The Indigo Twins

The Indigo Twins
Misteri pemuda yang di ikuti kingkong 7



Setelah selesai membeli, Desi kembali masuk ke dalam mobil, mobi itu terus melaju sampai berhenti di rumah.


"Reni kamu di mana nak" panggil Desi.


"Ada apa ma?" tanya mbk Reni.


"Ini mama belikan kamu bakso kesukaan mu, kamu habisin gih" jawab Desi menyerahkan plastik putih itu.


Dengan girang mbk Reni mengambil plastik itu ia lalu berlari menuju dapur untuk mengambil piring.


Mbk Reni memakan bakso itu dengan lahap.


"Kenapa dukun itu memberikan uang dan menyuruh tante Desi membeli makanan atau minuman kesukaan mbk Reni dan ya mengapa yang lain gak boleh memakan uang itu sedikitpun, apa yang sebenernya terjadi aku harus bertanya pada kakek" kata ku.


"Tap bagaimana caranya aku bisa bertanya sedangkan aku saja gak tau ada di mana saat ini" kata ku bingung.


Keesokan harinya.


"Reni kamu ikut mama sama papa sebentar yuk Rani biar di jagain sama Reno saja" ajak Desi.


"Kemana ma?" tanya mbk Reni.


"Adadeh ayo ikut saja jangan banyak tanya" jawab Desi.


Tanpa rasa curiga mbk Reni mengikuti apa yang orang tuanya minta.


Mereka masuk ke dalam mobil, aku duduk di samping mbk Reni.


"Mbk jangan ikut mereka, mbk lihat aku, percaya sama aku mereka mempunyai tujuan yang tidak baik mengajak mbk, ayo mbk pergi dari sini" kata ku.


Mbk diam saja tak melirik ke arah ku sedikitpun.


"Mengapa perasaan aku menjadi tak tenang seperti ini sebenernya apa yang akan terjadi selanjutnya, aku mempunyai firasat yang buruk aku harus buat mbk Reni pergi dari sini dan tak ikut dengan orang tuanya yang gila harta, tapi bagaimana caranya mbk Reni tak dapat melihat ku, apa yang harus aku lakukan" kata ku menjadi tak tenang.


Mobil terus saja melaju dan aku hanya bisa diam percuma aku berteriak-teriak tak ada seorangpun yang mendengarnya.


Mobil itu berhenti di tempat kemarin.


"Ayo ren turun" kata Desi.


Mbk Reni turun ia menatap bingung sekelilingnya.


"Ini di mana ma, mengapa kita ke sini?" tanya mbk Reni.


"Ikut saja tak usah banyak tanya" jawab Desi ketus.


Mbk Reni menatap aneh pada kedua orangtuanya yang nampak berbeda.


"Ayo ikut mama" ajak Desi menarik tangan mbk Reni.


Dengan terpaksa mbk Reni mengikuti kedua orang tuanya.


"Permisi" kata Robi dengan mengetuk pintu.


Ki Suryo membuka pintu.


"Masuklah dan bawa anak ini ke dalam ruangan di paling pojok itu dan tinggalkanlah dia sendirian" kata Ki Suryo.


"Baik Ki saya akan melakukannya" jawab Desi.


"Ayo Reni ikut mama" ajak Desi.


Mbk Reni mengikuti tante Desi, aku mengikuti mereka dari belakang.


"Ma sebenarnya ini ada apa, mengapa aku di bawa ke ruangan ini?" tanya mbk Reni.


"Sudah kamu jangan banyak tanya kamu tinggal turuti apa yang mama minta" jawab Desi.


Mata mbk Reni terbelalak melihat kemenyan dupa dan lilin-lilin serta kembang tujuh rupa di ruangan ini.


"Kenapa ada kemenyan di ruangan ini apa yang mau orang tua itu lakukan?" tanya mbk Reni.


"Jangan bilang mama mau menjadikan aku tumbal" tebak mbk Reni.


