The Indigo Twins

The Indigo Twins
Bersedia menjadi saksi



Ustadz Fahri mencari pak RT di rumahnya.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam ada apa tadz, kenapa datang ke rumah?" bu RT mendekati Ustadz Fahri yang berada di depan rumah.


"Pak RT-nya ada bu?"


"Gak ada tadz, suami saya baru aja pergi ke rumah Ustadz Somad, palingan sekarang mereka ada di masjid tadz"


"Oh begitu ya sudah saya akan ke sana, saya permisi dulu bu assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Ustadz Fahri berjalan menuju masjid, di sepanjang perjalanan tidak ada satu orangpun yang ia lihat, orang-orang di desa pasti tengah berada di rumah pak Jefri.


Setelah beberapa menit berjalan Ustadz Fahri sampai di masjid, di depan masjid ada 2 sandal, dengan cepat Ustadz Fahri masuk ke dalam masjid.


"Assalamualaikum"


Mereka yang berada di dalam masjid menoleh ke arah Ustadz Fahri yang mendekati mereka.


"Wa'alaikum salam"


"Ada apa Fahri, kok tumben datang ke sini, kamu gak kerja?" Ustadz Somad melihat ke arah Ustadz Fahri yang mendekatinya.


"Enggak tadz, saya datang ke sini cuma mau minta tolong Ustadz sama pak RT untuk menjadi saksi nikahnya mbk Indri"


Mereka berdua sontak terkejut karena yang mereka tau mbk Indri sudah menikah dengan Ilyas, anak dari pak Sabeni.


"Bukannya Indri sudah nikah sama anaknya pak Sabeni, kenapa sekarang dia mau nikah lagi?" terkejut Ustadz Somad.


"Itu bukan mbk Indri tadz, itu adalah jelmaan makhluk halus yang menyamar menjadi mbk Indri, mbk Indri yang asli ada di rumah bunda, yang di rumah pak Jarwo itu makhluk halus yang menjelma menjadi dirinya selama ini"


"Kok bisa ada makhluk halus yang menjelma menjadi Indri?" tercekat pak RT.


"Sebenarnya pak Jarwo itu bersekutu dengan setan, perayaan itu saya curigai membawa dampak buruk bagi desa ini, saya dan yang lain pelan-pelan nyelidiki perayaan itu dan kami tau kalau pak Jarwo ternyata bersekutu dengan setan, anak-anaknya yang meninggal itu karena di jadikan tumbal"


Ustadz Somad dan pak RT terkejut bukan main mendengar berita itu.


"Astaghfirullah hal adzim, kenapa pak Jarwo bisa seperti itu" tak menyangka Ustadz Somad.


"Saya juga tidak menyangka tadz, namun inilah kenyataannya, saya mohon pak RT sama Ustadz harap hadir di pernikahannya mbk Indri, biar tidak cuman saya dan sekeluarga yang menjadi saksinya"


"Iya kami akan hadir di pernikahan itu, kapan pernikahan Indri di mulai?" penasaran pak RT.


"Saya masih belum tau pak RT, pak RT sama Ustadz Somad datang aja setelah sholat ashar ke rumah, kalau walinya sudah datang, ijab kabul akan segera di mulai"


"Walinya siapa Fahri, apa pak Jarwo yang menjadi walinya?"


"Tidak tadz, walinya itu katanya adiknya pak Jarwo yang ada di luar kota, beliau sedang berangkat ke sini, mungkin ashar beliau akan sampai di desa ini"


"Kalau seperti itu kami akan datang ke sana setelah sholat ashar, kamu tunggu saja kedatangan kami di sana"


"Baik tadz, tapi saya mohon jangan beri tau hal ini pada siapapun, karena saya tidak mau pak Jarwo tau dan menggagalkan pernikahan mereka"


"Ustadz tidak usah khawatir, kami akan tutup mulut, kami tidak akan bilang pada siapa-siapa" ucapan pak RT membuat Ustadz Fahri sedikit merasa lega.


