa buat kita dapatin informasi yang sangat penting dan pastinya akurat, karena kita nanya langsung sama orang yang bersangkutan" jawab Angkasa.


Reno mengejutkan alis."Orang yang bersangkutan, jadi Ustadz Fahri yang ada di depan kita bukan Ustadz Fahri beneran?"


"Iya, dia bukan Ustadz Fahri, dia adalah mbah Gamik yang menyerupai Ustadz Fahri, kalian lihat sendiri kan banyaknya perubahan yang terjadi dari dalam diri Ustadz Fahri, pertama dari segi suara dia agak serak seperti suara orang tua yang sudah renta, kedua wajahnya pucat pasi, ketiga penggunaan ucapan kata saya yang hilang, keempat dia berusaha untuk setenang mungkin meski wajahnya udah jelas nampakin kemarahannya, dia pikir kita gak tau apa kalau dia bukan Ustadz Fahri yang asli" jawab Angkasa.


"Iya, gak cuman itu sa aroma parfum Ustadz Fahri beda, tadi pas dia lewat di samping aku bau prafurmnya gak kayak biasanya yang bau hajar Aswad tapi ini malah ke arah kembang-kembang kuburan yang ngengat banget, aku tadi sampai merasa aneh pada Ustadz Fahri yang tiba-tiba tubuhnya bau kembang kuburan" Reno akhirnya paham kalau ternyata yang merasakan adanya keanahen di dalam diri Ustadz Fahri bukan dia saja.


"Aku gak mikir ke arah sana, hanya saja aku ingat kalau suara serak dan wajah pucatnya itu mirip seperti hantu Alisa dulu yang nyerupai menjadi Alisa, dia sama persis seperti Ustadz Fahri palsu barusan, mangkanya aku gak berani ngeluarin sepatah kata pun karena aku tau di depan aku itu bukanlah Ustadz Fahri yang asli"


"Aku tadi sempat ragu apakah dia beneran Ustadz Fahri atau ada makhluk halus yang udah ngerupain dia, jadi buat mastiin aku gunain cara yang ampuh, yaitu ngejatuhin hp ku biar bisa lihat apakah kakinya nyentuh ke lantai atau tidak" kami berdua yang mendengar hal itu terkejut bukan main.


"Jadi tadi kamu pura-pura ngejatuhin hp kamu?"


"Iya, pantesan aja Ustadz Fahri itu terburu-buru pergi dari sini, ternyata dia udah tau kalau kita curiga padanya" jawab Reno.


"Ada apa ini, kenapa kalian ngomongin saya?" kami yang mengenali suara itu terkejut.


Dan bertapa terkejutnya kami saat melihat Ustadz Fahri yang berdiri di ambang pintu dengan mengenakan pakaian yang sama tengah menatap ke arah kami.


"E-enggak gitu tadz"


"Gak ada apapun kok tadz"


"Kami gak ngomongin Ustadz"


Kami berusaha mencari alasan agar Ustadz Fahri tidak curiga.


Ustadz Fahri duduk di samping Reno tapi Reno malah menggeser sedikit tubuhnya menjauhi Ustadz Fahri.


Ustadz Fahri merasa aneh."Ada apa sama kamu, kenapa kamu jadi aneh?"


"Enggak kok tadz, gak ada apa-apa, itu gak bener kok, aku gak ngindarin Ustadz" jawab Reno yang mulai gemetaran ketika melihat bagian ujung jubah putih Ustadz Fahri yang kotor.


Ustadz Fahri masih tidak percaya, ia merasa ada sesuatu yang terjadi sehingga membuat kami menjadi aneh seperti ini di matanya.


"Enggak, ada sesuatu yang kalian sembunyiin, cepat bilang apa yang kalian sembunyiin, saya ingin tau" tintah Ustadz Fahri.


"Tapi sebelumnya Ustadz beneran Ustadz Fahri kan?" Ustadz Fahri mengerutkan alis mendengar pertanyaan Angkasa.


"Saya memang Fahri, kenapa kamu masih nanya lagi, sebentar-sebentar kenapa kalian ini, kenapa saya merasa ada sesuatu yang udah kalian sembunyiin dari saya" tebak Ustadz Fahri.


"Tapi beneran kan Ustadz adalah Ustadz Fahri yang asli?" Reno kembali memastikan, ia tidak mau kejadian tidak di inginkan terjadi.


"Iya, saya Fahri yang asli, kenapa kalian pada gak percaya sama saya, ada apa ini sebenarnya" semakin bingung Ustadz Fahri pada kami bertiga.


Reno bangun dari duduknya ia memeriksa kaki Ustadz Fahri apakah menyentuh lantai atau tidak.


"Ada apa ini, kenapa dengan kaki saya?" merasa tak nyaman Ustadz Fahri saat Reno menyentuh kakinya.


"Aman, dia beneran Ustadz Fahri yang asli" jawab Reno.