The Indigo Twins

The Indigo Twins
Datangnya keluarga Andin



Aku dan Alisa duduk di dekat jasad Andin, kami membaca surat yasin bersama dengan warga-warga yang berada di sini.


Walaupun sudah 8 hari Andin berada di dalam gudang dalam keadaan tidak bernyawa, tapi jasadnya tidak menimbulkan bau sedikitpun.


Reno, Angkasa dan Roy duduk di teras rumah.


Angkasa melirik Roy yang diam dengan pandangan lurus ke depan."Kamu yang sabar, semuanya sudah terjadi, mungkin inilah akhir perjalanan hidup Andin, kamu harus terima, kamu harus bisa ikhlasin dia"


"Sedang ku usahakan" jawab Roy.


Mendengar jawaban Roy, Reno merasa ada sesuatu yang terjadi."Kamu ada hubungan apa sama Andin, kenapa aku ngerasa hubungan kalian lebih dari kata teman?"


Roy diam, ia tidak menjawab."Woy, are you okay?"


"It's okay, aku baik-baik saja, tidak ada yang terjadi" jawab Roy dengan pandangan lurus ke depan.


Keduanya masih curiga ada sesuatu yang di sembunyikan Roy, tapi mereka tidak ada yang memperpanjangnya karena orang yang saat ini berada di dekat mereka sedang tidak baik-baik saja meski ia terus bilang kalau dirinya baik-baik saja, namun matanya tidak bisa berbohong.


Angkasa masih penasaran pada Roy yang terus menatap lurus ke depan, ia menggunakan kelebihannya untuk tau segalanya.


"Kenapa Roy tidak bergumam, ayo napa ucapan sesuatu di dalam hati, biar aku tau dia sama Andin ada hubungan apa, aku yakin banget mereka berdua lebih dari kata teman, gak mungkin kehilangan seorang teman sampai kayak gini" batin Angkasa.


"Pasti ada sesuatu di balik ini semua, aku harus cari tau" batin Angkasa.


Ketika Roy terus melamun tiba-tiba ada mobil yang berhenti tepat di depannya.


Mereka bertiga langsung beranjak dari duduk ketika melihat pasangan suami istri yang keluar dari dalam mobil itu dan mereka merasa pasangan suami istri itu adalah ayah dan ibu Andin.


"Di mana Andin?" seorang wanita yang sebaya dengan bunda mendekati mereka dengan wajah cemas.


"Di dalam tante" jawab Roy.


Mereka beruda bergegas masuk ke dalam dan mendapati Andin yang sudah terbujur kaku.


"Andiiin" tangis tante Dara pecah saat melihat anak satu-satunya kini sudah tiada dalam keadaan yang tidak wajar.


Tante Dara langsung memeluk tubuh Andin yang sudah kaku.


"Andin kamu kenapa nak, kenapa kamu bisa kayak gini, siapa yang sudah lakuin ini pada mu, bilang sama ibu" tante Dara terus menangis di dekat jasad putri tercintanya.


"Ibu yang sabar ya, ini semua cobaan buat ibu" bu RT berusaha menenangkan tante Dara yang terus menangis karena kehilangan Andin.


Tante Dara menyeka sedikit air mata yang terus mengalir."Pak kenapa anak saya bisa meninggal, ada apa dengannya, kenapa dia tiba-tiba meninggal, dia sakit apa pak?"


"Anak ibu tidak sakit, kata temannya dia nemuin Andin di dalam gudang sekolah, kami menduga Andin meninggal karena di bunuh" jawab pak Heru.


DEG!


Seperti tertusuk belati saat tante Dara mendengar fakta yang begitu menyakitkan itu.


"D-di bunuh" terkejut keduanya yang tak menyangka jika Andin meninggal karena di bunuh oleh seseorang.


"Benar pak bu, Andin meninggal karena di bunuh, ada beberapa luka yang terdapat di tubuh Andin, teman-temannya bilang, kalau mereka menemukan Andin dalam keadaan yang tidak bernyawa di dalam gudang sekolah" jawab pak Heru.


