The Indigo Twins

The Indigo Twins
Brukk



"Pembunuh, kau harus mengakui kejahatan mu" kata mbk Ningsih berdiri menghadang dokter Gladis.


"T-tidak" gagap dokter Gladis masih tidak mau mengaku.


Dokter Gladis berlari menerobos mbk Ningsih.


Satu persatu anak tangga telah dokter Gladis lewati.


Mereka semua mengejar dokter Gladis dengan berlari dan ada juga yang terbang.


Rasa takut dan kepanikan semakin besar di diri dokter Gladis yang di hantui oleh korban-korbannya.


Dokter Gladis sudah berada di lantai satu, para suster dan dokter yang melihat dokter Gladis berlari serta terus berkata 'Tidak' menatap aneh kepadanya.


"Berhenti Gladis" teriak pak Suparto menggelegar di seluruh rumah sakit ini bagi orang yang mendengarnya.


Aku dan Angkasa mendengarnya langsung keluar dari tempat persembunyian.


"Ayo kita keluar, kayaknya hantu-hantu itu telah berhasil membuat dokter Gladis turun dari lantai dua" ajak ku.


"Iya ayo" jawab Angkasa.


Kami keluar dari tempat persembunyian.


Dokter Gladis tak menghiraukan teriakan sang ayah, dia terus saja berlari meski banyak suster dan dokter yang di tabraknya saking paniknya.


"Kau pembunuh" teriak mbk Ningsih yang terbang di atas kepala dokter Gladis.


"Tidak aku bukan pembunuh" bantah dokter Gladis.


"Pembunuh? apa dokter Gladis pernah membunuh seseorang?"


"Mungkin saja, liat aja sekarang dia sampai kayak gini"


Suara-suara gosip antara suster hingga ke pasien memenuhi koridor rumah sakit ini yang tak sengaja mendengar ucapan yang keluar dari mulut dokte Gladis barusan.


"Apa dokter Gladis seorang psikopat" kata seorang suster bagian administrasi.


Dokter Gladis menghentikan langkahnya, seketika telinganya panas mendengar hal itu.


"Hei, aku bukan psikopat, beraninya kau mengatakan itu" amuk dokter Gladis menghampiri mereka berdua.


Kedua suster itu merinding melihatnya.


Dokter Gladis menarik kerah baju suster yang sudah berani menggosipinya lalu mencekik leher suster hingga suster itu kehabisan nafas dan kesakitan.


uhuk uhuk uhuk


"Dokter Gladis hentikan ulah konyol mu itu" teriak ku.


Dokter Gladis melempar tubuh suster hingga terjatuh, dokter Gladis menoleh kebelakangnya.


"Belum puaskah kamu menghabisi nyawa orang tua kamu sendiri hah" teriak bunda.


Dokter Gladis tercekat.


"Bagaimana dia bisa tau, perasaan aku telah menghapus semua bukti yang akan bisa menghancurkan" batin dokter Gladis.


"Kau juga telah menghabisi mbk Ningsih yang tengah hamil besar dan juga nenek Sun yang sudah tua renta" kata Angkasa.


"Tak hanya itu, mbk Nela yang berstatus teman mu sendiri juga sudah kau habisi dan Rio pasien mu juga telah kau lenyapkan, masih belum puaskah diri mu berbuat dosa" kata ku.


"Tidakk, aku tidak membunuh mereka, aku bukan pembunuh, aku tidak melakukannya" bantah dokter Gladis.


Bunda tersenyum mengejek.


"Masih belum mengaku juga, apa saya harus memperlihatkan bukti atas kejahatannya anda iya?" tanya bunda.


"Perlihatkan saja, aku tidak takut" yakin dokter Gladis.


"Silahkan saja kalian memperlihatkan bukti atas kejahatan ku, mau kalian cari kemanapun, kalian tidak akan pernah bisa menemukannya karena aku sudah menghapus segalanya sampai bersih tak tersisa sedikitpun" batin Gladis.


Bunda mengeluarkan flashdisk, memasukkan ke dalam laptop milik rumah sakit dan terlihat jelas bagaimana dokter Gladis membunuh kedua orang tuanya.


