The Indigo Twins

The Indigo Twins
Suara tangisan di ladang



"Hanya kamu yang bisa, nanti juga kami akan bantuin kok, kamu tenang aja" kata ku.


"Oke deh kalau kayak gitu" jawab Alisa.


Mobil terus melaju hingga sampai di tempat yang kami inginkan.


"Ayo turun, kita udah nyampe" kata Ustadz Fahri.


Kami mengangguk lalu turun dari dalam mobil.


"Wow banyak banget sayur-sayurannya, malah seger lagi" kata Alisa yang melihatnya banyaknya sayuran dan buah-buahan yang beragam jenis di depannya.


"Ayo kita pilih sayuran mana yang mau kita beli" ajak ku.


Mereka mengangguk lalu membantu ku memilih sayuran yang di perlukan dengan di temani oleh sang pemilik ladang.


"Pak kami ingin membeli sayuran dan juga buah-buahan, apa kami boleh metik sendiri?" tanya ku.


"Boleh dek, adek pilih saja mana yang mau di beli, nanti tarok di keranjang, kalau sudah selesai nanti temui saya di sana" jawab pemilik ladang dengan menunjuk ke arah gudang tempat membayar.


"Baik pak" jawab kami.


Pemilik ladang itu kemudian kembali ke dalam gudang.


Kami mengambil keranjang itu.


"Za aku mau ke sana sama Reno ya" kata Alisa.


"Iya, tapi jangan jauh-jauh" jawab ku.


"Oke, ayo ren" ajak Alisa.


Mereka berdua pergi meninggalkan kami.


Aku, Angkasa dan Ustadz Fahri memilih sayuran yang bagus untuk di jadikan bahan makanan di restoran.


Saat aku tengah memetik buah tomat tiba-tiba aku mendengar sesuatu.


hiks


hiks


hiks


Suara tangisan seseorang yang terdengar lirih namun mampu membuat aktivitas ku terhenti.


"Kok kayak ada orang yang nangis" kata ku.


Aku melihat ke kanan dan kiri ku namun tidak ada siapapun.


"Gak ada apapun, lalu siapa yang nangis barusan?" tanya ku masih bingung dengan segalanya.


"Apa aku cuman salah dengar aja" pikir ku.


Aku masih melihat sekeliling ku yang banyak sekali sayuran yang memenuhi ladang.


"Kayaknya aku memang salah dengar deh" kata ku.


Aku kembali memetik buah tomat yang sudah siap untuk di panen.


hiks


hiks


hiks


Suara tangisan itu kembali ku dengar.


"Tuh kan ada suara orang yang nangis, tapi di mana, kenapa gak ada di sini?" tanya ku semakin penasaran pada sosok pemilik suara tangisan itu yang membuat aktivitas ku terus saja terhambat.


"Apa yang kamu cari?" tanya Ustadz Fahri yang melihat aku celingukan sejak tadi.


"Tadi Aliza dengar ada suara orang nangis, tapi saat Aliza cari gak ada Ustadz" jawab ku.


"Mungkin kamu salah dengar" kata Ustadz Fahri.


"Tak gak mungkin tadz, suara tangisan itu udah dua kali Aliza dengar" yakin ku.


"Ada apa za?" tanya Angkasa menghampiri kami.


"Ini, Aliza dengar ada orang nangis di sekitar sini" jawab Ustadz Fahri.


"Tapi saat aku cari gak ada, aneh bukan" kata ku.


"Mungkin tangisan orang itu yang kamu dengar" tunjuk Angkasa pada gadis pucat yang berdiri di dekat pohon jagung.


Kami semua melihat ke arah gadis pucat itu.


"Tolong aku" teriak gadis pucat itu lalu menghilang.


"Loh kok dia ngilang gitu aja sih, aku kan belum sempat nanya kenapa dia ngikutin kita terus" kata ku.


"Mbk tau gak siapa dia sebenarnya, kenapa sejak tadi dia terus ngikut kami?' tanya ku.


"Dia hanya arwah yang ingin meminta bantuan kalian, kalian harus bantuin dia biar dia tidak mengganggu kalian lagi' jawab mbk Hilda.


"Besok kami akan cari tau siapa dia sebenarnya, kami rasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kematiannya sehingga dia bergentayangan" kata ku.