"Pinter sekali, mama dan papa sepakat untuk melakukan persugihan biar keluarga kita sejahtera, mama itu sudah capek hidup kere dengan persugihan ini mama yakin kita bisa kaya raya" jawab Desi.


"Mama tega aku gak mau, aku mau pergi" kata mbk Reni.


"Kalau kamu mau lari adik-adik mu yang akan mama jadikan tumbal" tegas Desi.


Tangisan mbk Reni semakin kencang saat mendengar hal itu.


"Kamu duduk diam di sini jangan coba-coba untuk lari" perintah Desi lalu meninggalkan mbk Reni.


"Huhu mama tega, kenapa mama mau jadikan aku tumbal, aku gak mau" tangis mbk Reni.


"Aku harus lari tapi bagaimana kalau Reno yang akan menggantikan posisi ku hiks hiks" tangis mbk Reni tak berdaya.


Mendengar tangisan itu entah mengapa aku menjadi terenyuh.


"Mbk Reni pergi saja jangan pedulikan yang lain, masalah Reno dan Rani aku yang akan bantu yang penting mbk harus terbebas dari hal ini" teriak Ki.


Mbk Reni masih menangis dengan memeluk tubuhnya sendiri.


"Mbk dengerin aku, mbk harus pergi, bangun jangan diam saja" teriak ku lagi.


tap tap tap


Mendengar suara langkah kaki membuat ku kebingungan, ketegangan terasa di dalam diri ku.


"Gawat itu pasti dukun tak berhati itu, aku harus bisa buat mbk Reni pergi, tapi bagaimana mbk Reni tak mendengar apa yang aku katakan, gimana ini" bingung ku.


Suara langkah kaki itu semakin mendekat.


"Mbk ren pergi dari sini, jangan diam saja" kata ku mendekatinya.


"Mbk Reni ayo bangun, larilah jangan berkorban bagi orang tua yang tidak memiliki hati nurani itu" kata ku.


Langkah kaki itu semakin mendekat, aku bergitu panik karena mbk Reni tak kunjung mendengar apa yang aku katakan.


Aku mencoba menyentuh tubuh mbk Reni namun tak bisa, aku meneteskan air mata kala melihat Ki Suryo masuk ke dalam ruangan ini.


"Jangan lakukan apapun pada mbk Reni" tintah ku dengan deraian air mata.


Ki Suryo duduk di dekat kemenyan, ia membakar dupa lalu komat-kamit membaca mantra.


Selang beberapa saat aku melihat genderuwo dengan wajah mirip kingkong muncul, genderuwo itu masuk ke dalam tubuh mbk Reni.


Tubuh mbk Reni tidur terlentang di lantai, kingkong yang berada di tubuh mbk Reni keluar ia lalu menghidupkan lilin-lilin itu.


Seketika ruangan yang gelap ini menjadi terang kingkong itu duduk di belakang ku Suryo.


Saat asap dupa menyebar luas di ruangan ini tiba-tiba makhluk besar dan bengis muncul.


"Raja ini anak yang akan di jadi tumbal" kata Ki Suryo.


"Kerja yang bagus Suryo terus berikan tumbal pada ku" suara raja menggelar di dalam ruangan ini.


"Baik raja" jawab Ki Suryo.


Mbk Reni menangis tanpa suara, tubuhnya kaku hanya wajahnya saja yang tidak, ia begitu sulit untuk mengeluarkan suara.


"Jangan lakukan apapun pada mbk Reni, hentikan" teriak ku histeris.


Iblis bengis itu mendekati mbk Reni.


"Jangan apa-apakan mbk Reni, pergi kamu, jangan dekati mbk Reni" teriak ku.


Iblis itu tak mendengar teriakan ku ia terus mendekati mbk Reni.


Iblis itu menarik paksa sukma mbk Reni.


"Jangan" teriak ku.


Terlambat, kata itu yang ada setelah ini, sukma mbk Reni terpisah dari raganya, iblis itu memasukan sukma mbk Reni ke dalam botol kecil lalu memberikannya pada Ki Suryo.


"Simpan baik-baik" kata raja.


Ki Suryo mengambilnya ia mengangguk.