The Indigo Twins

The Indigo Twins
Tempat yang aneh



Aku membuka mata, aku melihat sekeliling tempat yang sangat aneh, benar-benar asing dan sebelumnya aku tidak pernah berada di tempat ini.


Tempat itu penuh dengan pandang rumput yang berwarna hijau, rumput itu bersih tidak ada kotoran sedikitpun yang tertinggal, namun sayangnya tak ada satu orangpun yang aku lihat di sana, aku benar-benar satu-satunya orang yang berada di sana.


"Di mana aku ini, kenapa aku berada di sini?"


Bingung ku, aku berjalan di tengah pandang rumput yang hijau dan menyejukkan mata.


"Siapapun tolong aku, Angkasa aku takut" panggil ku yang perlahan-lahan mulai takut dengan tempat yang aku singgahi ini.


Di saat aku yang tengah kebingungan pada tempat yang aku singgahi, tiba-tiba mata ku menangkap sesuatu yang membuat senyuman merekah di bibir ku.


"Roy, Andin, Elfa" teriak ku gembira saat melihat mereka bertiga yang mengenakan pakaian putih berdiri tak jauh dari ku.


Aku berlari mendekati mereka dengan senyuman manis ku, aku tak lagi takut dengan tempat aneh ini setelah melihat mereka bertiga.


"Jangan ke sini za, berhenti!" teriak Roy.


Seketika aku menghentikan langkah, aku mengerutkan alis tanda tak mengerti dengan ucapannya yang malah mencegah ku untuk menghampirinya.


"Kenapa, kenapa aku tidak boleh ke sana?"


"Za masih ada banyak orang yang sayang sama kamu di sana, kamu jangan ikut kami, mereka akan sedih kalau kamu ikut bersama kami"


Aku terdiam, ucapan Roy ada benarnya juga.


"Terus aku harus ke mana Roy?"


"Lihat, di sana ada cahaya, kamu masuklah ke dalam cahaya itu"


Aku mengangguk."Terus kalian mau kemana, kalian ikut saja bersama ku"


Mereka bertiga tersenyum menanggapi ajakan ku.


"Aliza kami sudah tidak bisa kembali bersama mu, di antara kami semua hanya kamu seorang yang bisa kembali, sekarang kamu cepat masuk ke dalam cahaya itu sebelum cahaya itu menghilang" suruh Andin.


Aku mengangguk, aku berlari mendekati cahaya yang terang itu, mereka bertiga tersenyum melihat punggung ku yang semakin menjauh.


Semakin aku dekat dengan cahaya itu semakin silau mata ku, namun aku terus berusaha mendekatinya.


"Aaaaah" pekik ku ketika tubuh masuk ke dalam cahaya itu.


Di rumah sakit telunjuk tangan kanan ku bergerak, suster yang melihatnya langsung memanggil dokter.


"Dokter" panggil suster.


Mereka berenam yang berada di sana langsung panik, mereka mendekati suster itu.


"Ada apa suster, ada apa sama Aliza" panik Angkasa.


"Dokter" suster itu terus memanggil nama dokter, ia menggubris pertanyaan dari mereka berenam yang tampak panik.


Dokter yang mendengar panggilan itu langsung mendekat dan masuk ke dalam ruangan ICU.


Mereka berenam cemas, pikiran-pikiran buruk terus berdatangan.


"Ya Allah jangan ambil Aliza, hamba mohon ya Allah" batin Angkasa mondar mandir ke sana kemari.


Krieet


Dokter membuka pintu ruangan ICU, mereka dengan sigap langsung mendekati dokter.


"Bagaimana dengan Aliza dokter, dia tidak apa-apa kan, dia baik-baik saja kan?" dengan bertubi-tubi Angkasa bertanya pada dokter itu, wajahnya tampak cemas, ia benar-benar takut ada apa-apa dengan ku.


"Apa itu dokter" mata mereka semua langsung berbinar saat mendengar ucapan dokter itu.


