The Indigo Twins

The Indigo Twins
Pangkuan pria misterius



Aku dan Alisa berhenti ketika mau sampai di rumah pak Tejo, kami bersembunyi di semak-semak.


"Itu rumahnya pak Tejo" pelan Alisa dengan menatap rumah pak Tejo yang sangat besar.


"Kita harus bisa masuk ke dalam rumahnya, kita harus cari tau sa apakah dia adalah orang yang sudah buat restoran bunda hancur atau tidak"


"Itu harus za, eh siapa itu?"


Mata Alisa menangkap seorang laki-laki yang berpakaian serba hitam dengan wajah yang di tutupi masker masuk ke dalam rumah pak Tejo.


"Sepertinya dia orang yang tadi aku lihat di depan restoran, dan dia juga adalah orang yang sudah bikin restoran hancur"


"Wah kita harus kasih dia pelajaran"


Aku menarik tangan Alisa yang hendak keluar dari tempat persembunyian.


"Jangan dulu sa, kita liatin dulu"


Alisa setuju ia diam dengan terus melihat pria misterius itu yang masuk ke dalam rumah pak Tejo.


"Dia sudah tidak terlihat lagi, ayo kita masuk ke dalam juga"


"Kita tidak bisa masuk dari pintu depan sa, ayo kita cari pintu belakang, kita harus cari tau siapa pria misterius itu, aku yakin sekali dia adalah biang keroknya"


Kami berdua berlari ke belakang rumah pak Tejo untuk masuk dari pintu belakang.


Kami terkejut saat di rumah pak Tejo tidak ada pintu belakangnya.


"Ini rumah apa gimana, kenapa gak ada pintu belakang" kesal Alisa dengan menendang tembok itu.


"Kita harus masuk dari mana ini?" bingung Alisa.


"Ayo kita ke samping rumah pak Jarwo, kita naik dari tembok yang menjadi pagarnya itu, tidak terlalu tinggi juga"


"Iya ayo"


Kami berlari ke tembok yang berada di samping kiri rumah pak Tejo.


"Bagaimana caranya kita naik ke dalam, ini susah za?"


Aku melihat ke kanan dan kiri ku hingga mata ku menangkap tangga bambu yang tergeletak di bawah.


"Dengan ini sa, kita naik dengan ini"


Alisa mengambil tangga itu di bantu oleh ku.


"Aku dulu yang naik, baru kamu" Alisa mengangguk setuju.


"Hati-hati za"


Aku mengangguk dan naik satu persatu ke tangga itu hingga usai, aku langsung melompat ke bawah dan berakhir di halaman belakang rumah pak Tejo.


Aku berjongkok dan bersembunyi di samping pot besar yang berada di belakang ku.


"Tidak ada siapapun, aman berarti" aku tidak menemukan satu orang pun yang berada di halaman rumah pak Tejo.


"Sa ayo giliran kamu"


Alisa yang mendengar suara ku naik ke tangga itu dan melompat untuk masuk ke dalam rumah pak Tejo.


"Huft akhirnya kita bisa masuk juga ke rumah pak Tejo walaupun penuh perjuangan"


"Ayo sa kita cari keberadaan orang misterius tadi, dia pasti masih ada di sini, kita harus cari dia"


Aku dan Alisa berjalan dengan pelan-pelan, aku membuka pintu yang berada di samping rumah pak Tejo.


"Di kunci sa, kita gak bisa masuk ke dalam"


"Kita pecahin jendelanya aja"


"Jangan, nanti pak Tejo akan tau kalau ada penyusup yang masuk ke dalam dan kita akan di tangkap sama dia"


"Iya juga, terus kita mau masuk dari mana?"


Aku diam, aku mencoba mencari akal di keadaan genting ini.


Aku tersenyum ketika teringat pada sesuatu yang dapat membantu kami di keadaan seperti ini.


Alisa tersenyum ketika melihat jepit rambut itu.


Aku memasukkan jepit rambut itu pada silinder kunci, berusaha membukanya sebentar hingga pada akhirnya pintu itu berhasil terbuka.


