The Indigo Twins

The Indigo Twins
Ke rumah mbah Gamik



Kami pulang terlebih dahulu sebelum berangkat ke dalam hutan untuk mencari Laras yang di curigai berada di sana.


"Hilangnya Laras benar-benar aneh, masa dia hilang di dalam rumahnya, siapa orang yang mau nyulik Laras di rumahnya sendiri, ini pasti Laras hilang karena di culik sama makhluk halus" curiga Alisa.


"Aku ngerasa juga gitu, pasti ada makhluk halus yang sudah bawa Laras pergi dari rumahnya, sehingga orang tuanya tidak bisa nemuin dia" sahut Reno.


"Kita harus bisa temuin Laras, kasihan pak Rahmat dan bu Romlah, mereka pasti sangat kehilangan Laras"


"Iya, ayo kita berangkat nyari Laras" ajak Angkasa.


Kami hendak keluar dari dalam rumah dengan mengendong tas tiba-tiba.


"Tunggu kak" suara Dita menghentikan langkah kami.


Kami berbalik badan menghadap ke arahnya.


"Ada apa Dita?"


"Aku mau ikut, aku ingin nyari Laras juga" titah Dita.


"Jangan Dita, bahaya kalau kamu ikut bersama kami" larang Reno.


"Ayolah kak, aku mau ikut nyari Laras, aku ingin tau dia ada di mana" titah Dita yang berusaha membujuk kami agar kami mau memperbolehkan dia ikut dengan kami ke dalam hutan.


"Gimana, apa kita bawa saja Dita ke sana?"


"Jangan za, dia masih kecil, akan bahaya kalau kita bawa dia juga ke sana" larang Angkasa.


"Dita kamu lebih baik di sini saja, di sana itu banyak hewan buas, kamu jangan ikut, bahaya"


"Enggak mau kak, aku mau ikut, aku gak akan nyusahin kakak kok, ayo napa kak, aku ingin ikut ke sana, aku ingin cari Laras, dia temen aku" titah Dita lagi.


"Baiklah kamu boleh ikut asalkan mbk Rinda ngizinin kamu"


"Maaa" panggil Dita.


"Ada apa dit, kenapa teriak-teriak?" mbk Rinda mendengar suara teriakan Dita dari dalam dapur, ia tengah mencuci piring-piring kotor di sana.


"Aku mau ikut Ustadz Fahri ya" teriak Dita.


"Iya" jawab mbk Rinda.


"Mama udah ngizinin, ayo kita berangkat" Ustadz Fahri geleng-geleng kepala melihat Dita yang membawa-bawa namanya agar dapat izin dari mbk Rinda.


"Dasar anak ini" batin Ustadz Fahri.


"Ya udah ayo"


"Bentar, aku mau ambil tas dulu" Dita berlari menuju kamarnya untuk mengambil tas lalu kembali ke depan lagi.


"Ayo kak, aku udah siap" Dita berjalan paling depan sedangkan kami mengikutinya dari belakang.


"Dita Arif sama Rani kemana, kenapa gak kelihatan?" Reno tak melihat adiknya setelah ia kembali dari rumah Laras.


"Palingan main di rumahnya pak Jarwo, kan di sana ada hajatan hari ini, tadi mereka juga ngajak aku ke sana, tapi aku gak mau karena aku mau nyari Laras" jawab Dita.


"Kamu kenal sama Laras?"


"Kamu main berdua aja sama dia?" Alisa tidak tau seperti apa itu Laras, karena dia tidak pernah melihatnya.


"Enggak, ada Rani, Arif, Mita, Dilan, Icha dan aku, setiap hari kita selalu main bareng" jawab Dita.


"Oh banyak, biasanya kamu main di mana?" ingin tau Reno, ia tidak tau sama sekali kemana adiknya bermain selama ini.


