
Dokter Gladis menarik kembali uluran tangannya, dokter Gladis tersenyum penuh makna tersirat di dalamnya.
"Gak mungkin mas Rafi selingkuhin aku cih, bukan kamu yang di selingkuhin, tapi aku, aku yang sudah di selingkuhin di sini dan itu semua gara-gara kamu, kamu yang sudah mengambil mas Rafi dari genggaman ku, kamu itu tidak tau diri apa tidak tau malu hah, memang dasar pelakor sejati" amuk dokter Gladis yang sudah tak tahan dengan kebenaran yang berhasil membuatnya terguncang dahsyat.
"Maaf mbk di sini aku tidak pernah merebut mas Rafi sedikitpun, mas Rafi sendiri yang ingin menikahi ku berarti di sini yang menjadi pelakor itu mbk bukan aku" jawab mbk Ningsih.
"Hei beraninya kamu menyebut ku pelakor hah, di sini itu kamu yang menjadi perusak hubungan orang, aku dan mas Rafi sudah berpacaran selama 5 tahun, jauh sebelum kamu hadir di hubungan kami, lihat ini" kata dokter Gladis menunjukkan sesuatu.
Mbk Ningsih menggeser-geser foto yang ada di dalam galeri, di sana terlihat dengan jelas Rafi suaminya yang berada di dalamnya.
Foto-foto itu berhasil membuat mbk Ningsih terguncang, tetapi dia masih bisa mengontrol keadaannya.
"Enggak mungkin ini mas Rafi, ini pasti editan, mbk jangan ngaku-ngaku ya, aku masih tidak mempercayai apa yang mbk katakan sebelum mas Rafi sendiri yang akan mengatakan segalanya" jawab mbk Ningsih.
"Saya tidak ngaku-ngaku, ini semua fakta" bentak keras dokter Gladis yang membantah keras tuduhan mbk Ningsih.
"Jika memang mas Rafi berpacaran dengan mbk selama itu, pasti mbklah yang di jadikan istrinya bukan saya, berarti mas Rafi hanya menjadikan mbk sebagai mainan saja di kala ia sedang kesepian selama ini" jawab mbk Ningsih.
"Hai jaga bicara mu wanita kotor, dasar pelakor, memang benar-benar wanita murahan, Rafi membayar berapa sehingga kau bersedia untuk melayaninya hahh" hina dokter Gladis.
Plakk!
Tamparan keras mendarat di pipi dokter Gladis, dokter Gladis menatap tajam ke arah wanita yang sudah berani menamparnya.
Glup!
Mbk Ningsih menelan ludah pahit saat melihat sorot mata dokter Gladis yang seperti sudah siap menerkamnya detik ini juga.
Dokter Gladis mencekal dagu mbk Ningsih dengan sangat kuat.
Dokter Gladis tak terima dengan tindakan mbk Ningsih yang barusan menamparnya.
"Sakit, lepaskan" berontak mbk Ningsih yang berusaha untuk terbebas dari cengkraman dokter Gladis.
Dokter Gladis dengan dendam yang menggebu mengambil plastik kecil yang berisikan pil merah di dalamnya.
"Buka mulut" bentak dokter Gladis.
Mbk Ningsih menutup rapat-rapat mulutnya.
"Apapun yang terjadi, aku tidak mau menuruti iblis ini karena aku tau jika obat-obatan itu pasti bisa membahayakan aku dan juga anak yang saat ini masih berada di dalam kandungan ku" batin Ningsih.
Dokter Gladis yang sudah murka langsung memaksa mbk Ningsih untuk membuka mulut dengan caranya sendiri.
Dokter Gladis kemudian mengambil tiga botol cairan bening, membuka tutupnya setelah itu memasukkan juga ke dalam mulut mbk Ningsih.
"Telan" tintah dokter Gladis memaksa.
Dengan terpaksa mbk Ningsih menelan obat yang di berikan dokter Gladis karena dokter Gladis menggunakan cara licik untuk membuatnya menelannya.
Dokter Gladis menekan perut mbk Ningsih dengan sangat keras, mbk Ningsih tidak ingin calon buah hatinya kanapa-kenapa dengan terpaksa dia menelannya.
Uhuk Uhuk Uhukk
Obat-obat yang di berikan mbk Gladis terasa tidak nyaman di tenggorokan mbk Ningsih.