"Aku memang pintar, ayo kita masuk ke dalam, waktunya menyelesaikan misi besar" aku membuka pintu dengan pelan-pelan agar tidak ada seorangpun yang mendengarnya.


Aku langsung merangkak untuk masuk ke dalam rumah itu di susul oleh Alisa.


"Tutup pintunya" Alisa menutup pintu itu lalu mengikuti ku merangkak agar tidak ketahuan.


Alisa menarik kaki ku."Kenapa?"


"Di mana pak Tejo, di sini gak ada?" pelannya agar tidak ketahuan.


"Kita cari saja dulu, dia pasti ada di sini"


Kami terus merangkak mencari keberadaan pak Tejo.


Aku berhenti ketika melihat ada seseorang yang berpakaian hitam masuk ke dalam salah satu ruangan yang berada di dalam rumah ini.


"Sa dia masuk ke sana, kita juga harus ke sana, kita harus cari tau apakah bener dia yang sudah ngancurin restoran bunda"


"Iya, ayo kita ke sana"


Aku dan Alisa berdiri, tidak ada orang satupun di ruang tamu sehingga kami bisa bebas berkeliaran.


Dengan pelan-pelan kami mendekati ruangan itu, tubuh kami merapat pada tembok, Alisa berada di seberang ku, kami berdua berpisah, tangan ku membuka pintu, kemudian pintu itu terbuka dengan lebarnya.


Kami berdua merapatkan tubuh ke tembok agak sedikit menjauh agar tidak ketahuan.


Dua orang yang berada di dalam ruangan itu tertuju pada pintu yang terbuka.


"Tutup pintunya dengan rapat" perintah seseorang yang berada di dalam ruangan itu.


"Tidak ada siapapun di rumah ku, jadi jangan khawatir, tidak akan ada yang mendengar percakapan kita"


Orang yang agak gembul itu bernapas lega, ia sedari tadi menunggu kedatangan pria misterius itu di rumah ini.


Aku dan Alisa mengintip mereka, kami ingin tau siapa mereka sebenernya.


"Sstt sst" Alisa langsung melihat ke arah ku.


"Hp" mulut ku memberi isyarat, aku tidak mengeluarkan sepatah katapun agar mereka yang berada di dalam tidak mendengarnya.


Alisa langsung mengancungkan jempol, Alisa mengeluarkan hp, dan menvideo mereka dari lubang kecil yang ada di pintu.


"Bagaimana, apakah mereka sudah tau kehancurannya?" orang yang menggunakan masker itu bertanya pada pria misterius.


Pria misterius membuka maskernya, bertapa terkejutnya kami saat melihat wajah pria misterius itu.


Ternyata pria misterius itu adalah pak Tejo."Sudah, mereka sudah melihat kekacauan itu, suruh siapa mereka berusaha untuk menangkap kita, maka rasakan saja pembalasan dari kita, itu masih permulaan, nanti malam aku akan bakar restoran itu biar usaha mereka bangkrut haha"


Tawa pak Tejo dan si gembul menggelegar dahsyat di ruangan itu.


Alisa menvideokan pengakuan pak Tejo dengan geram.


"Apa kau bilang, akan membakar restoran ku, sebelum kau membakarnya aku akan lebih dulu membakar rumah mu" batin Alisa yang sudah geram.


"Sstt" Alisa melihat ke arah ku.


"Pulang" itu isyarat yang aku berikan.


Alisa mengangguk lalu berhenti merekam mereka, Alisa memasukan hpnya ke dalam saku kembali.


Aku dan Alisa bangun dari duduk, Alisa memberi kode untuk ku mendekatinya yang berada di seberang, karena pintu utama berada tak jauh dari posisi Alisa berdiri.


Sebelum aku lewat aku mengambil napas terlebih dahulu.


Wussshhhh


Bagaikan makhluk halus yang melesat dengan cepat melewati pintu itu yang membuat mereka berdua yang ada di ruangan itu terkejut.


"Siapa itu" teriak mereka namun kami terus berlari keluar dari rumah pak Tejo.