"Fahri Indri akan menikah dengan siapa, apa dengan Ilyas?"


"Tidak tadz, mbk Indri akan menikah dengan teman saya, beliau baru saja sampai di desa ini, beliau nantinya yang akan menjaga dan melindungi mbk Indri dari segala kekuatan gaib yang sedang berusaha mengintainya"


"Mohon maaf tadz pak RT, saya pamit pulang dulu, saya mau bantu yang lain yang pastinya lagi sibuk di rumah, saya undur diri dulu assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Ustadz Fahri keluar dari dalam masjid setelah mendengar jawaban pak RT dan Ustadz Somad, dengan terburu-buru Ustadz Fahri pulang kembali ke rumah.


Di pertigaan jalan dari kejauhan Ustadz Fahri melihat dua orang yang memakai pakaian hitam dengan memegang senjata tajam seperti tengah menunggunya.


Dua orang itu mondar-mandir ke sana kemari dengan memegang senjata tajam.


"Siapa mereka, kenapa mereka berada di sana?"


Ustadz Fahri terus menatap ke arah mereka yang bergitu misterius.


"Dari postur tubuhnya mereka seperti dua orang yang berada di rekaman cctv itu, apa mungkin itu pak Tejo sama si gembul yang Alisa dan Aliza maksud"


Tercekat Ustadz Fahri dengan terus menatap ke arah mereka berdua.


"Aku tidak bisa lewat di sana, aku harus pergi sebelum mereka melihat ku" Ustadz Fahri masuk ke dalam semak-semak, di sana ada jalanan setapak yang bisa di lewati untuk menghindar dari dua orang misterius itu.


Setelah keluar dari jalanan setapak Ustadz Fahri berlari menuju rumah yang hanya tinggal beberapa meter lagi.


"Huft selamat" lega Ustadz Fahri yang kini sudah sampai di depan rumah.


"Ustadz kenapa, kok ngos-ngosan gitu kayak orang yang baru habis di kejar hantu?" Ustadz Fahri melihat ke arah mbk Hilda yang duduk di atas pohon.


"Tidak, saya tidak apa-apa, saya masuk dulu, kalau ada orang atau makhluk halus yang akan ke sini, cepat kasih tau saya"


"Baik tadz"


Ustadz Fahri dengan terburu-buru masuk ke dalam rumah.


"Kenapa Ustadz Fahri, kenapa dia kayak habis ketemu hantu" feeling mbk Santi.


"Kayaknya dia beneran ketemu sama hantu, lihat aja dia sampai ngos-ngosan gitu" sahut mbk Gea.


"Masalahnya hantu mana yang akan gangguin Ustadz Fahri, Ustadz Fahri itu bisa ngusir dia, gak mungkin Ustadz lari hanya karena ketemu sama hantu" jawab Tiger.


"Iya juga, terus kenapa Ustadz Fahri kayak lari ketakutan gitu, apa dia kena masalah ya?" pikir mbk Hilda.


"Mungkin aja" sahut Tiger.


"White kamu mau ke mana?" mereka semua melihat white yang menjauhi mereka.


"Mau lihat-lihat ada apa saja di sini, nanti aku akan kembali lagi, gak lama kok" jawab White dengan terus pergi meninggalkan rumah.


"Tiger kejar anak mu, dia nanti hilang" suruh mbk Hilda.


"Gak akan hilang, siapa yang mau nyulik dia, nanti dia juga akan kembali sendiri, dia sudah tau jalan pulang" jawab Tiger.


"Kau ini bapak macam apa, anak pergi malah di biarin" tak habis pikir mbk Hilda.


"Dia bukan anak ku, berapa kali aku bilang pada kalian, tapi kenapa kalian tidak ada yang percaya" kesal Tiger.


"Iya, sudah kau jangan marah lagi" jawab mbk Santi yang melihat wajah Tiger yang manyun.


Tiger hanya membalas dengan deheman.