"Andiiin" tante Dara dan om Andi tak dapat membayangkan membayangkan Andin yang di siksa hingga meninggal dunia oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.


Tangisan terdengar memenuhi ruangan ini, aku yang mendengar tangisan yang begitu menyayat hati itu tak kuasa, alhasil aku keluar dari dalam kamar itu.


"Enggak apa-apa, kita lebih baik di sini aja"


Alisa mengangguk mengerti, kami berlima duduk di teras rumah.


"Za kok di sini gak ada Andin ya, kemana dia, kenapa gak datang ke sini?" Alisa tidak menemukan keberadaan Andin di sekitar rumah ini.


"Mungkin dia tidak mau melihat bertapa sedihnya orang tuanya saat tau kalau dia sudah meninggal"


"Iya juga sih, kasihan tau papa dan mamanya Andin, mereka kayak terpukul gitu" Alisa sungguh sangat tak tega pada kedua orang tua Andin yang begitu kehilangan Andin.


"Mana ada orang tua yang tidak terpukul saat tau anak satu-satunya meninggal karena di bunuh"


"Aku heranlah za, kenapa ada orang yang setega itu sama Andin, dari matanya sih aku udah dapat nembak kalau Andin itu anak baik-baik, tapi masih ada aja orang yang jahat padanya" tak habis pikir Alisa pada orang-orang yang terlibat dalam kejadian ini.


"Iya sih, aku penasaran banget siapa yang udah bunuh Andin, sungguh orang-orang itu gak punya hati banget ngurung Andin di dalam gudang sampai meninggal dan di biarin sampai berhari-hari di sana, apa mereka tidak memiliki rasa menyesal apa telah melakukan itu semua"


"Mana ada kata menyesal bagi mereka yang gak punya hati nurani, iih sampai aku tau siapa yang udah bunuh Andin, aku akan cabik-cabik tubuhnya" geram Alisa pada tersangka itu.


"Besok kita akan usut tuntas, semoga aja besok kita bisa mecahin misteri di balik angka 4,6,8 itu"


"Amin" jawab Alisa.


"Bu kuburan sudah selesai di gali, ibu cepat beritahu pak Andi sama bu Dara" pak RT mendekati istirnya untuk memberitahukan hal itu.


"Iya pak, ibu akan beritahu pada bu Dara dulu sebentar" bu RT masuk ke dalam untuk memberitahukan hal tersebut.


Tak lama dari itu jasad Andin di keluarkan untuk di mandikan, setelah selesai di mandikan dan di kafani, langkah selanjutnya jenazah Andin di sholatkan terlebih dahulu sebelum di makamkan.


Saat para kaum Adam tengah menyolati Andin, samar-samar aku melihat sosok Andin yang berdiri di samping rumah dengan wajah pucatnya.


"Sa itu Andin, ayo kita ke sana"


Alisa mengangguk lalu berlari bersama ku untuk mendekati Andin.


"Andin" panggil kami.


Andin hanya tersenyum, tapi aku merasa ada sesuatu di balik senyuman itu.


"Ada apa Andin, kenapa kamu kayak cemas gitu, apa yang sudah terjadi?"


"Tidak ada, aku baik-baik saja" jawab Andin.


"Andin...


"Yah kok pergi sih" berdecak kesal Alisa saat melihat Andin yang sudah menghilang dari hadapannya.


"Sa kamu ngerasa gak kalau ada sesuatu yang Andin sembunyiin?"


"Iya, aku kan ceritanya mau nanya padanya, tapi dia malah pergi gitu aja, kesal kan jadinya" jawab Alisa.


"Besok aja kita cari tau sendiri, ayo kita ke yang lain"


Alisa setuju lalu kembali mendekati ibu-ibu yang tengah menunggu sholat jenazah selesai di laksanakan.