"Pasien sudah siuman, kami akan pindahkan pasien ke kamar perawatan"


"Alhamdulillaaah" mereka beruncap syukur karena setelah sekian lama akhirnya berita ini mereka dengar juga.


"Dokter bolehkan kami menemui pasien?" keinginan Alisa, ia benar-benar sangat merindukan aku yang sudah lama tak ia lihat.


"Boleh, tapi pasien akan di pindahkan ke kamar perawatan dulu" jawab dokter.


"Baik dokter" sahut Alisa.


Suster memindahkan ku ke dalam kamar perawatan yang ada di sana, mereka semua masuk ke dalam kamar itu.


"Aliza, kami kangen sama kamu" panggil mereka dengan gembira.


"Apa, kenapa kayak gak ketemu aku selama satu minggu aja"


"Bukan satu minggu lagi za, kita sudah gak ketemu sama kamu 1 bulan" jawab Angkasa.


Aku terbelalak, perasaan ku aku baru tidur, namun mengapa sudah 1 bulan mereka tidak bertemu dengan ku.


"Yang benar saja kamu?"


"Iya za, kamu itu koma 1 bulan, mangkanya kami kangen banget sama kamu, oh ya gak ada yang sakit kan za, kepala kamu gak sakit kan?" khawatir Alisa.


"Masih sakit, cuman sedikit, gak terlalu parah, gak usah di khawatirkan"


Mereka merasa lega walaupun sedikit.


Aku menatap sekeliling, hanya ada mereka berenam yang terlihat di mata ku.


"Di mana bunda dan ayah, kenapa mereka gak ada di sini, apa ayah dan bunda sudah berada di luar kota?"


"Enggak, bunda sama ayah ada di restoran, mereka pasti akan datang ke sini sebentar lagi, kamu tidak usah khawatir sama mereka" jawab Alisa.


Pandangan ku jatuh pada ketiga orang yang berada di antara mereka yang baru aku sadari kebenarannya.


"Ngapain kalian ke sini?" sinis ku menatap ke arah Roki, Byan dan juga Dimas, tiga orang yang biasanya selalu mengganggu ku saat di dalam kelas.


"Ya ampun za, baru siuman aja udah galak amat, jelaslah kita ke mari mau jenguk kamu, kita kan kawan" jawab Roki dengan senyumannya.


"Kalian bilang aku sudah 1 bulan ada di sini, oh ya bagaimana dengan orang yang nabrak aku, apa dia baik-baik saja, dia gak meninggal kan?" panik ku kala teringat pada mereka.


"Enggak, mereka pasti sudah sembuh, salah satu di antara mereka cuman patah tulang, kalau yang satunya lagi lari dari tanggung jawab, kamu tau gak za, mereka itu ternyata adalah orang suruhan pak Sabeni" jelas Alisa.


"Pak Sabeni?"


Aku tercekat saat tau kebenaran itu, aku sempat berpikir kalau kejadian itu murni kecelakaan.


"Iya, pak Sabeni itu ingin berusaha lenyapin kita dengan cara nyuruh orang buat nyelakain kita, sekarang dia sudah mendekam di dalam penjara" jawab Alisa.


"Tunggu-tunggu kenapa pak Sabeni setega itu, selama ini kan kita gak nyari masalah sama dia, kenapa dia berusaha buat lenyapin kita?"


"Kamu ingat kan sama si gembul yang kita lihat di rumah pak Tejo?" aku mengangguk cepat aku tidak mungkin melupakan hal itu.


"Ada apa dengan dia, apa dia ada hubungannya dengan hal ini?"


"Jelas ada hubungannya, dia itu ternyata pak Sabeni, dia pasti sangat dendam pada kita karena kita dua temannya yakni pak Jarwo dan pak Tejo mendekam di penjara dan satunya meninggal dunia, sekarang dia sudah di amankan, om yang sudah nangkap dia di rumahnya" jelas Alisa.


"Syukurlah kalau seperti itu, kita gak usah repot-repot buat nangkap dia"