"Di ladang belakang rumahnya pak RT, di sana banyak capung, kami nangkap capung di sana, di sana juga banyak ibu-ibu yang nanam jagung dan kacang tanah, kadang-kadang kita cabutin kacangnya" jawab Dita dengan polosnya.


"Eh kok di cabutin, itu kan punya orang" tak habis pikir Ustadz Fahri pada kelakuan mereka.


"Gak apa-apa tadz, orangnya itu pelit, kalau kita minta sama dia, dia gak bakal ngasih, ya udah kita cabutin aja tanpa sepengetahuan dia" jawab Dita.


Kami terkekeh geli mendengar celotehnya.


"Tapi itu gak boleh di lakuin, lebih baik itu minta langsung sama orangnya, jangan main ambil saja, itu namanya mencuri" tak habis pikir Ustadz Fahri pada kelakuan bocah-bocah cilik itu.


"Kan aku udah bilang orangnya gak akan ngasih, dia itu pedit, pelit bin kritkit, dia gak akan ngasih kalaupun kita minta padanya" jawab Dita dengan terus berjalan menuju hutan.


Kami tak dapat menahan tawa saat Dita kesal pada pemilik tanaman kacang tanah yang setiap hari ia ambil bersama teman-temannya.


"Ada-ada saja kamu ini" geleng-geleng kepala Ustadz Fahri ketika mendengar hal itu.


"Dita emang siapa pemilik tanaman kacang itu?" Alisa sangat penasaran pada pemiliknya.


"Siapa lagi kalau bukan Ki Jarwo itu" jawab Dita.


"Oh jadi pak Jarwo yang punya ladang itu, baru tau aku"


"Ketinggalan berita terus kakak ini, mangkanya keluar, biar tau ada apa saja di desa ini, biar gak ketinggalan berita terus" Dita mengatai ku karena memang aku tidak pernah keluaran rumah kecuali bekerja dan sekolah.


"Kakak itu harus sekolah, habis sekolah kerja, jadi gak ada waktu buat lihat-lihat kampung ini, jadi wajar aja kalau gak tau berita-berita yang ada di desa"


"Pantesan aja masalah mbah Gamik kamu gak tau" Angkasa mewajarkan hal itu.


"Bukannya gak tau, aku memang gak pernah di ceritain sama bunda tentang mbah Gamik, palingan bunda gak cerita sama kami karena takutnya kami nekat nyari rumahnya berdua"


"Iya, bahkan kami juga gak tau kalau di desa ada dukun beranak, bunda kebanyakan ngurung kita di rumah, karena takut kita lihat-lihat makhluk dan penasaran, kemudian mencari tau tentangnya, mangkanya kami sampai sekarang jarang banget keluar rumah dan juga bunda pasti takut kami hilang seperti Intan yang sampai sekarang masih belum ketemu" tambah Alisa.


"Pantesan aja gak atau apa-apa yang terjadi di desa sendiri" kami tersenyum karena memang kami selalu di kurung sama ayah dan bunda.


Langkah kami berhenti karena di depan kami ada jalanan setapak yang mengarah pada rumah mbah Gamik.


"Kita lewat jalanan ini, jalanan ini pasti akan membawa kita ke rumah mbah Gamik" suruh Ustadz Fahri.


Kami mengangguk lalu kami berjalan melewati jalanan setapak itu.


"Dita kamu tau kan seperti apa Laras itu?" Ustadz Fahri kembali memastikan hal itu.


"Iya tadz, aku tau seperti apa Laras itu, karena kita memang sering main bareng, nanti kalau aku lihat dia, aku akan langsung kasih tau kalian" jawab Dita.


"Bagus"


Kami terus berjalan melewati jalanan setapak yang di kanan dan kiri hanya ada tanaman-tanaman yang tumbuh liar.


Suara-suara hewan-hewan kecil terdengar riuh di dalam hutan ini, namun hal itu tak menyulitkan kami untuk terus berjalan menuju rumah mbah Gamik yang berada di tengah-tengah hutan.