Tubuh mbk Ningsih seketika panas saat obat itu telah mendarat di dalam perutnya.
Tiba-tiba mbk Ningsih merasakan sakit yang teramat sakit di perutnya, pelan-pelan mbk Ningsih terduduk di bawah dengan kondisi tubuh lemas.
Senyuman penuh kemenangan merekah di bibir dokter Gladis yang melihat mbk Ningsih yang kesakitan.
"Sakit?" tanya dokter Gladis.
Mbk Ningsih mengangguk di saat wajahnya di penuhi keringat-keringat dingin.
"Haha ini adalah balasan dari segala yang telah kamu lakukan kepada ku, kau akan merasakan sakit yang teramat sangat setelah ini lantaran kau sudah berani mengambil mas Rafi dari ku" kata dokter Gladis dengan senyuman menyeringai yang terukir di wajahnya.
"Aku tidak merebut mas Rafi aaauw" rintih mbk Ningsih yang perutnya semakin bertambah sakit.
Tatapan menyeramkan dokter Gladis masih terlihat dengan jelas di mata mbk Ningsih.
"Aku jamin anak yang ada di dalam kandungan mu tidak akan selamat" kata dokter Gladis dengan satu tangannya menunjuk ke arah perut besar mbk Ningsih.
Setelah mengatakan itu dokter Gladis melangkah meninggalkan mbk Ningsih yang sendang merintih kesakitan di bawah.
"Mbk tolongin aku aauw" mohon mbk Ningsih yang wajahnya sudah pucat pasi menahan sakitnya perut yang seperti di cabik-cabik.
Dokter Gladis tidak menghiraukan ucapan mbk Ningsih yang terus saja berteriak-teriak tidak jelas.
"Ningsih" teriak seorang nenek-nenek yang baru pulang membawa kayu bakar.
Dokter Gladis berhenti, ia berbalik saat mendengar suara seseorang yang jelas bukan suara mbk Ningsih.
"Jangan tolongin dia, kalau kau tidak mau merasakan dampaknya" teriak dokter Gladis.
Nenek itu menoleh ke arah dokter Gladis yang sudah meneriakinya.
"Nenek akan tetap nolongin Ningsih yang sedang kesakitan, nenek tidak akan mendengarkan mu wanita jahat" kata nenek Sun.
Wajah dokter Gladis kembali murka mendengar hal itu, ia mendekati nek Sun.
'Kau mau bermain-main dengan ku yang nenek tua rasakan ini' batin Gladis.
Tanpa pikir panjang dokter Gladis langsung menyuntikan sesuatu ke dalam tubuh nenek sun.
"Nenek" teriak mbk Ningsih yang melihat neneknya tidak sadarkan diri.
"Kini kalian berdua akan tamat" senyum penuh kemenangan merekah di bibir dokter Gladis, dia melangkah meninggalkan mereka berdua.
"Mbk jangan tinggalin aku, tolongin aku mbk, sakit" teriak mbk Ningsih yang melihat dokter Gladis semakin menjauhi dirinya.
Dokter Gladis tak memperdulikan mbk Ningsih yang terus saja berteriak-teriak, dia tetap berjalan tak menoleh sedikitpun, tidak ada rasa iba di hatinya saat ini.
Mbk Ningsih semakin mengeraskan tangisannya saat melihat tubuh dokter Gladis yang kini hilang dari pandangannya.
Mbk Ningsih perlahan tidur di lantai, rasa sakit di perut dan juga hatinya semakin terasa seiring berjalannya waktu.
"Mas Rafi di mana, mas tolongin aku dan calon bayi kita" kata mbk Ningsih penuh harapan
Tak mungkin mas Rafi suaminya menolong mbk Ningsih saat ini, karena saat ini pastinya mas Rafi berada di tengah laut yang luas.
"Ya Allah Ningsih ingin melahirkan anak yang saat ini masih berada di dalam kandungan hamba Allah, hamba mohon ya Allah" batin mbk Ningsih.
Mata mbk Ningsih melihat langit-langit, sesak di dada semakin terasa, pelan-pelan kegelapan menghampiri mbk Ningsih.
Mbk Ningsih sudah tidak bisa di selamatkan lagi.
Mulut mbk Ningsih dan nenek sun mengeluarkan busa setelah di berikan cairan bening itu oleh dokter Gladis.