"Kenapa mereka bisa mendapatkan rekaman itu, perasaan rekaman itu ada di dalam guci yang ada di rumah ku, bagaimana bisa mereka mendapatkannya" batin dokter Gladis shock.


Aku di beritahu oleh mbk Nela tentang rekaman itu dan yang mengambilnya adalah Alisa.


Para dokter, suster serta juga pasien dan orang-orang yang melihat rekaman video itu tak menyangka jika dokter Gladis setega itu.


"Jadi benar dokter gadis yang sudah tega membunuh pak Suparto dan ibu Gendis"


"Pantesan Bu gendis dan pak Suparto gak keliatan lagi, jadi mereka sudah meninggal"


"Ada ya anak kayak gitu yang sudah tega membunuh kedua orang tuanya sendiri"


"Dasar anak tidak tau di untung"


"Dokter apaan kayak gitu, bikin malu tahta seorang dokter saja"


"Ishh ngeri, dokter Gladis benar-benar tega"


"Oh jadi si Rio anak Bu Ningsih dan pak Rafi itu juga di bunuh oleh dokter Gladis rupanya, heiss dasar bersembunyi di balik kesalahan, dulu kita-kita yang hampir di pecat gara-gara meninggalnya si Rio, ternyata dokternya yang sudah tega membalikkan fakta" cibir suster.


"Gak bisa di biarin ini, kita harus kawal dokter gadis sampai masuk ke jeruji besi"


"Iya, pokoknya dokter Gladis harus di beri hukuman yang seberat-beratnya"


Para staf rumah sakit dan juga pasien serta masyarakat tak terima dengan apa yang di lakukan dokter Gladis.


Wajah dokter Gladis kini tak berani menatap dan membantah mereka semua yang terus saja membicarakannya.


Rasa malu menyerang di tubuh dokter Gladis, ia tak menyangka jika rahasia yang sudah di simpannya bertahun-tahun kini dengan mudahnya terbongkar di depan umum.


Tanpa pikir panjang dokter Gladis langsung melarikan diri karena sudah tak tahan menahan rasa malu yang teramat besar.


"Dokter Gladis berhenti" teriak para staf.


Para staf rumah sakit berlari mengejar dokter Gladis.


Ayah yang tengah menjaga pintu depan langsung bangun dari duduk saat mendengar teriakan staf rumah sakit yang mengucapkan nama dokter yang saat ini sedang menjadi buronan para makhluk tak kasat mata.


Dokter Gladis panik saat banyak manusia dan makhluk tak kasat mata yang mengejarnya, ia berlari sekencang yang dia bisa, mata dokter Gladis terus saja fokus ke belakang.


"Pokoknya aku harus segera pergi dari sini, aku tidak mau di mendekam di penjara, aku tidak mau, aku tidak mau, pokoknya tidak" kata dokter Gladis.


Dokter Gladis tidak memerhatikan banyaknya kendaraan yang ada di jalan raya.


Dia tanpa menoleh ke kanan dan kiri dulu langsung menyebrang jalan dan-


"Aaarrggh" teriak dokter Gladis.


Brukk


Tubuh dokter Gladis terlempar jauh, darah mengalir deras di kepala dokter Gladis, baju putihnya penuh dengan darah, hidung dan mulut dokter Gladis di penuhi darah yang mengalir, mata dokter Gladis melotot, dia akhirnya merasakan juga sakitnya sakaratul maut.


"Astagfirullah" kaget mereka yang mengejar dokter Gladis.


"Ya Allah dokter Gladis ketabrak mobil" panik staf rumah sakit.


"Coba kita periksa denyut nadinya, barang kali dokter Gladis masih bisa di selamatkan" kata ayah.


Mereka mendekati tubuh dokter Gladis.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, dokter Gladis sudah meninggal dunia" kata salah satu staf.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, tidak menyangka dokter Gladis telah berpulang dalam keadaan seperti ini, ya Allah ampunilah dosanya" kata ayah.


Salah satu staf rumah sakit menutup mata dokter Gladis yang melotot tajam.


"Kita bawa ke dalam, ayo pak bantu saya" tintah staf RS.


"Kalian urus pelakunya yang sudah menabrak dokter Gladis, minta dia bertanggung jawab" suruh kepala rumah sakit.


"Baik pak" jawab mereka lalu mengamankan penabrak.