"Iya, besok kita harus cari tau" jawab Angkasa.


"Hari sudah mulai sore, kita harus pulang, sebelum matahari terbenam" kata Ustadz Fahri yang melihat ke arah langit yang sudah berubah berwarna jingga.


"Iya, ayo kita temui bapak itu, lalu bayar baru setelah itu kita pulang" jawab Angkasa.


"Eh di mana Alisa, kenapa gak ada di sekitar sini?" tanya ku yang tidak menemukan dia.


"Tadi dia pamit mau nyari buah-buahan kenapa sampai sekarang gak balik-balik" kata Angkasa.


"Apa mungkin Alisa tersesat" kata ku.


"Gak mungkin, kalian tunggu saja di sini, biar kami yang mencari Alisa" jawab mbk Santi.


"Iya tolong cari Alisa sama Reno dan bawa mereka kembali ke sini" kata ku.


"Iya" jawab mereka lalu menghilang dari hadapan kami.


"Ayo kita tunggu di sana hari sudah mulai menggelap, kita harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum ada makhluk yang ngikutin kita hingga ke rumah" ajak Ustadz Fahri.


Kami mengangguk lalu berjalan mendekati bapak pemilik ladang dengan membawa sayur-sayuran yang sudah kami petik.


Di sisi lain.


Alisa dan Reno terus memilih buah-buahan yang mereka inginkan dengan senang hati tanpa melihat jika langit sudah mulai menggelap.


"Aku udah gak sabar deh makan buah naga ini, nanti ketika udah nyampe di rumah aku mau buat jus buah naga" kata Alisa.


"Iya, aku juga udah gak sabar makan buah naga" jawab Reno.


"Ren lihat di sana buahnya pada besar-besar, ayo kita ambil juga" ajak alis.


"Ayo" setuju Reno.


Keduanya berlari mendekati pohon buah naga yang buahnya pada besar dan merah merona dengan di sertai senyuman manis.


"Wow besar banget buahnya" kata Alisa.


"Kita petik sekalian, biar bisa puas makannya" kata demo.


Alisa mengangguk setuju lalu memetik buah naga dan menaruhnya di keranjang yang di pegang Reno.


Alisa melihat ke barat, seketika senyuman yang mereka di bibirnya langsung hilang.


"Sa kita ke sana yuk, di sana kayaknya ada buah naga yang besar" ajak Reno.


Alisa diam tidak bergeming.


Reno yang melihat Alisa diam saja mengerutkan alis.


"Sa kamu kenapa, kok diam?" tanya Reno penasaran.


"I-itu ren" tunjuk Alisa pada seorang wanita yang bajunya di penuhi darah tengah menatap ke arahnya dengan tatapan yang sangat tajam.


Reno melihat ke arah yang Alisa tunjukkan.


"Kok gak ada apapun" jawab Reno yang memang tidak dapat melihat penampakan itu.


"Emang ada apaan sih?" tanya Reno yang sudah sangat penasaran.


Alisa tidak menjawab dan terus melihat ke arah hantu wanita yang sangat menakutkan itu.


hihihihihihihi


Tawa hantu itu menggelegar dahsyat di telinga Alisa.


"Arrrrgghh Reno" teriak Alisa langsung memeluk tubuh Reno saat hantu wanita itu melototinya.


"Kamu kenapa sa, ada apa, jawab pertanyaan aku?" tanya Reno yang langsung khawatir ketika melihat Alisa yang histeris.


"Huhu Reno di sana ada hantu" tangis Alisa yang sangat takut pada hantu yang begitu seram di matanya.


"Di mana?" tanya Reno yang melihat ke sekeliling namun tidak ada yang ia temukan.


"Itu di sana" tunjuk Alisa pada hantu yang masih diam di tempat.


Reno melihat ke arah yang Alisa tunjukkan namun tidak ada apapun yang ia lihat.


"Gak ada apapun di sana sa, mana hantu yang kamu maksud?" tanya Reno.


"Ada di sana, tolong aku Reno, aku takut" tangis Alisa membenamkan wajahnya ke dada Reno.


"Kamu jangan takut, ada aku di sini" kata Reno berusaha menenangkan Alisa yang terus saja menangis.